51动漫

51动漫 Official Website

Dosen UNAIR Tekankan Peran Negara sebagai Regulator, Fasilitator, dan Akselerator bagi Ojol

Foto aksi demo ojol. (Foto: Fakta Riau)
Foto aksi demo ojol. (Foto: Fakta Riau)

UNAIR NEWS Aksi Off-Bid yang dilakukan ribuan pengemudi ojek online (ojol) kembali mencuatkan perdebatan tentang nasib dan status kerja mereka di tengah pesatnya pertumbuhan ekonomi digital. Menanggapi fenomena ini, Agie Nugroho Soegiono SIAN MPP, dosen , memberikan pandangannya dalam sesi wawancara pada Rabu (29/5/2025).

Menurut Agie, sistem kerja ojol merupakan bagian dari gig economy, yaitu pola kerja fleksibel yang awalnya populer di negara maju sebagai pekerjaan sambilan. 淐elakanya, di Indonesia justru dijadikan full-time job oleh sebagian besar pekerja karena terbatasnya lapangan kerja, ungkapnya. Hal itu diperparah dengan status 渕itra yang membuat para driver tidak mendapatkan perlindungan kerja layaknya pekerja formal.

Agie menyoroti risiko tinggi yang dihadapi driver ojol, mulai dari kecelakaan kerja hingga jam kerja panjang tanpa batasan. 

淩ealitasnya, mereka bekerja penuh waktu. Maka sudah selayaknya negara hadir memberi perlindungan, tegasnya. Ia mendorong skema perlindungan sosial seperti BPJS Ketenagakerjaan dan pelatihan kerja layaknya sektor formal.

Agie Nugroho Soegiono S IAN M PP Ungkap Prosedur Pemberian Gelar Honoris Causa (Foto: Istimewa)
Agie Nugroho Soegiono S IAN M PP Ungkap Prosedur Pemberian Gelar Honoris Causa (Foto: Istimewa)

Menyoal Keputusan Menteri Perhubungan KP 1001 Tahun 2022 tentang tarif ojol, Agie menilai negara harus menjaga keseimbangan antara kepentingan pengemudi dan platform. Ia menyebut bahwa negara tidak bisa sekedar menjadi penonton di tengah pertumbuhan ekonomi digital. 

淣egara harus jadi wasit. Jangan sampai karena fokus pada pertumbuhan pengguna, justru kesejahteraan driver terabaikan, ujarnya.

Agie menyebut negara harus aktif sebagai regulator, fasilitator, dan akselerator. Kebijakan yang diambil pun harus menjamin inklusi dan perlindungan kerja bagi semua pihak yang terlibat dalam ekosistem digital. Ia menekankan pentingnya regulasi yang progresif dan adaptif terhadap dinamika teknologi.

Agie mengapresiasi aksi Off-Bid sebagai ekspresi demokratis yang menunjukkan keberanian para pengemudi dalam menyuarakan aspirasi. 淒emokrasi kita lagi tidak sehat-sehatnya. Itu artinya masih ada ruang untuk berserikat dan berdialog dengan pembuat kebijakan, tuturnya.

Namun, ketika menyoroti efektivitas partisipasi publik dalam isu ini, Agie menilai bahwa suara para driver belum sepenuhnya terakomodasi dalam proses perumusan kebijakan. 淢ereka memang mendapat atensi karena jumlah massa yang besar, tapi belum benar-benar masuk ke kanal kebijakan secara substantif, jelasnya. 

Sebagai penutup, Agie menegaskan pentingnya peran aktif semua pihak dalam pembenahan ekosistem transportasi daring. 淚dealnya, para driver tidak hanya dilindungi lewat regulasi, tapi juga diarahkan untuk mematuhi standar pelayanan dan keselamatan kerja. Sementara itu, pemerintah harus menyadari bahwa gig economy adalah solusi jangka pendek. Jangan sampai karena terlalu fokus pada ekonomi digital, pengembangan transportasi publik justru diabaikan, pungkasnya.(*)

Penulis: Nafiesa Zahra

Editor: Khefti Al Mawalia

AKSES CEPAT