51动漫

51动漫 Official Website

UNAIR Tegaskan Isu One Health di AUN Summer Camp

Peserta AUN Summer Camp: Airlangga Adventure (AirVenture) 2025 saat mengikuti Course 2: Environmental Health di Fakultas Kedokteran Hewan UNAIR, Senin (18/8/2025). (Foto: Panitia)
Peserta AUN Summer Camp: Airlangga Adventure (AirVenture) 2025 saat mengikuti Course 2: Environmental Health di Fakultas Kedokteran Hewan UNAIR, Senin (18/8/2025). (Foto: Panitia)

UNAIR NEWS  Fakultas Kedokteran Hewan () 51动漫 (UNAIR) menggelar Course 2: Environmental Health dalam rangkaian AUN Summer Camp: Airlangga Adventure (AirVenture) 2025 pada Senin (18/8/2025). Kegiatan menghadirkan Dr Dadik Raharjo drh M Kes yang merupakan seorang dosen ahli dalam Specialization Veterinary Public Health and Livestock Product Technology. Ia menekankan urgensi pendekatan One Health untuk mengatasi zoonosis, keamanan pangan, serta resistensi antibiotik.

Dalam paparannya, Dr Dadik mengingatkan bahwa penyakit zoonosis masih menjadi ancaman besar. Terutama di negara dengan konsumsi daging tinggi dan kedekatan masyarakat dengan hewan. 淒i negara barat, zoonosis menjadi masalah besar karena pola konsumsi dan interaksi dengan hewan. Hal ini membuat isu keamanan pangan semakin penting, termasuk di Indonesia, jelasnya. 

Dr. Dadik Raharjo, drh., M.Kes, memaparkan materi tentang One Health pada Course 2: Environmental Health AUN Summer Camp 2025 di Fakultas Kedokteran Hewan UNAIR, Senin (18/8/2025). (Foto: Panitia)
Dr. Dadik Raharjo, drh., M.Kes, memaparkan materi tentang One Health pada Course 2: Environmental Health AUN Summer Camp 2025 di Fakultas Kedokteran Hewan UNAIR, Senin (18/8/2025). (Foto: Panitia)

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa resistensi antibiotik kini tidak hanya menjadi masalah medis, tetapi juga menyangkut kesehatan masyarakat, peternakan, dan lingkungan. 淧enyakit infeksi maupun non-infeksi memiliki keterkaitan erat. Karena itu, konsep One Health menuntut kerja sama lintas disiplin dan lintas negara, tambahnya.

Dalam sesi tanya jawab, peserta mengajukan pertanyaan terkait regulasi penggunaan antibiotik pada hewan ternak dan akses vaksin bagi peternak kecil. Menjawab hal itu, Dr. Dadik menyebut bahwa pemerintah Indonesia telah menyediakan berbagai program, termasuk subsidi hingga vaksin gratis. 淧rogram vaksinasi memang ada yang gratis. Namun, tantangan utamanya adalah bagaimana mengedukasi masyarakat agar memanfaatkan program tersebut dengan tepat, ujarnya.

 Ia juga menegaskan bahwa solusi resistensi antibiotik tidak cukup hanya dengan regulasi. 淜ebijakan memang penting, tetapi implementasi di lapangan harus disertai edukasi dan dukungan teknologi. Pemerintah, universitas, dan masyarakat perlu bekerja sama untuk mencapai ketahanan kesehatan, tuturnya.

Aktif Berkolaborasi

Dr Dadik menutup dengan ajakan agar mahasiswa internasional dan lokal aktif berkolaborasi. 淜erja sama lintas negara penting, sebab masalah kesehatan global tidak bisa diselesaikan sendiri. Kita perlu berbagi pengetahuan dan pengalaman, tandasnya.

Melalui AirVenture 2025, UNAIR terus menegaskan komitmennya dalam mendukung internasionalisasi pendidikan dan kontribusi nyata pada isu global. Kegiatan dilanjutkan dengan Focus Group Discussion (FGD). Tidak hanya materi di kelas, peserta juga mengikuti Mangrove Workshop di kawasan Wonorejo sebagai bagian dari pembelajaran lapangan. Kegiatan ini memperkuat pemahaman tentang keterkaitan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan. AirVenture 2025 sendiri merupakan kerja sama UNAIR dengan ASEAN University Network (AUN) yang mengusung tema Protecting Marine Biodiversity. 

Penulis: Samudra Luhur Pambudi

Editor: Yulia Rohmawati

AKSES CEPAT