51动漫

51动漫 Official Website

UNAIR Tegaskan Urgensi Perubahan Perilaku Pengelolaan Limbah di DAS Brantas

Pemaparan materi mengenai pengelolaan air limbah oleh Prof Eddy pada Workshop Menata Hilir Brantas (foto: dok. pribadi)
Pemaparan materi mengenai pengelolaan air limbah oleh Prof Eddy pada Workshop Menata Hilir Brantas (foto: dok. pribadi)

UNAIR NEWS Sebagai salah satu Daerah Aliran Sungai (DAS) strategis di Indonesia, Sungai Brantas mengalami tantangan dalam menghadapi permasalahan sampah dan pencemaran sungai.Dalam upaya menyelesaikan permasalahan tersebut, Lembaga Pengabdian Masyarakat Berkelanjutan (LPMB) 51动漫 (UNAIR) menyelenggarakan workshop inovatif. Workshop ini bertajuk Menata Hilir Brantas: Penyusunan Roadmap Rencana Aksi Pengelolaan DAS Brantas dalam Mendukung SDGs 6. Kegiatan ini turut menghadirkan Prof Ir Eddy Setiadi Soedjono Dipl SE MSc PhD selaku Pakar Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya.

Tantangan Pengelolaan Sampah dan Air Limbah di Hilir Brantas

Pada sesi pemaparan, Prof Eddy menjelaskan bahwa hampir 50% penduduk Jawa Timur hidup di wilayah DAS Brantas sehingga risiko pencemaran semakin besar. Kondisi ini semakin diperparah oleh ketiadaan TPA regional, sehingga pengelolaan sampah dan limbah masih terbatas pada skala kabupaten/ kota.

Prof Eddy juga menyoroti kewenangan sampah yang terpisah, yang mana sampah di darat menjadi tanggung jawab DLH, sementara sampah di sungai merupakan kewenangan PU. Banyaknya instansi yang menangani kewenangan sampah, ia anggap menyebabkan banyak lempar-lemparan institusi.

淒i sepanjang aliran Sungai Brantas, berbagai jenis sampah seperti plastik, kertas, kain, kayu, hingga sisa makanan masih mendominasi. Persoalan terbesar justru datang dari limbah sisa makanan, yang jumlahnya paling banyak namun jarang mendapat sorotan. Pada akhirnya, seluruh sisa makanan tersebut berpotensi masuk ke aliran Brantas tanpa pengelolaan memadai. Oleh karena itu, strategi konservasi juga mencakup pengurangan sampah makanan melalui produksi dan penyajian yang sesuai kebutuhan, ungkap Prof Eddy.

Urgensi  Konservasi dan Pengelolaan Air Limbah untuk Mendukung SDG 6

Lebih lanjut, Prof Eddy menyampaikan bahwa konservasi DAS Brantas tidak hanya bertumpu pada pembangunan infrastruktur, tetapi harus beriringan dengan perubahan perilaku masyarakat. Prof Eddy menyebut secara global 6080% air minum akan berubah menjadi air limbah. Indonesia termasuk Surabaya belum memiliki sistem perpipaan limbah yang memadai.

Prof Eddy menegaskan bahwa perubahan pola pikir masyarakat sangat penting, terutama terkait praktik pembuangan air limbah ke got. 淎ir mandi dan air cucian yang kita buang membuat biaya pengolahan air menjadi jauh lebih mahal karena sudah tercemar sejak awal. Perubahan mindset dan kebijakan mengenai fungsi got perlu berlangsung. Karena got bukan tempat pembuangan limbah rumah tangga dalam sanitasi yang benar, air limbah harus dialirkan melalui sistem perpipaan tertutup, jelas Prof Eddy.

Penulis: Kania Khansa Nadhifa Kallista

Editor: Ragil Kukuh Imanto

AKSES CEPAT