Munculnya Pandemi COVID-19 pada tahun 2019 dapat dianggap sebagai ancaman bagi rumah tangga yang kehilangan pekerjaan dan pendapatan (Kundu dkk., 2021). Banyak rumah tangga mengalami pengangguran, sementara yang lain berisiko kehilangan pekerjaan, terutama mereka yang hidup dalam kemiskinan dengan tabungan terbatas atau bahkan tidak ada sama sekali. Oleh karena itu, pemerintah di berbagai negara (baik negara maju maupun berkembang) telah mengambil berbagai tindakan untuk mengurangi penularan penyakit ini. Terdapat kekhawatiran bahwa karantina wilayah dapat menimbulkan konsekuensi sosial dan ekonomi yang tidak terduga bagi masyarakat miskin. Meskipun karantina wilayah tampaknya efektif dalam mengendalikan risiko pandemi, hal ini memiliki implikasi ekonomi yang signifikan bagi berbagai negara.
Di Nigeria, penerapan langkah-langkah karantina wilayah mengakibatkan penurunan signifikan jumlah rumah tangga dengan anggota yang bekerja, turun dari 86 persen menjadi 42 persen. Penurunan ini, yang merupakan akibat langsung dari perlambatan ekonomi yang disebabkan oleh pandemi, telah menyebabkan hilangnya pendapatan dan kerawanan pangan, serta peningkatan jumlah rumah tangga yang hidup dalam kemiskinan di negara-negara berkembang. Penurunan jumlah rumah tangga yang bekerja ini sangat mengkhawatirkan karena mewakili sebagian besar populasi yang telah kehilangan sumber pendapatan utamanya, yang menyebabkan peningkatan signifikan dalam tingkat kemiskinan di negara tersebut. Hal ini sangat memprihatinkan di Nigeria, sebuah negara dengan sekitar 83 juta jiwa yang hidup dalam kemiskinan.
Lapangan kerja pertanian dominan di Nigeria Utara, sementara lapangan kerja berupah dominan di Nigeria Selatan. Lapangan kerja pertanian lebih terdampak signifikan oleh karantina wilayah dibandingkan lapangan kerja berupah. Wilayah utara Nigeria mengalami kehilangan upah dan lapangan kerja pertanian yang lebih besar dibandingkan wilayah selatan Nigeria akibat karantina wilayah.
Wilayah pedesaan Nigeria mengalami kehilangan lapangan kerja pertanian yang lebih besar dibandingkan wilayah perkotaan akibat karantina wilayah. Wilayah pedesaan Nigeria mengalami kehilangan lapangan kerja berupah yang lebih besar dibandingkan wilayah perkotaan akibat karantina wilayah. Karantina wilayah berdampak negatif terhadap lapangan kerja pertanian, baik di wilayah pedesaan maupun perkotaan. Karantina wilayah tidak berdampak signifikan terhadap lapangan kerja berupah, baik di wilayah pedesaan maupun perkotaan.
Hal ini menggarisbawahi kebutuhan mendesak akan intervensi pemerintah untuk mengatasi krisis ketenagakerjaan, khususnya di wilayah utara dan pedesaan. Studi ini juga merekomendasikan agar langkah-langkah pengendalian pandemi di masa mendatang harus disertai dengan strategi untuk memitigasi dampak negatifnya terhadap perekonomian, seperti penyediaan jaring pengaman sosial. Rekomendasi ini krusial untuk memastikan ketahanan ekonomi Nigeria dalam menghadapi krisis di masa mendatang.
JUdul : On the wage and agricultural employment amid the COVID-19 lockdown in Nigeria
Penulis : Abdullahi Shafii Sayuti , Rossanto Dwi Handoyo , Kabiru Hannafi Ibrahim , Nur Istifadah , Achmad Solihin and Allen Pranata Putra
Link : https://www.tandfonline.com/doi/full/10.1080/23322039.2025.2582272?scroll=top&needAccess=true
DOI :





