51动漫

51动漫 Official Website

Upaya Meningkatkan Budaya Keselamatan Lansia di Panti Werdha

Foto by Anlene

Perhatiandalam membangun budaya keselamatan di panti werdha relatif kurang jika dibandingkan di rumah sakit. Keselamatan pasien dan mutu pelayanan kesehatan yang optimal adalah tujuan yang selalu diharapkan oleh manager, penyedia layanan kesehatan, pihak jaminan kesehatan, pasien, keluarga, dan masyarakat (Arnetz et al., 2011). Namun konsep 渇irst do no harm tidak cukup untuk menghentikan munculnya masalah keselamatan pasien seperti kesalahan pengobatan dan resiko jatuh (Gartshore et al., 2017). Panti werdha perlu meningkatkan keselamatan lansia dengan membuat suatu sistem asuhan yang lebih aman, meliputi asesmen resiko, identifikasi dan pengelolaan risiko pasien, pelaporan dan analisis insiden, kemampuan belajar dari insiden dan tindak lanjutnya, serta implementasi solusi untuk meminimalkan timbulnya risiko dan mencegah terjadinya cedera yang disebabkan oleh kesalahan akibat melaksanakan suatu tindakan atau tidak mengambil tindakan yang seharusnya diambil (Castle et al., 2011)

Pengaturan budaya keselamatan di panti werdha fokus pada kepatuhan terhadap standar peraturan pemerintah dan perencanaan perawatan (Castle & Ferguson, 2010). Panti werdha menjadi tempat yang rentan terjadi kesalahan dan kejadian yang merugikan. Fungsi kognitif dan fisik lansia yang menurun berakibat pada menurunnya peran sosial sehingga meningkatkan ketergantungan terhadap orang lain (Stone & Harahan, 2010). Perawatan lansia di panti werdha juga memerlukan penggunaan beberapa obat karena lansia memiliki beberapa masalah kesehatan termasuk gangguan kognitif dan sensorik yang dapat menyebabkan peningkatan risiko kesalahan medis (Castle et al., 2010).  Perawatan di panti werdha sering ditandai dengan beban kerja yang tinggi, pergantian staff, kesulitan dalam merekrut staff baru yang kompeten (Landers et al., 2016), dan kualitas perawatan yang kurang optimal (Castle & Ferguson, 2010; Social Welfare Services of Jawa Timur, 2017). Selain itu, perawatan di panti werdha umumnya diberikan oleh asisten perawat bersertifikat yang tidak berlisensi (Arnetz et al., 2011). Sebagian besar caregiver di panti werdha adalah pekerja sosial, diikuti oleh perawat dan dokter (Edvardsson et al., 2019). Secara keseluruhan, faktor-faktor ini memiliki implikasi serius bagi kesehatan dan keselamatan lansia di panti werdha. Untuk mencapai budaya keselamatan yang positif di panti werdha, dibutuhkan pemahaman pimpinan dan seluruh staff mengenai nilai, keyakinan, dan norma organisasi tentang apa yang penting, sikap serta perilaku apa yang diharapkan (Castle et al., 2010). Membangun budaya keselamatan lansia memungkinkan seluruh staff dapat meminimalkan cidera dan meningkatkan kualitas pelayanan lansia di panti werdha.

Standar keselamatan pasien wajib diterapkan di rumah sakit maupun di fasilitas pelayanan kesehatan lainnya termasuk panti werdha, terdapat standar keselamatan pasien terdiri dari tujuh standar, yaitu salah satunya adalah mendidik staf tentang keselamatan pasien dengan cara fasilitas pelayanan kesehatan memiliki proses pendidikan, pelatihan, dan orientasi untuk setiap jabatan mencakup keterkaitan jabatan dengan keselamatan pasien secara jelas serta menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan yang berkelanjutan untuk meningkatkan dan memelihara kompetensi staf serta mendukung pendekatan interdisiplin dalam pelayanan pasien (Kemenkes RI, 2015).

Selanjutnya, 5) Gunakan pendekatan sistem yang menyeluruh bukan individual, pengembangan hanya bisa terjadi jika ada sistem pendukung yang adekuat. Staf juga harus dilatih dan didorong untuk melakukan peningkatan kualitas pelayanan dan keselamatan terhadap pasien, jika pendekatan patient safety tidak diintegrasikan secara utuh kedalam sistem yang berlaku, maka peningkatan yang terjadi hanya akan bersifat sementara; 6) Mengembangkan sistem berpikir dan implementasi program, Staf juga membutuhkan motivasi dan dukungan untuk mengembangkan metodologi, sistem berfikir, dan implementasi program; 7) Melibatkan pasien dalam usaha keselamatan, Keterlibatan pasien dalam pengembangan patient safety terbukti dapat memberikan pengaruh yang positif; dan yang terakhir 8) Mengembangkan kepemimpinan keselamatan pasien yang berkualitas, hal ini karena prioritisasi keselamatan pasien, pembangunan sistem untuk pengumpulan data-data berkualitas tinggi, mendorong budaya tidak saling menyalahkan, memotivasi staf, dan melibatkan pasien dalam lingkungan kerja diperlukan kepemimpinan yang kuat, tim yang kompak, serta dedikasi dan komitmen yang tinggi untuk tercapainya tujuan pengembangan budaya patient safety (Tutiany et al., 2017).

Upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan budaya keselamatan di panti antara lain dengan pemberian orientasi staff baru, pelatihan, peningkatan sarana prasarana, pengadaan staff keamanan. Peningkatan pengetahuan akan mengubah perilaku staff dan memberikan wawasan mengenai budaya keselamatan nursing home.

Penulis: Dr. Retno Indarwati, S.Kep., Ns., M.Kep

Jurnal: https://www.dovepress.com/efforts-to-improve-the-safety-culture-of-the-elderly-in-nursing-homes–peer-reviewed-fulltext-article-RMHP

AKSES CEPAT