Ketika kita membahas mengenai kualitas udara, mayoritas dari masyarakat kita akan langsung mengaitkannya dengan polusi udara yang berkaitan dengan zat kimia dalam udara misalnya yang berasal dari asap pabrik, polusi kendaraan, atau kabut asap. Ada agen lain selain zat kimia yang berperan dalam mengganggu kesehatan manusia yaitu mikroba. Mikroba di udara terdiri dari beragam macam bentuk diantaranya bakteri, virus, dan jamur yang menyebar melalui aerosol dan droplet yang dihasilkan selama aktivitas manusia sehari-hari, seperti berbicara, batuk dan bersin. Di negara tropis seperti Indonesia, kondisi hangat dan lembab sepanjang tahun membuat mikroba lebih mudah bertahan hidup lebih lama di udara. Selain itu, terdapat faktor lain seperti kepadatan penduduk, keterbatasan infrastruktur kesehatan, ventilasi yang buruk, kualitas udara yang buruk, dan eratnya interaksi antara manusia dan hewan juga menjadi faktor yang memperbesar peluang dari penyebaran patogen di udara.
Penyakit pernafasan, alergi, respons toksin, hingga kasus zoonosis dapat menyerang manusia tanpa disadari, baik melalui ruang terbuka maupun ruang tertutup. Mikroba tersebut dapat berada di dalam ruang tertutup seperti di rumah sakit, ruang kegiatan sehari-hari, kantor, sekolah, dan tempat tinggal. Beberapa penelitian menyebutkan kontaminasi dan paparan mikroba di udara dapat memperparah gejala penyakit pernafasan, termasuk batuk, iritasi, dan sesak nafas. Sebagai contoh jamur seperti Aspergillus atau Pennicilium dan bakteri seperti Staphylococcus dapat memperparah penyakit sick building syndrome, yang dapat berkontribusi pada komplikasi pernapasan kronis. Perilaku penghuni dan desain bangunan diketahui juga dapat berkontribusi pada penyebaran mikroba dalam ruang. Pergantian penghuni bangunan yang terlalu sering, asupan udara segar yang minim dalam bangunan, dan saringan udara yang tidak memadai dapat meningkatkan konsentrasi patogen. Seiring waktu, paparan berulang terhadap mikroba dapat merusak fungsi paru, dan meningkatkan kerentanan individu terhadap infeksi sekunder lain, terutama pada kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan orang yang memiliki sistem kekebalan tubuh yang rendah.
Kondisi iklim Indonesia yang tropis dimana memiliki kelembaban udara yang tinggi sepanjang tahun ditambah dengan kondisi sosial dan ekonomi yang rendah dengan adanya ekspansi perkotaan yang masif dan cepat merupakan suatu kondisi ideal untuk pertumbuhan mikroba. Masalah yang berkaitan dengan buruknya kualitas udara dalam ruang juga berkaitan dengan tidak adanya pedoman ventilasi yang standar. Pandemi Covid-19 yang terjadi di beberapa tahun terakhir membuktikan bahwa betapa cepatnya patogen dapat menyebar ke seluruh dunia serta dapat melumpuhkan sistem kesehatan global jika tidak terdeteksi dan ditangani sejak dini.
Ketika metode tradisional tidak lagi cukup
Di Indonesia sistem pemantauan yang terfragmentasi dan terbatas pada data rumah sakit atau pusat penelitan masih menjadi andalan. Penelitian tentang udara sering mengandalkan metode tradisional seperti settle plate atau alat impaksi. Teknik tersebut memang dapat memberi gambaran umum tentang jumlah mikroba di udara, tetapi masih sering gagal dalam mendeteksi seluruh jenis mikroorganisme yang ada terutama yang tidak bisa tumbuh di media laboratorium biasa. Saat ini, karena ada kemajuan teknologi, para peneliti dapat menggunakan diagnostik molekuler seperti PCR dan metagenomic untuk membaca DNA di udara. Hasilnya jauh lebih detail dan bukan hanya jenis mikroba yang ditemukan tetapi juga potensi resistensi antibiotik yang mungkin terbawa oleh mikroba tersebut.
Dalam penanggulangan penyakit infeksi, upaya kesehatan yang dilakukan juga tidak bisa dilakukan dengan cara yang reaktif, tetapi diarahkan untuk penanggulangan penyakit secara proaktif dengan berfokus pada pengambilan sampel patogen yang terstandarisasi dan platform data terintegrasi sehingga dapat memandu intervensi kesehatan yang efektif dan efisien. Kegiatan proaktif tersebut diantaranya memantau, menganalisis, dan mencegah sebelum penyakit menyebar. Rekomendasi kegiatan misalnya 1) membangun jaringan pemantauan nasional untuk mengumpulkan data dasar dan memantau area rawan penyebaran mikroba. Biosensor canggih dan uji molecular merupakan pemantauan real time untuk mikroba. 2) Kegiatan memperkuat laboratorium diagnostik molekuler agar bisa mendeteksi patogen baru juga penting diimplementasi, 3) Penerapan pendidikan kesehatan inovatif yang berfokus untuk meningkatkan kesadaran masyarakat untuk hidup bersih dan sehat serta mendorong praktik penyehatan udara dalam ruang. Selain itu, upaya kesehatan dengan pendekatan one health juga perlu dilakukan dalam upaya pencegahaan penyakit zoonosis.
Kebijakan yang perlu direvisi
Indonesia sudah memiliki aturan mengenai polusi udara yang berkaitan dengan agen kimia seperti debu, gas buang, dan partikel halus. Namun, kualitas udara mikrobiologis masih belum banyak diperhatikan. Padahal, infeksi dari udara bisa sama berbahayanya dengan polusi kimia. Perlu ada kerangka regulasi baru yang menetapkan batas aman mikroba di fasilitas umum seperti rumah sakit, sekolah, kantor, dan pabrik. Selain itu, peningkatan kapasitas laboratorium juga penting untuk dilakukan agar dapat mendeteksi patogen udara secara tepat dan akurat.
Menjaga nafas penduduk indonesia
Udara yang bersih yang bebas dari kontaminan adalah hak dari setiap warga negara. Dengan menggabungkan sains, kebijakan publik, dan partisipasi publik dalam penyelenggaraan upaya penyehatan udara, Indonesia dapat menjadi contoh negara tropis yang tangguh dalam menghadapi penyakit berbasis udara di tengah isu perubahan iklim. Upaya penyehatan udara ini penting dilakukan oleh seluruh lapisan masyarakat bukan hanya dari dukungan pemerintah tetapi masyarakatnya juga perlu andil dalam upaya tersebut karena pada akhirnya udara yang sehat akan menghasilkan bangsa yang sehat.
Penulis: Ratna Dwi Puji Astuti
Detail tulisan ini dapat dilihat di: Toward comprehensive airborne pathogen control in Indonesia’s tropical setting ()





