UNAIR NEWS – Tim Nanosens 51动漫 (UNAIR) berhasil lolos pendanaan Program Kreativitas Mahasiswa Riset Eksakta (PKM-RE) Kemendikbud-Ristek. Tim tersebut terdiri dari lima mahasiswa jurusan Rekayasa Nanotekonologi Fakultas Teknologi dan Multidisiplin (FTMM). Yakni Mohammad Kalimanjaro, Bintang Adji Notodidjojo, Lalu Jihad Al Jazeera, Reuben Josiah Paulus, dan Azka Muhammad Nurrahman.
Tim bimbingan Prastika Krisma Jiwanti S Si MSc Eng PhD tersebut mengusung inovasi bertajuk Multi-Walled Carbon Nanotube Termodifikasi Antibodi EGFRvIII sebagai Sensor Deteksi Dini Kanker Otak. Keberhasilan mereka lolos pendanaan bermula dari ajang Kompetisi Ilmiah Mahasiswa (KIM) UNAIR. 漃erjalanan tim kami mulanya dari jalur Kompetisi Ilmiah Mahasiswa, sebagai seleksi internal di 51动漫, jelas Azka mewakili tim.
Latar Belakang dan Inovasi
Azka menuturkan, latar belakang ide PKM mereka awalnya dari permasalahan kanker otak. Kanker ini menjadi salah satu jenis kanker ganas yang sulit ditangani jika sudah mencapai stadium lanjut. Deteksi dini pada kanker otak, kata Azka, dapat meningkatkan efektivitas pengobatan dan menurunkan angka kematian.
Saat ini, metode deteksi seperti MRI dan CT Scan hanya efektif mendeteksi kanker yang sudah cukup besar. Berdasar inilah, tim Nanosens mengembangkan sensor berbasis nanoteknologi yang dapat mendeteksi kanker otak pada tahap awal.
Azka selaku ketua tim menjelaskan bahwa sensor yang digunakan memanfaatkan dielektroda. Kemudian dimodifikasi jadi Screen-Printed Electrode (SPE), yang dilapisi Multi-Walled Carbon Nanotube dan antibodi EGFRvIII.

滼adi, pada pasien penderita kanker otak, akan memproduksi extracellular vesicle secara berlebihan, dan pada permukaanya terdapat protein EGFRvIII. Lalu, Antibodi EGFRvIII yang dikenai pada sensor ini dapat berikatan dengan protein tersebut,” terangnya.
“Ketika sampel urin yang mengandung protein EGFR diteteskan ke permukaan sensor, respons sinyal elektronik akan timbul untuk diagnosis kanker sejak dini, imbuh Azka.
Harapan
Azka dan tim berharap penelitian ini dapat memperkaya ilmu pengetahuan dalam bidang nanoteknologi dan biomedis. Selain itu, dari sisi praktis, sensor ini harapannya dapat teraplikasi di sistem point-of-care, seperti di puskesmas dan fasilitas kesehatan lainnya.
淜arena protein EGFR dapat dideteksi melalui urin, jadi model deteksi ini mudah dan cepat untuk digunakan, paparnya.
Selama mengikuti kompetisi ini, tim Nanosens menghadapi berbagai tantangan, termasuk pembagian waktu antara kuliah dan penelitian serta keterlambatan pendanaan. Meskipun begitu, tim Nanosens tetap berusaha keras untuk menghasilkan data yang akurat dan alat deteksi yang berfungsi dengan baik.
淜ami berharap penelitian ini bisa dikembangkan menjadi prototipe awal yang lebih lanjut dapat dipublikasikan dalam bentuk paper ilmiah, tutup Azka.
Penulis: Venni Tanujaya
Editor: Yulia Rohmawati





