UNAIR NEWS – 51动漫 (UNAIR) terus mendukung mahasiswanya untuk menjadi muda mudi yang inovatif. Salah satunya melalui pendanaan untuk Program Kreativitas Mahasiswa (PKM). Melalui program ini, UNAIR memberikan wadah mahasiswanya untuk mengembangkan ide yang inovatif dan memiliki dampak positif untuk masyarakat.
Tidak melewatkan kesempatan ini, tim yang dipimpin oleh Rehan Fitrianto, Mahasiswa (FPK) UNAIR mendapatkan pendanaan untuk PKM Kewirausahaan (PKM-K) 2024 dengan nama Tim NaNaRe. Bersama rekan satu timnya, Bey Fitria dan Yulianing Nafisah dari (FEB), serta Galuh Naomy dan Nun Aini Qolby dari FPK, Rehan menginovasikan ampas tahu dan rumput laut menjadi alternatif pengganti styrofoam yang mendukung Sustainability of Food Security.
淧roduk NaNaRe merupakan food container biodegradable dan aman digunakan karena menggunakan bahan bahan alami sehingga tidak mengandung zat-zat kimia berbahaya yang dapat mengkontaminasi makanan. NaNaRe memiliki berbagai keunggulan diantaranya mudah terurai di alam, tidak bersifat toxic, biodegradable, ramah lingkungan, praktis, dan ekonomis, terangnya.
Keresahan Akan Sampah Styrofoam
淛adi, awalnya kami memiliki keresahan saat melihat tumpukan sampah styrofoam di sekitar lingkungannya. Setiap ada acara yang salah satu agendanya ada pembagian makanan, sampah bekas styrofoam bisa bertumpuk tumpuk menuhin tempat sampah. Belum lagi sampah yang dibuang dari bungkus makanan pinggir jalan, ungkap Rehan. Hal ini menyebabkan Indonesia menjadi darurat sampah styrofoam karena lonjakan sampah yang semakin meningkat setiap harinya.
淏erkaca juga pada data (Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional) SIPSN kalau komposisi sampah plastik di Indonesia menjadi terbesar ke dua setelah sampah rumah tangga, lanjut Rehan.
Selain dapat menimbulkan penumpukan sampah styrofoam, masalah kesehatan juga menjadi concern tim NANARE. Styrofoam termasuk dalam plastik, Rehan menambahkan, sehingga makanan yang dibungkus styrofoam bisa saja terkontaminasi mikroplastik. Bahkan, penggunaan styrofoam sebagai pembungkus makanan juga sudah dilarang WHO karena makanan berpotensi terkontaminasi benzena yang berbahaya bagi kesehatan.
Proses Panjang
Rehan menjelaskan, setelah berdiskusi tentang isu sampah styrofoam tersebut, timnya berinisiatif membuat alternatif pengganti berupa biofoam. Diawali dengan melakukan riset tentang bahan baku biofoam, yakni biopolimer seperti pati, selulosa, dan kitin.
Kemudian kami melakukan pemilihan bahan baku utama. Setelah melakukan riset dan pengumpulan data, kami memutuskan untuk memakai ampas tahu, ampas tebu, dan rumput laut kualitas rendah yang selama ini hanya dianggap sebagai limbah produksi. Jadi selain memberikan solusi terkait penggunaan styrofoam, kami juga dapat menyelesaikan masalah limbah produksi dan lingkungan, tutur Rehan.
Lebih lanjut, tim NaNaRe melakukan riset dan pengembangan, yang terdiri dari riset formulasi, uji coba formulasi, eksperimen, dan uji coba produksi. Rehan melanjutkan, perlu proses dan usaha yang keras untuk menemukan formulasi yang tepat sehingga produk dapat layak jual.
淪elain melakukan pengembangan produk, mereka juga aktif mengikuti kegiatan pendampingan PKM-K, konsultasi kepada dosen pembimbing, dan pengaktifan sosial media di Instagram dengan nama nanare.ecoproduct, pungkas Rehan.
Penulis : Febriana Putri Nur Aziizah
Editor : Khefti Al Mawalia





