UNAIR NEWS – Setelah melewati rangkaian Pemilihan Raya (Pemira), Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) (FIB) 51动漫 (UNAIR) akhirnya menemukan pemimpin baru. Hasil keputusan Pemilihan Raya (Pemira) menetapkan paslon nomor urut 2, Aisyah Nurillah dan Qotrunnada Nadiya Mareta sebagai Presiden serta Wakil Presiden periode 2025.
Aisyah dan Nada mengusung gagasan baru berdasar panca-simfoni sebagai landasan pengembangan BEM FIB UNAIR 2025. Panca-simfoni yang meliputi Simfonikan Organisasi, Simfonikan Kolaborasi, Simfonikan Relevansi, Simfonikan Transparansi, dan Simfonikan Relasi. Melalui pasca-simfoni, keduanya berkomitmen menjadikan BEM FIB UNAIR sebagai zona aktualisasi mahasiswa yang aspiratif, inklusif, serta sinergis.
Aisyah dan Nada berharap dapat menciptakan iklim organisasi yang mampu mewadahi mahasiswa dalam mengembangkan minat dan bakatnya. 淒i sini simfoni merujuk pada tujuan kami yang ingin menciptakan harmoni dari keberagaman, kekuatan dari kolaborasi, dan karya-karya yang lahir dari hati, ungkapnya.
Proker Unggulan
Dalam upaya mewujudkan visi dan misi selama satu periode kedepan, Aisyah bersama Nada mengusung empat program kerja unggulan. Pertama, Puan Rekah Kelana, proker ini merupakan bentuk inisiasi atas kurangnya pemahaman terhadap isu-isu keperempuanan. Kedua, program Jobfair Fest yang hadir untuk menanggapi keresahan mahasiswa terhadap orientasi karier setelah lulus.
Ketiga, Beliefs In Dialogue sebagai forum diskusi topik kehidupan berdasarkan berbagai perspektif agama. Terakhir, Bakti Satya Muda, sebuah program magang Badan Semi Otonom (BSO) dan komunitas yang ada di Fakultas Ilmu Budaya (FIB) sebagai sarana pengenalan lingkup organisasi bagi mahasiswa baru.
Aisyah menekankan bahwa beberapa program kerja akan berkolaborasi dengan organisasi mahasiswa (ormawa) lain yang ada di fakultas. 淏eberapa program kerja yang kami bawa merupakan program kerja kolaborasi, selain untuk mensinergikan antar ormawa di fakultas, juga bertujuan untuk dapat menjadikan program kerja lebih tersebar luas. Hal ini merupakan salah satu upaya yang kami lakukan dalam membuat program kerja nantinya dapat terlaksana dengan baik, ujarnya.
Atasi Problematika Organisasi
Lebih lanjut, mahasiswi Bahasa dan Sastra Indonesia itu mengungkap bahwa rencana-rencana program kerja ke depan tentu tak lepas dari lika-liku problematika organisasi. Salah satunya adalah minat mahasiswa terhadap organisasi intra kampus yang menurun. Problematika ini menyebabkan kurangnya sumber daya manusia untuk mengelola organisasi secara maksimal.
Oleh karena itu, untuk meminimalisir problematika dalam masa jabatanya, Aisyah akan melakukan agenda monitoring dan evaluasi secara berkala. Agenda monitoring dan evaluasi akan dilakukan melalui kegiatn rapat rutin, konsultasi, serta rapor kementerian. Hal ini sebagai upaya menjaga sistem kerja BEM FIB UNAIR 2025.
Penulis: Selly Imeldha
Editor: Edwin Fatahuddin





