51动漫

51动漫 Official Website

Variasi Temporal dan Klaster Spasial Penyakit Diare di Provinsi Jakarta, Indonesia

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Penyakit diare terus menjadi penyebab utama penyakit yang dapat dicegah di negara berkembang, terutama pada anak-anak < 5 tahun. Menurut WHO (2024), setiap tahunnya, diare menewaskan sekitar 443.832 anak di bawah usia 5 tahun dan 50.851 anak yang berusia 5 hingga 9 tahun. Di Indonesia, penyakit diare menyebabkan morbiditas dan mortalitas yang signifikan pada semua kelompok usia, dengan prevalensi tertinggi pada anak-anak usia < 5 tahun. Prevalensi penyakit diare menurut Riset Kesehatan Dasar meningkat dari 7% menjadi 8% antara tahun 2013 dan 2018.

Sumber air minum, penyimpanan air rumah tangga, dan kurangnya pengetahuan mendorong meningkatnya kejadian diare di daerah padat penduduk. Faktor risiko lain penyakit diare adalah pembuangan feses anak yang tidak aman, fasilitas toilet yang tidak memadai, dan tingkat pendidikan yang rendah. Selain itu, penyakit diare diperkirakan akan meningkat akibat perubahan iklim. Kami melakukan penelitian dengan menggunakanan analisis spatial dan temporal untuk memahami distribusi penyakit dalam kaitannya dengan ruang dan waktu di Provinsi Jakarta. Provinsi Jakarta adalah ibu kota Indonesia dengan kepadatan penduduk tertinggi.

Kami menemukan bahwa penyakit diare bersifat sangat musiman dengan kasus mencapai puncaknya di awal setiap tahun. Insiden penyakit diare menunjukkan peningkatan dari tahun 2018, mencapai puncaknya pada tahun 2020, kemudian secara bertahap menurun hingga pertengahan tahun 2021, dan sedikit meningkat menjelang akhir tahun 2021. Kecamatan berisiko tinggi diare adalah di Kalideres dan Cengkareng sepanjang periode penelitian. Selain itu, terdapat variasi spasial kasus di seluruh provinsi dengan titik-titik rawan yang terletak di kecamatan di bagian barat provinsi di wilayah pinggiran kota. Kami juga menemukan bahwa diare menurun sebesar 17% untuk setiap peningkatan suhu rata-rata sebesar 1 掳C. Demikian pula, diare menurun sebesar 3% untuk peningkatan kelembapan rata-rata sebesar 1% dan kecepatan angin 1 m/s. Sementara itu, diare meningkat sebesar 3% masing-masing untuk durasi sinar matahari 1 jam per minggu dan peningkatan curah hujan rata-rata 1 mm.

Temuan kami menggarisbawahi beberapa kecamatan menunjukkan adanya klaster penyakit yang mengindikasikan bahwa daerah tersebut memiliki risiko yang jauh lebih tinggi. Selain itu, faktor iklim juga berhubungan dengan kejadian diare. Intervensi seperti adaptasi lingkungan dan iklim serta pemantauan data iklim perlu dilakukan di daerah yang berisiko tinggi sebagai sistem peringatan dini.

Artikel lengkap dapat di akses di:

Astutik, E., Husnina, Z., Yamani, L.N. et al. Temporal variations and spatial clusters of diarrheal diseases before and during the COVID-19 pandemic in Jakarta province, Indonesia. BMC Public Health 25, 4166 (2025).

AKSES CEPAT