Perfluoroalkyl substances (PFAS) merupakan kelompok bahan kimia yang telah digunakan luas sejak tahun 1950-an dalam berbagai produk industri dan rumah tangga, seperti peralatan masak anti lengket, pakaian outdoor, bahan tahan air, pelapis kertas, serta busa pemadam kebakaran. Sifatnya yang sangat stabil, sulit terurai, dan efektif sebagai surfaktan membuat PFAS bertahan lama di lingkungan. Akibatnya, PFAS kini ditemukan hampir di seluruh dunia, termasuk pada air, udara, satwa liar, manusia, dan debu rumah tangga. Beberapa jenis PFAS dapat terakumulasi dalam rantai makanan dan menunjukkan sifat toksik pada hewan, sehingga PFOS dan PFOA telah ditetapkan sebagai polutan organik persisten.
Penggunaan PFAS dalam kegiatan rumah tangga maupun industri menyebabkan senyawa ini masuk ke berbagai aliran limbah, seperti air limbah domestik, limbah industri, lindi landfill, air limpasan hujan, hingga limpasan pertanian. PFAS yang masuk ke tubuh manusia juga ikut terbawa ke sistem pembuangan melalui ekskresi. Meskipun kajian tentang PFAS di instalasi pengolahan air limbah sudah pernah dilakukan sebelumnya, lebih dari 100 penelitian baru telah terbit sejak ulasan terdahulu. Di Malaysia, berbagai penelitian menunjukkan bahwa PFAS telah terdeteksi pada beragam media lingkungan. Studi sebelumnya menemukan PFOS dan PFOA dalam telur ayam, air keran, pangan, debu rumah tangga, serta air sungai yang menjadi sumber air minum. Konsentrasi PFAS yang terukur, seperti PFHxS, PFHxA, dan PFOS, mengindikasikan adanya paparan luas terhadap masyarakat.
Kebaruan penelitian ini terletak pada penggunaan pendekatan wastewater-based epidemiology (WBE) untuk menghitung emisi PFAS pada tingkat populasi攑endekatan yang masih jarang digunakan di Asia Tenggara. Berbeda dari penelitian PFAS sebelumnya yang berfokus pada air permukaan atau air minum, studi ini menelaah influen air limbah yang mencerminkan gabungan kontribusi limbah domestik dan industri, sekaligus menghasilkan estimasi pertama beban massa PFAS di instalasi pengolahan air limbah Malaysia sebagai dasar penting pemantauan dan regulasi di masa depan.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Instalasi Pengolahan Air Limbah (STP) di Penang, Malaysia masih belum efektif dalam menghilangkan PFAS. Melalui pendekatan wastewater-based epidemiology (WBE), studi ini menemukan bahwa berbagai senyawa PFAS tetap bertahan setelah proses pengolahan dan bahkan beberapa di antaranya melebihi batas regulasi internasional. Temuan ini juga memperlihatkan adanya beban massa PFAS yang cukup besar dilepaskan ke lingkungan, menandakan bahwa proses pengolahan konvensional belum memadai untuk menangani polutan persisten ini. Kondisi tersebut menegaskan perlunya peningkatan teknologi pengolahan air limbah serta penguatan kebijakan nasional terkait pengendalian PFAS. Studi ini sekaligus menyediakan data dasar pertama di Malaysia mengenai emisi PFAS berbasis populasi melalui jaringan STP, yang penting sebagai rujukan untuk pemantauan lingkungan dan pengembangan kebijakan di masa depan.





