Mengapa perawatan saluran akar bisa berhasil atau gagal? Salah satu kuncinya justru ada pada langkah paling awal: membuat lubang akses menuju kamar pulpa. Jika lubang ini dibuat terlalu besar, terlalu kecil, atau salah arah, dokter dapat kehilangan saluran akar, merusak dinding gigi, hingga menyebabkan kegagalan perawatan di kemudian hari.
Saat ini, teknologi pencitraan berkembang pesat dan membawa perubahan besar pada dunia endodontik. Salah satu alat terpenting adalah CBCT (cone-beam CT) yang mampu memotret struktur gigi secara tiga dimensi. Dengan CBCT, dokter bisa melihat bentuk ruang pulpa, arah saluran akar, dan ketebalan dentin dengan sangat jelas攕ehingga lubang akses dapat dibuat lebih presisi dan lebih aman.
Di sisi lain, muncul pula pendekatan minimally invasive endodontics, yaitu membuat akses sekecil mungkin untuk mempertahankan kekuatan gigi. Namun, membuat akses yang terlalu kecil justru bisa berisiko jika dokter tidak memahami anatomi gigi secara akurat. Di sinilah data anatomi yang presisi sangat dibutuhkan.
Masalahnya, sebagian besar data anatomi gigi yang tersedia berasal dari populasi Barat atau Asia Timur. Padahal, penelitian menunjukkan bahwa struktur gigi masyarakat India memiliki ciri berbeda, misalnya kamar pulpa yang lebih bervariasi pada insisivus lateral, atau kelengkungan akar yang lebih menantang pada kaninus. Perbedaan antara laki-laki dan perempuan juga berpengaruh, seperti ukuran kamar pulpa yang cenderung lebih besar pada laki-laki.
Untuk itu, penelitian ini dilakukan untuk membuat peta 3D anatomi gigi depan rahang atas masyarakat India berbasis CBCT. Tiga ukuran penting dipetakan:
- seberapa jauh kamar pulpa dari fossa sentral,
- jarak dari tepi insisal ke kamar pulpa,
- serta hubungan antara fossa sentral dan cingulum.
Ketiga parameter ini sangat menentukan titik masuk, arah bur, dan kedalaman pengeboran ketika dokter membuat akses saluran akar. Dengan mengetahui ukuran rata-rata populasi serta perbedaan antar jenis kelamin dan antar jenis gigi, dokter dapat merencanakan perawatan dengan lebih aman, lebih tepat, dan lebih konsisten.
Hasil penelitian semacam ini sangat berharga untuk meningkatkan akurasi, mengurangi kesalahan, dan memperkuat keberhasilan jangka panjang perawatan saluran akar攌hususnya dalam era perawatan minimal invasif yang kini semakin berkembang.
Penulis: Prof. Dr. Dian Agustin Wahjuningrum, drg., Sp.KG. Subsp, KE(K)
Informasi lebih detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:
Monal Ajay Kohok, Ashish Mandwe, Anuj Bhardwaj, Dian Agustin Wahjuningrum, Suraj Arora, Diah Diah, Tegar Permadi Dimas Prakoso & Ajinkya M. Pawar. [2025] CBCT based three dimensional odontometric mapping of maxillary anterior teeth in an Indian cohort to guide precision endodontic access cavity preparation.





