51动漫

51动漫 Official Website

Wabah Senyap di Rumah Sakit: Ancaman Bakteri Resisten Karbapenem di Indonesia

Model Skor Mortalitas COVID-19 RS Premier Surabaya
Ilustrasi rumah sakit (sumber: sharecare)

Di berbagai rumah sakit di Indonesia, sedang terjadi krisis yang tidak terlihat oleh mata publik. Krisis ini bukan disebabkan oleh kekurangan tenaga kesehatan atau alat medis, melainkan oleh keberadaan bakteri yang kebal terhadap antibiotik paling kuat yang kita miliki: karbapenem. Bakteri-bakteri ini dikenal sebagai Carbapenem-resistant Enterobacterales atau disingkat CRE. Meski terdengar teknis, CRE adalah ancaman nyata yang dapat membahayakan keselamatan pasien, meningkatkan angka kematian, dan memperburuk krisis resistensi antimikroba yang kini menjadi isu global.

Enterobacterales adalah kelompok bakteri yang secara alami hidup di saluran cerna manusia, namun dapat menyebabkan infeksi serius jika berpindah ke bagian tubuh lain seperti saluran kemih, paru-paru, atau darah. Contoh paling umum dari kelompok ini adalah Escherichia coli dan Klebsiella pneumoniae. Ketika strain bakteri ini menjadi resisten terhadap antibiotik karbapenem, maka infeksi yang ditimbulkannya menjadi sangat sulit diobati.

Karbapenem sendiri adalah kelas antibiotik yang digunakan sebagai lini terakhir untuk infeksi bakteri Gram-negatif yang sudah kebal terhadap berbagai jenis antibiotik lain. Efektivitasnya yang tinggi membuatnya menjadi pilihan utama dalam situasi darurat, seperti pada pasien dengan infeksi nosokomial berat, pasien imunokompromais, atau mereka yang dirawat di unit perawatan intensif. Namun, kemunculan CRE telah menggerus harapan tersebut, karena karbapenem tidak lagi mampu menaklukkan bakteri ini.

Penelitian yang dilakukan di berbagai rumah sakit rujukan nasional menunjukkan bahwa prevalensi CRE di Indonesia sudah berada pada tingkat yang sangat mengkhawatirkan. Dalam sebuah studi yang dilakukan di unit perawatan intensif, ditemukan bahwa hampir sepertiga pasien membawa CRE di tubuhnya. Sebagian besar dari isolat ini memproduksi enzim yang disebut NDM-1, atau New Delhi metallo-beta-lactamase-1, yang memiliki kemampuan untuk menghancurkan hampir semua antibiotik beta-laktam, termasuk karbapenem.

Angka ini lebih tinggi dibandingkan dengan negara-negara tetangga di Asia Tenggara seperti Vietnam dan Filipina, yang masing-masing memiliki angka resistensi sekitar 3 persen. Fakta ini menegaskan bahwa Indonesia tengah berada dalam situasi darurat antimikroba yang memerlukan perhatian khusus dari berbagai pihak, baik dari kalangan medis, pemerintah, maupun masyarakat umum.

Salah satu alasan mengapa CRE sangat sulit dikendalikan adalah karena mekanisme penyebarannya yang sangat efisien. Gen yang membawa sifat resisten ini umumnya terletak pada plasmid, yaitu komponen genetik yang bisa berpindah dari satu bakteri ke bakteri lain. Dengan demikian, satu strain bakteri yang sudah kebal bisa “menularkan” sifat tersebut ke spesies lain, bahkan dalam waktu singkat. Hal ini sangat berbahaya, terutama di lingkungan rumah sakit yang padat dan sering kali melibatkan prosedur invasif seperti pemasangan kateter atau alat bantu napas.

Di Indonesia, tantangan pengendalian CRE diperparah oleh rendahnya kepatuhan terhadap praktik penggunaan antibiotik yang rasional. Pemberian antibiotik tanpa indikasi yang jelas, akses bebas terhadap antibiotik tanpa resep, dan kurangnya kapasitas laboratorium mikrobiologi di berbagai daerah mempercepat penyebaran resistensi ini. Selain itu, belum semua rumah sakit memiliki sistem surveilans infeksi dan resistensi yang memadai, sehingga banyak kasus CRE yang tidak terdeteksi atau tidak dilaporkan.

Untuk memberikan gambaran yang lebih jelas tentang sebaran CRE di Indonesia, sekelompok peneliti dari 51动漫, Universitas Sam Ratulangi, dan University of Washington tengah melaksanakan kajian sistematis dan meta-analisis yang mencakup data selama dua dekade terakhir. Penelitian ini telah didaftarkan secara resmi di PROSPERO dan dipublikasikan dalam jurnal F1000Research.

Tujuan dari kajian ini adalah untuk mengestimasi angka prevalensi CRE secara nasional, mengidentifikasi tren perubahan dari waktu ke waktu, serta mengetahui distribusi berdasarkan wilayah geografis, kelompok usia, dan jenis pelayanan (rumah sakit atau komunitas). Selain itu, penelitian ini juga akan menggali lebih dalam mengenai mekanisme resistensi yang dominan di Indonesia, khususnya peran enzim NDM-1 dalam menyumbang tingkat resistensi yang tinggi.

Hasil dari kajian ini diharapkan dapat menjadi dasar bagi perumusan kebijakan nasional, khususnya dalam penguatan program antimicrobial stewardship, pengendalian infeksi rumah sakit, serta peningkatan kapasitas deteksi laboratorium di seluruh wilayah Indonesia. Data ini juga penting untuk mengetahui apakah CRE sudah menyebar ke luar fasilitas kesehatan dan mulai menginfeksi masyarakat umum, yang jika terbukti benar, akan membutuhkan strategi pencegahan yang jauh lebih luas.

Ancaman CRE adalah nyata, dan dampaknya dapat dirasakan secara langsung di ruang-ruang perawatan rumah sakit. Jika dibiarkan tanpa intervensi berbasis data, Indonesia berisiko kehilangan salah satu alat paling ampuh dalam perang melawan infeksi bakteri. Oleh karena itu, penting bagi seluruh pemangku kepentingan untuk bersama-sama memperkuat deteksi, pengawasan, dan edukasi masyarakat mengenai bahaya resistensi antimikroba. Dengan data yang kuat dan kolaborasi lintas sektor, kita masih punya peluang untuk menahan laju CRE dan menyelamatkan masa depan terapi infeksi bakteri di negeri ini.

Penulis : Ika Nindya Kadariswantiningsih, dr., MMSc., Ph.D

Jurnal :

AKSES CEPAT