51动漫

51动漫 Official Website

Makanan Pengatur Gen: Harapan Baru untuk Tata Laksana Diabetes

Diabetes melitus (DM) merupakan masalah kesehatan global dalam beberapa dekade terakhir karena prevalensinya yang terus meningkat. Berdasarkan data dari International Diabetes Federation (IDF), jumlah penderita Diabetes di Indonesia terus meningkat, pada thun 2000 sebesar 5,6 juta, tahun 2011 7,3 juta, tahun 2021 19,5 juta dan diperkiran akan terus bertambah menjadi 23,3 juta pada tahun 2030 dan 28,6 juta pada tahun 2045. Saat ini, Indonesia berada di urutan kelima di antara negara dengan jumlah penyandang DM terbanyak. Penyakit ini terjadi ketika tubuh tidak mampu mengatur kadar gula darah dengan baik, yang bisa menyebabkan berbagai komplikasi serius, seperti penyakit jantung, kerusakan ginjal, gangguan penglihatan, hingga amputasi. Selama bertahun-tahun, pengelolaan diabetes berfokus pada pengendalian kadar gula darah dengan obat-obatan, insulin, dan perubahan gaya hidup.

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa pengelolaan diabetes  mulai mengeksplorasi epigenetika, yaitu ilmu yang mempelajari bagaimana gen kita bisa “menyala atau mati” tanpa mengubah struktur genetik itu sendiri. Yang menarik, senyawa alami dari makanan tertentu ternyata mampu memengaruhi mekanisme ini. Beberapa senyawa aktif dari makanan (yang disebut fitokimia) terbukti bisa bekerja sebagai “pengatur gen”. Tiga senyawa yang kini paling banyak diteliti adalah: Resveratrol yang ditemukan dalam kulit anggur merah dan beberapa jenis buah beri, Kurkumin merupakan komponen utama kunyit, yang memberi warna kuning khas pada rempah ini, dan Sulforafan adalah  senyawa alami dalam brokoli, kembang kol, dan sayuran cruciferous lainnya.

Penelitian, baik pada hewan maupun manusia, menunjukkan bahwa fitokimia ini bisa memberikan manfaat nyata bagi penderita diabetes, di antaranya: meningkatkan sensitivitas insulin: sehingga tubuh lebih efisien dalam menggunakan gula darah, meningkatkan kelangsungan hidup sel beta di pankreas yang bertugas memproduksi insulin, dan mengurangi peradangan kronis, yang merupakan faktor pemicu utama dalam perkembangan komplikasi diabetes.

Meski menjanjikan, penggunaan senyawa alami sebagai terapi tambahan diabetes bukan tanpa tantangan. Beberapa hal yang masih menjadi perhatian ilmuwan, antara lain Bioavailabilitas rendah larena banyak fitokimia sulit diserap tubuh dalam jumlah cukup, perbedaan efek antar individu yang disebabkan karena tidak semua orang merespons dengan cara yang sama. Dan kesulitan penerapan klinis terutama tentang  dosis, durasi, dan bentuk penyajian masih perlu diteliti lebih lanjut.

Untuk mengatasi tantangan ini, para peneliti kini mengembangkan teknologi seperti sistem penghantaran nanopartikel, serta pendekatan nutrisi presisi, yaitu  terapi disesuaikan dengan profil genetik dan kondisi kesehatan masing-masing orang.

Makanan tidak lagi sekadar sumber energi atau nutrisi. Dalam konteks pengelolaan diabetes, makanan, khususnya yang mengandung senyawa epigenetic bisa menjadi bagian dari strategi penyembuhan yang lebih dalam dan personal. Ini membuka peluang untuk pengembangan terapi yang lebih alami, aman, dan efektif.

Penulis : Prof. Dr. Arifa Mustika, dr., M.Si.

Link artikel :

AKSES CEPAT