51¶¯Âþ

51¶¯Âþ Official Website

Waspadai Sindrom Metabolik dan Resistensi Insulin pada Remaja Penderita Leukemia

sumber: Mandaya Hospital Group
Ilustrasi anak penderita leukimia (Foto: Mandaya Hospital Group)

Remaja yang sedang menjalani kemoterapi untuk leukemia limfoblastik akut (Acute Lymphoblastic Leukemia atau ALL) tidak hanya berjuang melawan sel kanker, tetapi juga menghadapi ancaman lain yang tak kalah serius: sindrom metabolik dan resistensi insulin. Kedua kondisi ini berpotensi memperburuk kualitas hidup jangka panjang, meningkatkan risiko penyakit jantung, diabetes tipe 2, hingga obesitas kronis.

Sebuah studi yang dilakukan oleh tim peneliti dari Surabaya mengungkap fakta yang mengejutkan. Dari 45 remaja berusia 10“18 tahun yang diteliti, 9 di antaranya merupakan penderita ALL yang kelebihan berat badan dan sedang menjalani fase pemeliharaan kemoterapi, sementara 36 sisanya adalah kelompok kontrol tanpa ALL namun juga kelebihan berat badan. Tujuan utama penelitian ini adalah menilai prevalensi resistensi insulin dan sindrom metabolik pada kedua kelompok.

Resistensi insulin adalah kondisi ketika sel tubuh menjadi kurang sensitif terhadap hormon insulin, sehingga tubuh harus memproduksi lebih banyak insulin untuk mengatur gula darah. Sementara sindrom metabolik adalah kumpulan gejala yang mencakup obesitas sentral, tekanan darah tinggi, kadar trigliserida tinggi, HDL rendah, dan gula darah tinggi. Jika dibiarkan, kedua kondisi ini menjadi pintu gerbang menuju penyakit jantung dan diabetes.

Hasil studi menunjukkan bahwa 88,9% penderita ALL mengalami resistensi insulin, jauh lebih tinggi dibandingkan kelompok kontrol (47,2%). Bahkan, 66,7% dari mereka juga mengalami sindrom metabolik, dibandingkan hanya 22,2% pada kelompok kontrol. Dan hal yang lebih mengejutkan lagi, lebih dari separuh pasien ALL (55,6%) mengalami resistensi insulin dan sindrom metabolik secara bersamaan, sementara di kelompok kontrol hanya 11,1%. Ini artinya, remaja penderita ALL memiliki 10 kali lipat risiko untuk mengalami kedua gangguan metabolik tersebut secara bersamaan.

Salah satu penyebab utama dari gangguan metabolik ini adalah penggunaan kortikosteroid dalam protokol kemoterapi, seperti prednison atau deksametason. Obat-obatan ini dikenal luas dapat meningkatkan gula darah dan menurunkan sensitivitas insulin. Di sisi lain, aktivitas fisik yang menurun akibat efek samping pengobatan dan kelelahan juga berkontribusi terhadap peningkatan berat badan dan akumulasi lemak di perut.

Selama ini, banyak perhatian difokuskan pada penyintas kanker setelah selesai pengobatan. Namun, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa gangguan metabolik bisa mulai terjadi saat pengobatan masih berlangsung. Ini artinya, upaya pencegahan dan deteksi dini harus dimulai sedini mungkin, bahkan ketika pasien masih aktif menjalani kemoterapi.

Jika tidak ditangani dengan cepat, gangguan metabolik ini bisa memperberat pengobatan, mengganggu pertumbuhan remaja, dan memperbesar risiko komplikasi kesehatan di masa depan.

Para peneliti merekomendasikan agar pemeriksaan rutin terhadap kadar gula darah, profil lemak, dan tekanan darah dimasukkan dalam protokol perawatan ALL, terutama bagi pasien yang mengalami kelebihan berat badan. Pemeriksaan seperti HbA1c atau gula darah puasa bisa dilakukan setiap 3 bulan untuk mendeteksi dini adanya gangguan metabolik.

Selain itu, intervensi gaya hidup seperti pengaturan pola makan, peningkatan aktivitas fisik ringan yang sesuai dengan kondisi pasien, serta edukasi gizi bagi keluarga sangat penting dilakukan. Dalam beberapa kasus, terapi tambahan seperti pemberian metformin bisa dipertimbangkan untuk memperbaiki sensitivitas insulin.

Penutup

Penelitian ini menjadi pengingat bahwa keberhasilan terapi kanker tidak hanya diukur dari remisi atau bebas kanker, tetapi juga dari kualitas hidup jangka panjang para penyintasnya. Remaja dengan ALL merupakan kelompok yang sangat rentan terhadap gangguan metabolik. Oleh karena itu, pendekatan medis yang menyeluruh dan antisipatif perlu diterapkan sejak dini, demi menjaga masa depan kesehatan mereka.

Penulis: Dr. Nur Aisiyah Widjaja, dr., Sp.A(K)

Informasi detail artikel: https://scholar.unair.ac.id/en/publications/high-prevalence-of-metabolic-syndrome-and-insulin-resistance-in-a

AKSES CEPAT