51动漫

51动漫 Official Website

Work Engagement Tenaga Kesehatan di Masa Pandemi COVID-19

Sistem pelayanan kesehatan menghadapi tantangan yang cukup serius saat Pandemi COVID-19. Dalam menangani permasalahan COVID-19, tenaga kesehatan mempunyai risiko terpapar pandemi COVID-19 yang cukup tinggi. Tenaga kesehatan dituntut untuk mengambil keputusan dan tindakan secara cepat dengan sumber daya yang terbatas. Tidak hanya itu, tenaga kesehatan berisiko mengalami kelelahan fisik dan mental selama bekerja saat Pandemi COVID-19. Intensitas kerja yang tinggi, risiko paparan infeksi COVID-19 yang tinggi, serta gangguan mental yang dialami tenaga kesehatan dapat mempengaruhi work engagement tenaga kesehatan.

Karyawan yang terikat pada organisasinya akan memberikan upaya yang lebih besar pada perusahaannya, memiliki lebih sedikit penyakit, memiliki tingkat produktivitas yang tinggi, dan juga komitmen yang tinggi terhadap organisasi. Work engagement telah menarik perhatian dari berbagai bidang, khususnya bidang pelayanan kesehatan. Penelitian terdahulu mengungkapkan bahwa work engagement dapat meningkatkan kualitas layanan kesehatan dan kinerja tenaga kesehatan.

Fakta di lapangan menunjukkan bahwa tenaga kesehatan mempunyai work engagement yang rendah terhadap pekerjaannya. Studi sebelumnya pada tahun 2019 menunjukkan bahwa mayoritas perawat (60%) memiliki tingkat work engagement yang rendah (Diab dan Nagar, 2019). Penelitian lain dengan partisipan dokter juga menunjukkan hasil yang sama yakni sebesar 55,8% (Aminuddin, Pasinringi dan Saleh, 2021). Rendahnya work engagement tenaga layanan kesehatan tidak hanya berisiko meningkatkan produktivitas organisasi tetapi juga menimbulkan risiko signifikan terhadap hasil pasien dan kualitas layanan pasien.

Pada kesempatan kali ini, kami melakukan penelitian untuk mengidentifikasi faktor yang berpengaruh terhadap work engagement tenaga kesehatan saat Pandemi COVID-19. Penelitian ini merupakan penelitian scoping review yang bertujuan untuk mengkategorikan literatur pada suatu topik, termasuk mengidentifikasi konsep dan teori, serta menemukan kesenjangan dalam literatur. Penelitian ini dilakukan pada bulan Desember 2022. Kata kunci yang digunakan adalah “work engagement,” “healthcare worker,” “healthcare,” dan “COVID-19” yang dihubungkan menggunakan Boolean 淥R dan 淎ND. Database yang digunakan dalam penelitian ini adalah PubMed, Science Direct, dan ProQuest. Kriteria inklusinya adalah artikel asli yang ditulis dalam bahasa Inggris, diterbitkan pada tahun 2020-2022, dan artikel yang membahas faktor yang mempengaruhi work engagement tenaga kesehatan selama pandemi COVID-19. Scoping review dilakukan berdasarkan Preferred Reporting Items for Systematic reviews and Meta-Analyses extension for Scoping Reviews (PRISMA-ScR) yang dikemukakan oleh Peters et al., (2020).

Penelitian ini menemukan 1.274 dari total 3 database yang disepakati yakni sebanyak 197 artikel dari Science Direct, 36 artikel dari PubMed, dan 1.041 artikel dari ProQuest. Setelah melewati tahapan penyaringan artikel, hasil akhir diperoleh sebanyak 19 artikel yang sesuai dengan kriteria inkluasi.

Studi terpilih menyatakan bahwa tenaga kesehatan umumnya terikat pada pekerjaan selama pandemi COVID-19. Sejak gelombang pertama COVID-19, work engagement tenaga kesehatan dinilai sedang dan tinggi. Hal ini disebabkan oleh tingginya beban kerja, terutama dalam keadaan ekstrem yang berbeda dari sebelumnya. Namun saat Pandemi COVID-19, tenaga kesehatan akan lebih berkomitmen dalam bekerja, meningkatkan realisasi diri, dan lebih terlibat dalam pekerjaan karena semangat mereka dalam menyembuhkan pasien. Work engagement yang tinggi ini juga menunjukkan bahwa tenaga kesehatan memiliki tanggung jawab sosial yang tinggi terhadap penduduk saat wabah berlangsung. Variasi tingkat work engagement dapat bervariasi tergantung pada perilaku dan tingkat komitmen tenaga kesehatan.

Hasil penelitian diklasifikasikan berdasarkan Model Job Demands-Resources (JD-R) yang diusulkan Bakker dan Demerouti. Model JD-R menunjukkan bahwa terdapat tiga faktor yang mempengaruhi work engagement yaitu job resources, personal resources, dan job demands. Beberapa penelitian juga menunjukkan variabel lain di luar model, yaitu faktor demografi tenaga kesehatan.

Job resources dinyatakan berkorelasi positif dan memainkan peran penting dalam work engagement. Variabel yang ditemukan antara lain peluang untuk berkembang, dukungan organisasi, dukungan rekan kerja, pelatihan tambahan, kebutuhan dasar, dan gaji. Variabel yang paling sering dijumpai pada penelitian terpilih adalah kebutuhan dasar. Kebutuhan dasar terdiri dari kebutuhan akan otonomi, kompetensi, dan juga kebutuhan akan keterhubungan. Kebutuhan dasar terdiri dari kebutuhan akan otonomi, kompetensi, dan juga kebutuhan akan keterhubungan. Semakin tinggi tingkat kepuasan terhadap kebutuhan dasar, maka semakin tinggi pula tingkat keterikatan kerja tenaga kesehatan. Kebutuhan akan otonomi paling banyak disoroti dalam studi-studi terpilih. Otonomi kerja berkaitan dengan derajat kebebasan dan kemandirian dalam bekerja serta keleluasaan individu dalam merencanakan pekerjaan dan menentukan prosedur.

Faktor berikutnya adalah personal resources. Variabel yang ditemukan terdiri dari kepuasan kerja, optimism. kecerdasan emosional, motivasi. kontrak psikologis, dan pelanggaran kontrak psikologis. Variabel yang paling banyak ditemukan adalah kecerdasan emosional. Tenaga kesehatan dengan tingkat kecerdasan emosional yang lebih tinggi juga memiliki skor work engagement yang lebih tinggi, sebaliknya tenaga kesehatan yang kurang memiliki kecerdasan emosional akan kurang mampu mengatasi tuntutan pekerjaan tenaga kesehatan dan akan lebih rentan terhadap kelelahan dan berkurangnya work engagement tenaga kesehatan. Sehingga akan mempengaruhi kesejahteraan tenaga kesehatan di tempat kerja.

Job demands memiliki korelasi negatif dengan work engagement. Variabel yang ditemukan antara lain beban mental, beban kerja, dan kelelahan. Variabel yang paling banyak muncul pada penelitian terpilih adalah beban mental. Beban mental yang dialami tenaga kesehatan dapat disebabkan oleh ancaman terhadap hak kesehatan individu yang disebabkan oleh peningkatan risiko infeksi tanpa tindakan perlindungan yang memadai. Selain itu, tenaga kesehatan juga takut menularkan virus kepada keluarganya. Beban kerja yang tinggi selama wabah juga dapat menyebabkan peningkatan tekanan psikologis bagi tenaga kesehatan.

Faktor demografi ditemukan juga berpotensi mempengaruhi work engagement. Beberapa variabel yang ditemukan pada penelitian terpilih berkaitan dengan faktor demografi, yaitu usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, tempat kerja termasuk jenis unit, milik staf penyelamat, modal agama, dan status perkawinan. Variabel yang paling berkaitan dengan faktor demografi dalam studi terpilih adalah tempat kerja, termasuk jenis unit. Iklim kerja merupakan salah satu faktor penentu tingkat keterikatan kerja. Terdapat perbedaan mencolok antara setiap unit tenaga layanan kesehatan dalam melaksanakan pekerjaannya. Tenaga kesehatan yang menangani pasien pneumonia ringan yang terinfeksi COVID-19 secara kolektif lebih terikat pada pekerjaan dibandingkan tenaga kesehatan yang bekerja di ruang isolasi. Hal ini disebabkan karena tingkat pemulihan yang lebih tinggi, sehingga menunjukkan tingkat frustrasi kerja yang lebih rendah, sehingga menyebabkan work engagement yang lebih tinggi. Meski begitu, penelitian terpilih lainnya tidak mengklasifikasikan tingkat work engagement tenaga kesehatan di setiap unit.

Dari studi scoping review yang telah dilakukan, kami merekomendasikan pelayanan kesehatan sebaiknya mempertimbangkan pemberian pelatihan terkait self-leadership untuk meningkatkan otonomi kerja tenaga kesehatan. Kedua, pelayanan kesehatan harus memberikan intervensi dan bantuan psikologis kepada tenaga kesehatan untuk mengurangi dampak negatif stres psikologis yang dialami selama pandemi. Intervensi atau pendampingan dapat dilakukan secara online maupun tatap muka. Ketiga, pelayanan kesehatan harus menjamin keselamatan tenaga kesehatan dengan menyediakan alat pelindung diri (APD) selama bertugas untuk mengurangi risiko tertular COVID-19. Bagaimana cara menjaga tenaga kesehatan tetap terlibat dalam situasi ekstrem seperti Pandemi COVID-19 harus ditelaah lebih dalam pada penelitian yang akan datang.

Penulis: Dr. Ernawaty, drg., M.Kes.

Jurnal: Work Engagement of Healthcare Workers during the COVID-19 Pandemic

AKSES CEPAT