Dalam beberapa dekade terakhir, kekhawatiran seputar kesenjangan teori-praktik semakin meningkat. Relevansi dan kegunaan penelitian akademis dalam mengatasi permasalahan praktis telah dipertanyakan. Peneliti dan praktisi seringkali beroperasi dalam sistem yang terpisah, di mana peneliti biasanya mengecualikan praktisi dari desain dan interpretasi penelitian. Sebaliknya, praktisi seringkali mengabaikan peneliti dan temuan mereka ketika mengembangkan strategi dan praktik. Mengabaikan keadaan ini akan semakin memperlebar kesenjangan antara teori dan praktik, serta antara akademisi dan praktisi.
Menjembatani kesenjangan antara peneliti dan praktisi melalui integrasi perspektif teoretis dan praktis sangatlah penting, khususnya dalam ranah kepemimpinan dalam organisasi (LiO). Para akademisi telah menyarankan untuk kembali melibatkan praktisi (misalnya, para pemimpin dan manajer) dalam proses penelitian agar relevansi praktis dapat diwujudkan melalui penyelidikan yang ketat. Namun, studi LiO yang ada sebagian besar bergantung pada desain penelitian arus utama, seperti penelitian pengujian empiris (misalnya, mendefinisikan masalah, mengajukan hipotesis, mengumpulkan data, dan menguji hipotesis) dan penelitian eksploratif (misalnya, studi kasus). Terlepas dari kontribusinya, terdapat kritik yang semakin meningkat bahwa studi-studi ini gagal mengatasi permasalahan aktual secara efektif, khususnya dalam domain LiO. Hal ini menunjukkan bahwa ketelitian saja tidak cukup; penelitian harus relevan dengan isu kontekstual.
Lebih lanjut, action research (AR) berperan penting dalam melibatkan akademisi dan praktisi dalam penyelidikan ilmiah kolaboratif untuk memahami fenomena dan mendorong perbaikan. Namun, studi LiO dengan AR yang ada masih terfragmentasi, menunjukkan desain AR yang heterogen dalam hal tujuan, proses, dan hasil. Situasi ini menimbulkan kekhawatiran mengenai AR sebagai metode ilmiah dalam dekade terakhir. Oleh karena itu, studi ini bertujuan untuk meninjau secara sistematis studi LiO dengan AR yang ada untuk memberikan gambaran umum yang komprehensif, mengkonsolidasikan wawasan yang terfragmentasi, mengevaluasi kualitas penelitian, dan mengidentifikasi peluang untuk pengembangan di masa mendatang. Selain itu, studi ini sejalan dengan seruan untuk tinjauan berbasis metode melalui studi tinjauan tujuan klasifikasi.
Langkah-langkah berikut dilakukan untuk mencapai tujuan studi ini. Pertama, kami mengikuti prosedur tinjauan sistematis oleh Tranfield dkk. (2003) untuk memilih studi tentang LiO dengan AR dalam basis data Scopus dan Web of Science (WoS). Kedua, kami meninjau studi terpilih secara sistematis dan mengikuti metode Gioia (Gioia dkk., 2013) untuk mengekstrak esensi temuan. Kami juga mengevaluasi kualitas studi terpilih menggunakan kriteria ketelitian dan relevansi. Ketiga, kami menguraikan dan mensintesis temuan secara sistematis untuk membahas dan menyoroti wawasan utama berdasarkan pertanyaan penelitian yang telah ditentukan, sehingga memberikan alur yang jelas dan koheren dalam proses analisis. Terakhir, kami menyimpulkan dengan pernyataan penutup dan mengusulkan peluang untuk pengembangan lebih lanjut.
Penelitian ini menggunakan dua pendekatan metodologis utama. Pertama, tinjauan pustaka sistematis (SLR) dilakukan sebagai metode kualitatif untuk mengidentifikasi studi empiris yang membahas kepemimpinan dalam organisasi (LiO) melalui penelitian tindakan (AR). Kedua, studi yang teridentifikasi tersebut menjalani penilaian kualitas kuantitatif untuk mengevaluasi ketelitian dan relevansinya. Kerangka metodologis secara keseluruhan mengikuti prosedur SLR yang telah ditetapkan dan dirinci di bawah ini.
Mengikuti protokol tinjauan sistematis Tranfield dkk. (2003), yang banyak digunakan dalam penelitian manajemen dan organisasi, proses tinjauan terdiri dari tiga tahap utama (perencanaan, pelaksanaan, dan diseminasi) masing-masing berisi langkah-langkah yang diadaptasi dari studi SLR sebelumnya. Untuk menguji keteletian metodologis dari studi-studi yang diulas, kami mengadopsi kerangka kerja evaluatif berdasarkan ketelitian dan relevansi . Sebelas indikator mengukur ketelitian (misalnya, transparansi metodologis, validitas, refleksivitas), sementara tiga indikator mengukur relevansi (misalnya, kontribusi praktis, keterlibatan pemangku kepentingan). Setiap kriteria dinilai pada skala kejelasan 0-3 (0 = tidak ada, 1 = rendah, 2 = sedang, 3 = tinggi).
Studi ini mengungkap beberapa wawasan dan kesenjangan signifikan dalam literatur LiO dengan AR. AR telah menunjukkan kemampuan adaptasi yang luar biasa karena diterapkan di berbagai sektor (misalnya, jasa, manufaktur, dan pemerintahan) untuk membahas berbagai topik kepemimpinan, mulai dari atribut umum hingga spesifik. Penerapan lintas kontekstual ini menggarisbawahi kegunaan dan fleksibilitasnya dalam mengeksplorasi kepemimpinan dalam berbagai lingkungan organisasi. Selain itu, meskipun AR diakui sebagai metode yang tepat untuk meningkatkan kapabilitas kepemimpinan, implementasinya masih terfragmentasi. Lebih lanjut, kualitas studi LiO dengan AR menunjukkan bahwa sebagian besar studi selaras dengan AR transformatif. Tren ini menggembirakan, karena mencerminkan keseimbangan antara ketelitian akademis dan penerapan praktis yang mendorong kolaborasi antara peneliti dan praktisi.
Studi ini menawarkan berbagai rekomendasi praktis. Pertama, para pemimpin organisasi dapat menerapkan gagasan dari 30 studi LiO dengan AR yang telah dikaji. Misalnya, para pemimpin dapat meningkatkan hubungan pemimpin-pengikut melalui program-program yang terarah (misalnya, sesi pelatihan), yang mendorong komunikasi, penetapan tujuan, pendampingan, dan keterampilan pengambilan keputusan kolaboratif. Selain itu, para pemimpin di divisi pengembangan sumber daya manusia (SDM) harus mengadopsi program pengembangan kepemimpinan organisasi. Salah satu strategi praktisnya adalah menanamkan kerangka kerja pembinaan untuk memfasilitasi para pemimpin dalam transisi karier, menyediakan jalur bagi talenta untuk menduduki peran strategis di organisasi. Kedua, para pemimpin dan peneliti harus menjembatani kesenjangan antara akademisi dan praktisi melalui kolaborasi yang terarah.
Akademisi harus melibatkan praktisi sebagai mitra dalam merancang penelitian dan kurikulum, serta sebagai dosen tamu atau pembicara seminar. Praktisi, pada gilirannya, harus melibatkan akademisi dalam pembuatan kebijakan organisasi, mengintegrasikan wawasan ilmiah ke dalam strategi, dan mendukung kunjungan akademisi serta hibah penelitian kolaboratif. Ketiga, akademisi dan pengelola jurnal harus terbuka terhadap orientasi pluralisme metodologis untuk merangkul inklusivitas ilmiah dalam produksi pengetahuan. Dalam hal ini, AR dapat memperkaya wacana ilmiah dan memperkuat hubungan akademisi-praktisi. Terakhir, pemerintah harus mendorong ekosistem kolaboratif bagi akademisi dan praktisi dengan memberlakukan peraturan yang mendukung, termasuk pendanaan penelitian kolaboratif yang substansial, insentif untuk kolaborasi, dan kebijakan untuk meningkatkan pertukaran pengetahuan dan data.
Penulis: Badri Munir Sukoco
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat diakses pada:
Haqq, Z. N., Sukoco, B. M., & Yudhoyono, A. H. (2025). The promise of action research for leadership in organisations: a systematic literature review and future agenda. Humanities and Social Sciences Communications, 12(1), 1-19. https://doi.org/10.1057/s41599-025-05798-5





