51动漫

51动漫 Official Website

Korelasi Protein C-reaktif Serum dan Neutrofil dengan Enzim Myeloperoksidase pada Biopsi Inti Paru Post-Mortem Pasien COVID-19

sumber: kompas.com
sumber: kompas.com

COVID-19 merupakan penyakit dengan angka mortalitas tinggi, terutama pada pasien dengan komorbid. Mekanisme perburukan utamanya adalah badai sitokin akibat respons imun berlebihan. CRP dan neutrofil dikenal sebagai penanda inflamasi sistemik, sementara enzim MPO berperan dalam pembentukan NETs yang dapat merusak jaringan paru. Penelitian ini bertujuan menganalisis korelasi antara CRP, neutrofil, dan ekspresi MPO pada jaringan paru pasien COVID-19 kritis yang meninggal.

Penelitian menggunakan desain observasional analitik retrospektif pada pasien COVID-19 kritis yang meninggal di RSUD Dr. Soetomo, Surabaya (Juli揇esember 2020). Biopsi inti paru dilakukan maksimal 2 jam setelah kematian. Data kadar CRP dan neutrofil diperoleh dari rekam medis, sedangkan pemeriksaan MPO pada jaringan paru dilakukan dengan imunohistokimia dan dinilai melalui sistem skor histopatologi. Analisis data menggunakan uji Spearman dan uji beda dengan tingkat signifikansi p<0,05.

Dari 39 sampel, mayoritas pasien berjenis kelamin laki-laki (69,2%) dengan usia rata-rata 48,2 tahun. Komorbid tersering adalah diabetes mellitus (69,2%), dengan penyebab kematian terbanyak berupa kombinasi ARDS dan sepsis (87,2%). Ekspresi MPO pada jaringan paru paling sering skor 1 (43,6%), terutama pada lokasi intravaskular dan intra-alveolar secara bersamaan (53,8%). Analisis statistik menunjukkan tidak ada korelasi signifikan antara kadar CRP dan ekspresi MPO (p=0,331) maupun antara neutrofil serum dan MPO (p=0,073). Namun, terdapat perbedaan signifikan kadar neutrofil antara kelompok MPO intravaskular saja (IV) dan kelompok intravaskular + intra-alveolar (IVA) (p=0,025).

Temuan menunjukkan bahwa meskipun CRP dan neutrofil meningkat pada pasien COVID-19 kritis, biomarker ini tidak secara langsung mencerminkan inflamasi lokal di paru. Distribusi MPO yang dominan pada pembuluh darah dan alveolus mengindikasikan aktivitas NETs yang tinggi di area tersebut, sesuai dengan laporan autopsi pada pasien COVID-19. Dengan demikian, penanda inflamasi sistemik mungkin hanya menggambarkan peradangan umum, bukan kerusakan spesifik paru akibat aktivitas NETs.

Kadar CRP dan neutrofil serum tidak berkorelasi langsung dengan ekspresi MPO di jaringan paru. Namun, distribusi MPO menunjukkan adanya aktivitas NETs yang intens di kompartemen vaskular dan alveolar. Hal ini menegaskan pentingnya menilai inflamasi lokal melalui analisis jaringan, karena biomarker sistemik tidak selalu sejalan dengan kerusakan paru pada COVID-19 kritis.

AKSES CEPAT