Pigmentasi pada mukosa rongga mulut dapat disebabkan oleh faktor intrinsik atau ekstrinsik, baik fisiologis maupun patologis. Kondidi patologis antara lain disebabkan oleh proses infeksi sistemik seperti infeksi human immunodeficiency virus, keganasan, inflamasi, iatrogenik dan diinduksi obat, terkait tembakau, atau etiologi yang tidak diketahui secara pasti. Beberapa kasus hiperpigmentasi rongga mulut tidak berbahaya, dan muncul sebagai varian normal dari warna mukosa, yang tidak memerlukan intervensi lebih lanjut, kecuali ketika pasien sangat khawatir akan penampilannya.
Dari berbagai kasus pigmentasi pada rongga mulut, dapat ditemukan pada lidah, yang dikenal sebagai pigmentasi pada papila fungiform lidah atau disebut sebagai pigmented fungiform papillae. Secara klinis pigmentasi pada papila fungiform lidah dapat dengan mudah didiagnosis dengan pemeriksaan mata telanjang yang cermat, dengan atau tanpa dermoskopi. Beberapa klinisi menggunakan biopsi jaringan sebagai alat diagnostik untuk menyingkirkan keganasan yang mendasarinya.
Pigmentasi pada papila fungiform lidah merupakan kasus yang jarang ditemui dan hanya dilaporkan 1-10% saja didunia dan sebagai besar ditemukan pada ras kulit hitam. Namun beberapa laporan terakhir menyebutkan bahwa kasus ini sudah ditemukan pada ras kulit putih. Literatur yang ada saat ini belum menjelaskan proses bagaimana timbulnya pigmentasi pada papila fungiform lidah, sehingga perlu dilakukan proses telaah yang mendalam.
Secara umum, ditemukan bahwa pigmentasi pada papila fungiform lidah dapat terjadi pada laki-laki maupun perempuan, dari berbagai ras yang ada. Kondisi ini merupakan suatu pigmentasi fisiologis, yang tidak terkait dengan suatu kondisi patologis tertentu. Pemeriksaan darah lengkap, gula darah, vitamin B12, vitamin D, folate, zat besi dan zinc pada pasien pigmentasi pada papila fungiform lidah menunjukkan dalam rentang normal. Begitu juga dengan fungsi ginjal dan hati juga menunjukkan dalam batas normal. Kecurigaan terhadap berbagai infeksi juga tidak ditemukan, seperti halnya marker hepatitis, jamur, infeksi sifilis maupun HIV. Kelainan hormone, autoimmune, mata dan saraf juga tidak ditemukan. Keterkatitan dengan penggunaan obat-obatan, merokok dan riwayat dalam keluarga juga tidak ditemukan pada kasus ini. Sehingga dapat disimpulkam bahwa pigmentasi pada papila fungiform lidah merupakan suatu kondisi yang normal atau fisiologis.
Pertanyaan besar yang harus dijawab adalah 渂agaimana pigmentasi pada papila fungiform lidah bisa muncul?. Hal ini timbul karena lidah merupakan salah satu organ yang sering terjadi trauma akibat melakukan fungsi pengunyahan. Pigmentasi pada papila fungiform lidah dapat timbul karena gangguan dan cedera pada arsitektur vaskular papila fungiform selama proses pengunyahan. Ini dapat menyebabkan ekstravasasi darah dan masuknya influks inflamasi dari makrofag dan limfosit ke dalam jaringan papiler. Proses inflamasi kemudian menyebabkan peningkatan sintesis melanin dalam propria lamina dari papila fungiform yang mengarah ke hiperpigmentasi. Sampai saat ini belum ada perawatan terkait pigmentasi pada papila fungiform lidah, karena pada semua kasus yang dilaporkan kondisi ini tidak berkembang, dan pigmentasi tidak menyebar.
Penulis:
Diah Savitri Ernawati
Meircurius Dwi Condro Surboyo
Tulisan lengkap kami dapat dilihat di:
M.D.C. Surboyo , L. Samaranayake , A.B.R. Santosh, N. F. Ayuningtyas , S.M. Wati , R.P. Rahayu. 2022. Pathophysiology. Pigmented Fungiform Papillae (PFP) of the Tongue: A Systematic Review of Current Aetiopathogenesis and Pathophysiology. Link:





