Akne vulgaris atau yang lebih sering disebut jerawat adalah penyakit kulit kronis yang terjadi akibat peradangan unit pilosebasea yang sering terjadi pada usia remaja, yang ditandai dengan produksi minyak yang berlebih dan adanya lesi inflamasi maupun lesi non-inflamasi yang biasanya terdapat pada wajah (terutama di dahi, pipi, dan dagu), dada, dan punggung bagian atas. Umumnya jerawat mulai muncul pada masa pubertas. Di Indonesia, prevalensi jerawat di kalangan remaja cukup tinggi, yaitu berkisar antara 80-85%. Pada tahun 2015, jumlah penderita jerawat berada pada urutan 3 besar dari jumlah pengunjung Departemen Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin, baik di rumah sakit maupun di klinik dermatologi. Penyebab timbulnya jerawat belum diketahui secara pasti. Beberapa faktor yang dapat mencetuskan terjadinya jerawat antara lain meningkatnya produksi sebum akibat pengaruh hormonal, kolonisasi bakteri Propionibacterium acnes (P. acnes), adanya proses peradangan, faktor genetik, stress psikologis, pola diet, kebersihan diri, iklim, dan pemakaian bahan kosmetik tertentu.
Jerawat diklasifikasikan berdasarkan derajat keparahannya, yaitu ada derajat ringan, sedang, dan berat. Derajat keparahan jerawat penting untuk diketahui karena penanganan jerawat dilakukan berdasarkan derajat keparahannya. Penelitian menyebutkan bahwa 15-30% orang yang mengalami masalah jerawat membutuhkan terapi medis yang tepat dan sesuai dengan derajat keparahannya. Maka dari itu, walaupun jerawat dikatakan sebagai penyakit yang self-limiting, tetap diperlukan kecepatan dan ketepatan diagnosis serta penanganan yang tepat untuk mengatasi masalah jerawat.
Penanganan jerawat dapat dilakukan dengan pemberian terapi topikal, sistemik, maupun kombinasi keduanya. Antibiotik adalah salah satu pilihan dari kedua terapi tersebut. Akan tetapi, penggunaan antibiotik secara terus-menerus dalam penanganan jerawat dapat menimbulkan masalah baru yang dapat menyebabkan kegagalan terapi jerawat, yaitu resistensi bakteri penyebab jerawat terhadap antibiotik. Alternatif terapi jerawat yang memberikan efek yang sama seperti antibiotik harus segera dikembangkan untuk mengatasi masalah ini, salah satunya adalah dengan niasinamid.
Sama seperti antibiotik, niasinamid juga memiliki efek anti radang. Bedanya, niasinamid tidak memicu timbulnya resistensi bakteri. Niasinamid telah terbukti aman digunakan dalam penanganan jerawat. Hanya sebagian kecil dari penderita jerawat yang diterapi dengan niasinamid yang mengalami efek samping ringan seperti kulit terasa gatal, terbakar, dan kulit menjadi berminyak. Niasinamid memberikan hasil yang tak kalah memuaskan daripada jerawat yang ditangani dengan pemberian antibiotik. Namun pemilihan antara antibiotik dan niasinamid harus disesuaikan dengan penyebab utama dari jerawat yang dialami oleh penderita.
Perlu diingat bahwa penanganan jerawat haruslah dilakukan secara holistik, yaitu selain dengan terapi obat-obatan, juga diperlukan kesadaran bagi kita untuk menjaga pola makan, pola tidur, pola pikir, dan kebersihan diri sebagai upaya untuk mencegah terjadinya perburukan derajat jerawat. Selain itu, penting juga untuk mempertimbangkan pemilihan bahan-bahan kosmetik yang akan digunakan.
Penulis : Dr.Trisniartami Setyaningrum,dr.,Sp.KK(K)
Informasi lengkap dari artikel ini dapat dilihat pada tulisan kami di :
Comparison of the Efficacy of Topical Clindamycin versus Niacinamide in the Treatment of Mild to Moderate Acne Vulgaris: A Systematic Review
Eden Leonita, Trisniartami Setyaningrum, Mohammad Fathul Qorib, Damayanti





