UNAIR NEWS Sebuah karya sejarah lahir dari kegelisahan akan narasi yang seringkali terlupakan. Oleh karena itu, alumni 51动漫 (UNAIR) sekaligus tenaga kependidikan UNAIR, Toni Prasetyo, menerbitkan buku berjudul Menembus Kekeringan: Sejarah Sosial, Ekonomi, danPolitik Lokal di Wonogiri Masa Hindia Belanda.
Buku ini tercipta untuk menjawab rasa penasaran intelektual dan keinginan untuk mengangkat martabat sejarah lokal yang seiring terpinggirkan dalam narasi besar nasional. Bagi Toni, karya berupa buku sejarah ini tak hanya sekadar dokumentasi semata, melainkan upaya identitas dan pemertahanan suatu daerah.
淏agi saya, menulis sejarah Wonogiri berarti menulis tentang ketahanan manusia di tengah keterbatasan. Sejarah lokal tidak boleh berhenti di museum atau arsip, tetapi harus kembali menjadi cermin bagi masyarakatnya sendiri. Upaya ini agar generasi muda Wonogiri tahu bahwa mereka berasal dari tanah yang pernah berjuang keras, bukan sekadar daerah gersang tanpa masa depan, jelasnya.

Temuan Besar
Salah satu temuan paling mencengangkan dalam bukunya adalah fakta bahwa wonogiri pernah berjaya. Wonogiri yang kerap mendapat cap sebagai daerah tandus dan miskin, ternyata pernah jadi pusat produksi dan ekspor singkong terbesar di Jawa pada 1925. Data arsip kolonial mengungkap komoditas singkong dari Wonogiri bahkan telah ekspor hingga ke Tiongkok dan Jepang melalui Pelabuhan Semarang.
淭emuan-temuan ini membalik citra lama, Wonogiri bukan sekadar ‘daerah tandus’. Melainkan, ruang ekonomi kolonial yang aktif, terhubung dengan pasar global, dan memiliki masyarakat yang dinamis serta kreatif dalam menghadapi keterbatasan alam. Dengan kata lain, Wonogiri tidak hanya bertahan di tengah kekeringan ia menembusnya, tuturnya.
Ia menambahkan, melalui penelusuran arsip seperti De Locomotief, Wonogiri merupakan salah satu penghasil terbesar di Jawa. 淔akta ini memperlihatkan bahwa bahkan wilayah yang dianggap ‘kering dan terisolasi’ seperti Wonogiri sebenarnya tersambung erat dengan ekonomi dunia kolonial, imbuhnya.
Relevansi Masa Kini
Dari perjalanan panjang masyarakat Wonogiri pada masa lalu, ia mengambil beberapa kearifan lokal yang masih relevan untuk menjawab segala tantangan ketahanan pangan dan ekonomi masyarakat saat ini. Hal ini menjadi pelajaran berharga dan bernilai untuk masa kini.
淧elajaran paling penting dari masyarakat Wonogiri masa kolonial adalah kemandirian dalam menghadapi keterbatasan. Di tengah tanah yang gersang dan kebijakan kolonial yang menekan, masyarakat Wonogiri mampu membangun ekonomi subsisten yang tangguh. Upaya tersebut berbasis solidaritas sosial dan diversifikasi pangan, sebutnya.
Melalui karyanya ini, ia berpesan kepada mahasiswa untuk tidak ragu mendalami bidang humaniora seperti sejarah. 淛adi, bagi mahasiswa yang ragu: jangan lihat sejarah sebagai jurusan 榤asa lalu, tapi sebagai ilmu membaca peradaban. Karena siapa pun yang mampu membaca masa lalu dengan jernih, dialah yang bisa menulis masa depan dengan bijak, pungkasnya.
Penulis: Mohammad Adif Albarado
Editor: Ragil Kukuh Imanto





