51动漫

51动漫 Official Website

Analisis Multilevel Gaya Hidup dan Lingkungan Rumah Tangga untuk Balita dengan Gejala Pernafasan Akut Infeksi

Foto by Mamapapa id

Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) dianggap sebagai salah satu penyebab utama kematian global pada anak di bawah 5 tahun, terutama di negara berkembang. Peningkatan kepadatan penduduk yang tidak terkendali dikaitkan dengan masyarakat yang kurang terorganisir dari segi sosial, budaya, dan kesehatan. Angka kesakitan dan kematian Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) pada balita di Indonesia relatif tinggi. Karakteristik sosio-demografis dianggap sebagai salah satu faktor penyebab ISPA di Indonesia. Kondisi ini dapat mempengaruhi balita terutama pada keluarga dengan status sosial ekonomi rendah atau di bawah garis kemiskinan karena rendahnya asupan makanan bergizi dan lingkungan perumahan yang tidak sesuai. Angka kesakitan dan kematian ISPA relatif tinggi, terutama pada balita.3 ISPA merupakan salah satu penyebab kematian utama pada balita (16%). Tingginya angka kematian tercatat terutama di Asia Selatan dan Afrika. Persentase ISPA pada balita adalah 12,8% di Indonesia, dengan penyebaran tertinggi di 5 provinsi: Nusa Tenggara Timur (18,6%), Banten (17,7% ), Jawa Timur (17,2%), Bengkulu (16,4%), dan Kalimantan Tengah (15,1%). ISPA dapat dikaitkan dengan gaya hidup balita dan lingkungan rumah tangganya. Studi ini menganalisis survei cross-sectional (Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia, SDKI 2007, 2012, dan 2017). Sebuah studi skala besar memperkirakan fertilitas, mortalitas, keluarga berencana, layanan kesehatan ibu dan anak, dan indikator lain yang relevan di seluruh Indonesia pada tingkat nasional. Data SDKI diperoleh dari beberapa instansi pemerintah, seperti Kementerian Kesehatan RI, Badan  kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional, dan Badan Pusat Statistik.

Studi menunjukkan penurunan yang luar biasa dalam prevalensi gejala ISPA pada anak di bawah 5 tahun antara 2012 dan 2017 di Indonesia. Prevalensi anak dengan gejala ISPA berkurang secara signifikan dari 5,12% pada tahun 2012 menjadi 4,22% pada tahun 2017. Keberhasilan ini merupakan hasil dari kemajuan substansial Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). SDGs dibuat oleh Perserikatan Bangsa- Bangsa (PBB) dan dipromosikan sebagai tujuan global untuk pembangunan berkelanjutan. Deklarasi SDGs, antara lain bertujuan untuk menurunkan angka kematian anak dan meningkatkan kesehatan ibu. Peningkatan kesehatan ibu dan anak dari tahun 2012 hingga 2017 di Indonesia, antara lain peningkatan persentase anak yang mendapat vitamin A dalam 6 bulan terakhir, anak yang mendapat obat cacing dalam 6 bulan sebelumnya, tingkat tingkat pendidikan baik ibu tingkat perguruan tinggi maupun ibu yang menyelesaikan tingkat pendidikan kedua. Data pendukung juga menunjukkan peningkatan persentase bahan bakar memasak bersih, anggota keluarga yang tidak merokok di rumah, dan kualitas air minum yang baik.

Faktor sosio-demografi memiliki pengaruh yang signifikan terhadap prevalensi gejala ISPA pada balita di Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan gejala ISPA paling banyak pada anak usia (1-2 tahun) pada tahun 2012 dan 2017. Temuan ini sejalan dengan penelitian lain selain penelitian kesehatan dasar yang menunjukkan bahwa gejala ISPA tertinggi terjadi pada anak usia 1 sampai 2 tahun (14,4%). Anak di bawah 1 tahun memiliki risiko infeksi yang rendah karena orang tua biasanya menjauhkan mereka dari polusi. Selain itu, bayi kurang rentan terhadap gejala ISPA karena kepatuhan ibu terhadap pemberian ASI eksklusif disertai makanan pendamping ASI. Menyusui meningkatkan imunoglobulin bayi yang melindungi mereka dari ISPA.

Terjadi penurunan prevalensi gejala ISPA pada anak pada tahun 2007, 2012, dan 2017, tanpa perbedaan yang mencolok pada faktor lain yang terkait. Faktor gaya hidup dan lingkungan rumah tangga seperti penggunaan bahan bakar yang kotor, keberadaan perokok dalam rumah tangga, kualitas air minum yang buruk, fasilitas toilet yang tidak tersedia selain usia ibu dan usia anak merupakan faktor determinan yang harus diprioritaskan dan ditingkatkan. Kesadaran diri keluarga juga harus ditingkatkan untuk prospek kelangsungan hidup balita yang lebih baik.

Penulis: Lilis Sulistyorini

Link Jurnal:

AKSES CEPAT