Kebisingan akibat transportasi merupakan salah satu bentuk polusi suara yang sering diabaikan, padahal dapat menimbulkan dampak kesehatan baik auditori (pendengaran) maupun non-auditori (seperti tekanan darah dan efisiensi kebiasaan tidur). Ibu rumah tangga menjadi kelompok yang rentan karena sebagian besar waktunya dihabiskan di rumah, terutama di kawasan padat yang dekat dengan jalur kereta api.
Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Sebanyak 60 responden dilibatkan, terdiri atas 30 ibu rumah tangga dari daerah terpapar kebisingan (Ambengan Selatan Karya) dan 30 dari daerah yang relatif tenang (Rusunawa Wonorejo). Data dikumpulkan melalui pengukuran tingkat kebisingan menggunakan Sound Level Meter, pemeriksaan ambang dengar dengan audiometer, pengukuran tekanan darah dengan tensimeter digital, serta kuesioner Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) untuk menilai efisiensi kebiasaan tidur.
Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan signifikan pada beberapa variabel antara kedua kelompok. Rata-rata tingkat kebisingan di Ambengan Selatan Karya mencapai 68,97 dB(A), tergolong moderat bising, sedangkan di Rusunawa Wonorejo hanya 59,50 dB(A) atau tergolong aman. Uji statistik menunjukkan perbedaan yang bermakna (p=0,021). Ambang pendengaran telinga kanan juga berbeda signifikan (p=0,039), tekanan darah (p=0,007), dan efisiensi kebiasaan tidur (p=0,040), sedangkan ambang pendengaran telinga kiri tidak menunjukkan perbedaan berarti.
Sebagian besar ibu rumah tangga di wilayah terpapar mengalami gangguan pendengaran dan hipertensi. Sebanyak 83,3% responden di Ambengan Selatan Karya tergolong hipertensi, sedangkan di Rusunawa Wonorejo hanya 50%. Efisiensi kebiasaan tidur juga lebih rendah di kelompok terpapar, dengan hanya 40% yang memiliki efisiensi tidur sangat baik dibandingkan 66,7% pada kelompok tidak terpapar.
Faktor individu, perilaku, dan lingkungan turut memengaruhi hasil tersebut. Analisis Chi-Square menunjukkan bahwa usia dan penggunaan penyuara telinga berpengaruh signifikan terhadap ambang pendengaran telinga kanan (p=0,017 dan p=0,013), usia berpengaruh terhadap tekanan darah (p=0,023), dan keberadaan barier seperti tembok atau pepohonan berpengaruh terhadap efisiensi kebiasaan tidur (p=0,044). Faktor lain seperti lama tinggal, konsumsi kopi, dan asupan garam tidak menunjukkan hubungan yang signifikan.
Penulis menjelaskan bahwa tingginya kebisingan di Ambengan Selatan Karya disebabkan jarak rumah yang sangat dekat dengan rel (sekitar 5 meter), serta keberadaan perlintasan dan jalan raya yang ramai. Kebisingan dari klakson kereta dan kendaraan bermotor meningkatkan paparan suara hingga lebih dari 70 dB(A). Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa peningkatan 10 dB(A) dapat dirasakan dua kali lebih keras oleh manusia dan setiap kenaikan tersebut meningkatkan risiko hipertensi sebesar 7“13%.
Secara fisiologis, kebisingan menyebabkan stres kronis melalui aktivasi sistem saraf simpatik dan peningkatan hormon stres seperti kortisol dan katekolamin. Mekanisme ini memicu penyempitan pembuluh darah dan peningkatan tekanan darah. Pada malam hari, kebisingan juga mengganggu fungsi saraf pusat sehingga menurunkan efisiensi kebiasaan tidur. Walaupun seseorang tampak tidur, otak tetap merespons suara, menyebabkan tidur tidak nyenyak dan menurunkan kualitas pemulihan tubuh.
Untuk mengurangi paparan kebisingan, penelitian ini merekomendasikan pemasangan noise barrier atau dinding peredam di sekitar rel, serta penggunaan vegetasi hijau padat sebagai penahan suara alami. Material seperti beton ringan, bambu yang disusun dalam pola kristal sonik, dan bahan daur ulang seperti kardus atau serbuk kayu juga dapat digunakan karena terbukti efektif menurunkan kebisingan hingga 27 dB.
Penelitian ini membuktikan bahwa paparan kebisingan lingkungan dari kereta api secara signifikan meningkatkan risiko gangguan pendengaran, hipertensi, dan penurunan efisiensi kebiasaan tidur pada ibu rumah tangga. Faktor usia, kebiasaan penggunaan penyuara telinga, dan keberadaan barier menjadi faktor yang paling berpengaruh. Hasil penelitian ini menegaskan pentingnya upaya pengendalian kebisingan di permukiman dekat rel kereta, serta perlunya kebijakan tata ruang yang mempertimbangkan aspek kesehatan masyarakat agar kualitas hidup warga tetap terjaga.
PENULIS :
NAMA : KHULIYAH CANDRANING DIYANAH, S.KM., M.KL
NIP : 198611102012122002
HANDPHONE : +62 85645945551
JUDUL : Analysis of Differences in Environmental Noise Levels and the Influence of Individual, Behavioral, and Environmental Factors on Hearing Threshold, Blood Pressure, and Habitual Sleep Efficiency
LINK ARTIKEL :
PUBLISH : Vol 17 No 4 Tahun 2025
Jurnal Kesehatan Lingkungan (Journal of Environmental Health) “ Scopus Q4





