51动漫

51动漫 Official Website

Mengapa Orang Miskin Justru Lebih Banyak Memanfaatkan Puskesmas? Temuan Penting dari Indonesia Timur

dokter gigi
SEORANG dokter gigi muda memberikan penyuluhan pentingnya menjaga kesehatan gigi dan rongga mulut di Puskesmas Jagir, Kamis (20/7). (Foto Defrina Sukma S.)

Ketika berbicara tentang ketimpangan layanan kesehatan, banyak orang langsung membayangkan bahwa masyarakat miskin paling sulit mengakses layanan medis. Namun, sebuah penelitian terbaru tentang pemanfaatan layanan kesehatan primer (primary healthcare) di Indonesia Timur justru menunjukkan fakta yang menarik攂ahkan mengejutkan. Studi yang menganalisis lebih dari 57 ribu responden dari Riset Kesehatan Dasar 2018 ini menemukan bahwa kelompok termiskin adalah pengguna paling aktif layanan kesehatan primer, sementara mereka yang lebih kaya justru lebih jarang menggunakan puskesmas atau fasilitas kesehatan tingkat pertama lainnya. Mengapa bisa demikian?
Primary Healthcare: Garda Terdepan Kesehatan Masyarakat
Layanan kesehatan primer adalah fondasi dari sistem kesehatan, terutama di negara berpenghasilan menengah seperti Indonesia. Puskesmas, klinik pratama, dan poskesdes adalah titik pertama masyarakat mencari pertolongan medis. Banyak studi global menunjukkan bahwa kondisi sosial dan ekonomi sangat mempengaruhi apakah seseorang memilih memanfaatkan layanan ini atau tidak. Hasil penelitian ini menegaskan bahwa ketimpangan sosial ekonomi tetap menjadi faktor kuat yang membentuk perilaku kesehatan di Indonesia Timur.
Temuan yang Menggugah: Semakin Kaya, Semakin Menjauh dari Layanan Primer
Analisis menunjukkan bahwa setiap peningkatan tingkat sosial ekonomi justru menurunkan peluang seseorang memanfaatkan layanan kesehatan primer. Artinya, semakin kaya seseorang, semakin kecil kemungkinan ia datang ke puskesmas.
Mengapa? Ada dua alasan utama: 1) Persepsi kualitas: Banyak masyarakat berpenghasilan lebih baik menganggap rumah sakit memberikan pelayanan yang lebih berkualitas daripada puskesmas, 2) Akses finansial: Berbeda dari kelompok miskin yang terbantu oleh BPJS Penerima Bantuan Iuran (PBI) dan subsidi lain, masyarakat kaya merasa lebih bebas memilih layanan kesehatan yang dianggap lebih memadai.
Sebaliknya, penelitian ini menunjukkan bahwa bagi masyarakat miskin di Indonesia Timur, tidak ada hambatan biaya dalam memanfaatkan layanan primer. Ini adalah bukti nyata bahwa kebijakan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dan subsidi iuran bagi masyarakat miskin bekerja dengan baik dalam konteks layanan dasar.
Ketimpangan Wilayah: Ketika Puskesmas Jadi Satu-Satunya Pilihan
Rata-rata pemanfaatan layanan primer di Indonesia Timur mencapai 9,2%, jauh lebih tinggi dibandingkan wilayah Jawa yang hanya 5,1%. Kondisi ini bukan semata indikator baik攋ustru menunjukkan ketergantungan masyarakat terhadap puskesmas sebagai satu-satunya fasilitas kesehatan yang ada.
Konteks wilayah sangat menentukan: Akses transportasi terbatas; Jarak tempuh jauh; Distribusi tenaga kesehatan belum merata. Semua ini membuat masyarakat Indonesia Timur menghadapi tantangan akses yang jauh berbeda dibandingkan wilayah lain. Penelitian ini juga menemukan bahwa semakin lama waktu tempuh menuju layanan primer, semakin kecil kemungkinan seseorang memanfaatkannya. Sederhana, namun krusial.
Demografi dan Asuransi Kesehatan Juga Berperan
Faktor seperti umur, jenis kelamin, pendidikan, status perkawinan, hingga jenis pekerjaan terbukti memengaruhi perilaku mencari pelayanan kesehatan. Namun salah satu faktor paling kuat adalah kepemilikan asuransi kesehatan攖erutama BPJS yang dikelola pemerintah. Orang dengan asuransi pemerintah lebih cenderung memanfaatkan layanan kesehatan primer dibandingkan yang tidak memiliki asuransi.
Apa Artinya bagi Kebijakan Kesehatan?
Temuan ini mengingatkan kita bahwa ketimpangan bukan hanya tentang 渟iapa yang bisa bayar. Di banyak daerah di Indonesia Timur, tantangannya adalah jarak, transportasi, dan ketersediaan layanan. Karena itu, studi ini merekomendasikan pemerintah untuk: 1) Memperpendek jarak layanan kesehatan melalui pembangunan fasilitas baru; 2) Meningkatkan konektivitas transportasi kesehatan; 3) Memperkuat telemedicine dan layanan kesehatan digital, terutama untuk daerah terpencil; 4) Menjaga mutu layanan primer agar tetap menjadi pilihan, bukan sekadar 減ilihan satu-satunya.

Penulis : Ratna Dwi Wulandari, Fakultas Kesehatan Masyarakat 51动漫
Sumber artikel : Wulandari, R.D.,Laksono, A.D., Zuardin, Rohmah, N., Dahlui, M., 2025, Socioeconomic disparities in primary healthcare utilization in Eastern Indonesia, Clinical Epidemiology and Global Health, Volume 35, 102154
DOI :

AKSES CEPAT