Sindrom metabolik (MetS) ditandai dengan munculnya sekelompok gangguan kesehatan dari berbagai kelainan metabolisme seperti gangguan toleransi glukosa, hiperinsulinisme, hipertrigliseridemia, kolesterol lipoprotein densitas rendah (HDL-c), dan hipertensi. Beberapa penelitian menyoroti hubungan yang signifikan antara MetS dan kondisi lain seperti penyakit fatty liver, penyakit ginjal, penyakit kardiovaskular (CVD), diabetes mellitus, dan jenis kanker tertentu, yang dikenal sebagai komplikasi umum dari obesitas. Akibatnya, pencegahan dini dan identifikasi MetS penting untuk mencegah dampak kesehatan yang lebih parah.
Selama beberapa tahun terakhir, prevalensi MetS telah meningkat secara dramatis di beberapa negara maju dan berkembang, kemungkinan karena perubahan gaya hidup dan status sosial ekonomi. Beberapa penelitian telah melaporkan bahwa ada peningkatan prevalensi MetS di Asia, khususnya di negara-negara Timur Tengah, dan tren peningkatan MetS juga telah diamati di Iran, yang diperkirakans seperti negara-negara Barat. Sebuah tinjauan sistematis baru-baru ini dan meta-analisis menunjukkan bahwa prevalensi dan tingkat kejadian MetS di Iran adalah 26% dan 97,96%, masing-masing. Seseorang juga harus mempertimbangkan bahwa meskipun usia dan genetika merupakan faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi, tetapi terdapat faktor risiko sindrom metabolik yang dapat dimodifikasi yaitu aktivitas fisik yang kurang, makanan yang dikonsumsi, dan konsumsi energi yang berlebihan.
Selanjutnya, baru-baru ini para peneliti telah meneliti efek zat gizi penting pada MetS. Juga telah dilaporkan bahwa peningkatan diet seng, magnesium, kalium, dan kalsium terkait dengan kemungkinan MetS yang lebih rendah. Mayoritas studi epidemiologi terkait MetS dan diet umumnya berfokus pada zat gizi tunggal atau makanan. Mengingat kompleksitas diet dan interaksi potensial antara zat gizi, pendekatan zat gizi tunggal mungkin membingungkan. Pola konsumsi zat gizi keseluruhan mungkin lebih penting dalam etiologi MetS daripada menilai efek konsumsi zat gizi tunggal karena kompleksitas dan interaksi sinergis antara zat gizi. Akibatnya, analisis pola konsumsi zat gizi tampaknya bermanfaat dalam penilaian hubungan antara pola konsumsi zat gizi dan terjadinya beberapa penyakit kronis. Selain itu, manfaat analisis pola konsumsi zat gizi adalah membantu untuk melihat kombinasi zat gizi dalam mekanisme biologis yang kompleks, serta lebih mudah digunakan untuk studi internasional.
Beberapa penelitian telah mengevaluasi hubungan antara pola konsumsi zat gizi dan penyakit kronis menggunakan analisis faktor dan memberikan hasil yang berbeda pada populasi yang berbeda. Dalam studi terbaru yang diterbitkan dari Iran, Teymoori et al. telah melaporkan bahwa pola konsumsi zat gizi yang kaya kalium, vitamin C dan A, B6, dan fruktosa terkait dengan risiko yang lebih rendah dari hiperinsulinemia, dan resistensi insulin. Salehi-Abargouei dkk. menunjukkan bahwa kepatuhan yang lebih besar terhadap pola yang terdiri dari zat besi, tiamin, betaine, selenium, niasin, folat, dan pati terkait dengan penurunan risiko obesitas sentral sementara pola lain termasuk serat larut dan tidak larut, tembaga, fruktosa, glukosa, sukrosa , dan vitamin K dan C meningkatkan risiko. Faktanya, pola konsumsi zat gizi mencerminkan kebiasaan makan penduduk yang sebenarnya dan memberikan lebih banyak informasi tentang kemungkinan interaksi yang mendasari dan efek sinergis zat gizi. Oleh karena itu, tujuan dari penelitian ini adalah untuk menilai hubungan pola konsumsi zat gizi utama dengan risiko MetS pada populasi orang dewasa gemuk yang terlihat sehat di Tabriz-Iran.
Meskipun ada bukti yang berkembang tentang hubungan antara pola konsumsi zat gizi dan faktor risiko metabolik, tetapi sangat sedikit yang diketahui tentang hubungan antara pola konsumsi zat gizi dan sindrom metabolik (MetS). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji hubungan pola konsumsi zat gizi dengan MetS di antara orang dewasa obesitas yang terlihat sehat yang tinggal di Tabriz, Iran.
347 orang dewasa obesitas yang terlihat sehat (BMI 30 kg/m2) berusia 20-50 tahun dilibatkan dalam penelitian cross-sectional ini. Asupan makanan dari 38 zat gizi dinilai dengan kuesioner semi-qantitative food frequency (FFQ) yang di validasi dari 132 jenis makanan. Pola konsumsi zat gizi ditentukan dengan menggunakan analisis faktor. MetS didefinisikan berdasarkan pedoman the National Cholesterol Education Program Adult Treatment Panel III (ATP III).
Tiga pola konsumsi zat gizi utama dikelompokkan menjadi: 淧ola berbasis mineral, 淧ola berbasis gula sederhana dan 淧ola berbasis lemak. Tidak ada hubungan yang signifikan antara pola konsumsi zat gizi dan MetS, dalam crude model bahkan setelah disesuaikan untuk perancu. Ada perbedaan yang signifikan antara kuartil dalam pola berbasis mineral untuk massa bebas (FFM), tekanan darah diastolik (DBP), besar lingkar pinggang (WC) dan rasio pinggang terhadap pinggul (WHR). Dalam pola berbasis gula sederhana, diamati hubungan yang signifikan untuk tingkat tekanan darah sistolik (SBP), tekanan darah diastolic (DBP), dan trigliserida (TG). Selain itu, pola berbasis lemak berhubungan positif dengan BMI, dan berat badan.
Penelitian ini tidak menemukan adanya hubungan yang signifikan antara pola konsumsi zat gizi dengan risiko MetS di antara populasi orang dewasa obesitas yang terlihat sehat. Sementara pada penelitian ini ditemukan bahwa terdapat efek merusak dari pola berbasis gula dan lemak sederhana pada beberapa faktor risiko metabolik, temuan pada penelitian ini juga menunjukkan bahwa pola berbasis mineral memiliki keterkaitan dengan faktor metabolisme yang lebih sehat pada populasi Iran. Hasil ini harus dibuktikan dengan penelitian kedepannya untuk mengenali hubungan sebab akibat antara kepatuhan terhadap pola konsumsi zat gizi tertentu dan sindrom metabolik.
Untuk mengetahui artikel secara lebih detail, maka dapat mengunjungi link dibawah :
Judul : Nutrient pattern analysis of mineral based, simple sugar based, and fat based diets and risk of metabolic syndrome: a comparative nutrient panel
Penulis : Trias Mahmudiono





