Manusia memiliki dua dimensi: material dan spiritual, yang keduanya membutuhkan penguatan untuk tumbuh dan berkembang. Dengan kehati-hatian dan usaha, manusia dapat memperoleh manfaat dari rahmat ilahi dan meletakkan landasan bagi pertumbuhan dan keunggulan materi dan spiritual mereka. Sementara itu, profesi dan pekerjaan adalah salah satu isu yang memainkan peran mendasar dalam membuat material dan spiritual kemajuan.
Etika dan pendidikan akan menjadikan manusia makhluk yang indah dan mengagumkan di semua alam eksistensial. Dalam pendekatan umum agama, etika Islam adalah berkembangnya sifat manusia dan didasarkan pada pemahaman tentang manusia. Secara umum, budaya adalah konsep yang samar-samar dan sering mengacu pada sebuah aspek organisasi yang tidak terdefinisi. Budaya apapun dalam organisasi mendefinisikan perilaku yang sesuai dalam organisasi. Selain itu, budaya mencakup nilai-nilai umum dan kepercayaan karyawan yang ditentukan oleh pemimpin organisasi terkait dan kemudian dikembangkan dan diperkuat dengan berbagai metode. Budaya organisasi dapat menjadi refleksi dari nilai-nilai utama organisasi, yang meliputi metode bisnis, manajemen alur kerja, interaksi dan perilaku terhadap pelanggan.
Cendekiawan Muslim telah mendefinisikan etika sebagai sifat dan karakteristik yang melekat dalam diri individu yang menyebabkan tindakan yang sesuai dengan sifat tersebut dikeluarkan secara spontan tanpa perlu pemikiran dan refleksi manusia. Etika Islam menyatakan benar atau salahnya atribut dalam kerangka konsep Islam, sedangkan konsep etika kerja Islam berurusan dengan berfungsinya kerangka konsep Islam dalam bentuk kegiatan karya manusia di berbagai organisasi. Selain itu, etika kerja dapat efektif dalam organisasi ketika hal tersebut dapat membentuk budaya organisasi.
Penelitian menunjukkan bahwa etika kerja Islam memiliki hubungan yang signifikan dengan berbagai faktor individu, profesional dan organisasi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara etika kerja islami dan budaya organisasi. Populasi penelitian ini terdiri dari 1500 Staf Muslim dari 30 organisasi layanan (organisasi keuangan, pendidikan, medis, dan hotel) di Moskow, Rusia, pada tahun 2021, di mana 306 orang terpilih sebagai sampel menggunakan tabel ukuran sampel Krejcie dan Morgan. Analisis data dilakukan oleh perangkat lunak statistik, Statistical Package for the Social Sciences (SPSS).
Hasil studi ini mengkonfirmasi bahwa terdapat hubungan yang signifikan dan positif antara etika kerja Islam dan budaya organisasi di antara staf Muslim Rusia (尾 = 0,53; T = 8.65). Pendekatan dunia saat ini adalah untuk kembali ke rasionalitas dan etika. Selain itu, etika adalah salah satu yang terpenting diskusi agama dan salah satu tujuan paling signifikan para nabi ilahi. Dalam Islam, etika Islam digunakan sebagai pedoman untuk perbuatan yang benar dan salah. Selain itu, Islam menyetujui penggunaan etika dalam masyarakat. Tata kelola etika kerja Islam memiliki banyak manfaat bagi organisasi sebagai bagian dari masyarakat. Dalam kelompok kerja dan organisasi, etika Islam menentukan lintasan kegiatan dan membentuk budaya organisasi. Dari sudut pandang agama, pekerjaan berlangsung di dunia eksistensi dan orang tersebut dapat disinkronkan dengan alam semesta dan penciptanya dengan fungsi yang tepat. Pekerjaan ekonomi lebih disukai oleh umat Islam karena berbagai alasan, seperti menyediakan mata pencaharian, memenuhi kebutuhan masyarakat, harga diri, pertumbuhan intelektual, kesehatan fisik, menghilangkan wajah jelek kemiskinan, menyebarkan moralitas dan menghilangkan korupsi sosial, melestarikan agama dan mendapatkan pahala akhirat disertai dengan keinginan bekerja, semuanya yang mendorong orang percaya untuk bekerja. Penyebaran budaya agama tentang pekerjaan meletakkan dasar bagi orang untuk membuat segala upaya untuk pertumbuhan ekonomi. Selain itu, tata kelola budaya religius memiliki efek positif pada produktivitas tenaga kerja dan pengurangan biaya tambahan seperti pemborosan sumber daya dan pemborosan waktu serta meningkatkan hubungan manusia di pasar kerja.
Penulis: Trias Mahmudiono, S.KM., M.P.H., Ph.D.
Link:





