51¶¯Âþ

51¶¯Âþ Official Website

Analisis Regimen Kemoterapi terhadap Survival Rate Pasien Kanker Kolorektal

KOMPOSISI MONOSAKARIDA FUCOIDAN DARI Sargassum plagiophyllum DAN AKTIVITAS ANTI DEMAM BERDARAH
Ilustrasi Demam Berdarah (Foto: Infolabmed)

Demam Dengue merupakan penyakit demam akut yang menimbulkan berbagai gejala, seperti sakit kepala, nyeri tulang atau sendi, nyeri otot, mialgia, leukopenia, dan trombositopenia. Gejala Demam Dengue dapat dialami oleh semua usia, baik anak-anak maupun dewasa, yang terbagi menjadi empat tingkatan. Derajat pertama dan kedua ditandai dengan tidak adanya kegagalan sirkulasi atau syok. Sementara itu, derajat ketiga dan keempat ditandai dengan kegagalan sirkulasi, yang biasanya diartikan sebagai Dengue Shock SyndromeÌý(¶Ù³§³§).

Tanda-tanda utama Demam Berdarah Dengue (DBD) meliputi demam tinggi, fenomena hemoragik, hepatomegali, dan kegagalan sirkulasi pada kasus yang berat. Pasien dapat mengalami syok hipovolemik karena kebocoran plasma, yang disebabkan oleh DSS. Pada pasien DBD, pemberian terapi cairan kristaloid dan koloid sangat penting untuk memastikan hidrasi yang adekuat dan menjaga keseimbangan elektrolit dalam tubuh. Metode ini penting dalam mengatasi dehidrasi dan komplikasi yang terkait dengan DBD.

Penelitian ini merupakan penelitian observasional deskriptif yang dilakukan pada bulan Maret sampai dengan Juni 2023. Subjek dalam penelitian ini adalah pasien di Instalasi Rawat Inap RS 51¶¯Âþ yang mendapatkan terapi cairan pada bulan Januari 2021-Desember 2022. Jumlah pasien yang memenuhi kriteria inklusi sebanyak 60 pasien. Pengolahan data dilakukan dengan mendata pasien DD dan DBD yang dibagi berdasarkan penggunaan terapi cairan.

Penelitian ini menunjukkan bahwa cairan yang digunakan selama fase rumatan meliputi D5½NS (53%), RD5 (30%), asering-5 (12%), dan D5¼NS (5%), seperti yang ditunjukkan pada Tabel 3. Cairan RD5, D5½NS, D5¼NS, dan asering-5 ditemukan mengandung konsentrasi dekstrosa yang setara. Karakteristik pembeda dari D5½NS dan D5¼NS bergantung pada konsentrasi natrium klorida (Na+) dan klorida (Cl-) yang bervariasi. Sementara itu, cairan RD5 dan asering-5 menunjukkan kadar kalium (K+) dan kalsium (Ca++) yang lebih tinggi.

Penggunaan D5½NS lebih lazim karena komposisi cairan infusnya, yang terdiri dari dekstrosa 5% dan NaCl 0,45%. Kandungan NaCl tersebut dikenal sebagai cairan fisiologis, yang dianggap memiliki komposisi yang mirip dengan cairan tubuh. Oleh karena itu, penggunaannya dianggap tepat untuk menggantikan cairan tubuh yang telah hilang. Terapi cairan pada pasien DBD anak di RS 51¶¯Âþ menggunakan dekstrosa, karena gejala yang sering muncul seperti mual dan muntah, disertai dengan nafsu makan yang menurun setelah masuk rumah sakit (MRS). Pemberian dekstrosa 5% secara intravena dalam bentuk infus digunakan untuk memenuhi kebutuhan kalori tubuh. Penggunaannya dalam terapi parenteral telah terbukti pada pasien yang mengalami kekurangan kalori akibat dehidrasi dan pada pasien dengan hipoglikemia.

Jenis cairan yang diberikan harus disesuaikan dengan kondisi dan diagnosis pasien. Pada pasien yang didiagnosis DF, cairan yang dianjurkan adalah D5½NS dan D5¼NS karena osmolaritasnya lebih rendah dibandingkan dengan RD5 dan asering-5. Penyesuaian ini dilakukan dengan mempertimbangkan bahwa kasus DF biasanya lebih ringan daripada DHF. Perbedaan antara kedua cairan tersebut adalah penggunaannya untuk pasien anak-anak.

Secara spesifik, D5½NS dianjurkan untuk pasien dengan berat badan di atas 10 kg dan berusia di atas tiga tahun, sedangkan D5¼NS ditunjukkan untuk pasien di bawah tiga tahun atau dengan berat badan di bawah 10 kg. Pemilihan cairan ini terkait dengan kadar kebutuhan natrium harian dalam tubuh. Pada pasien yang didiagnosis DHF, cairan RD5 dan asering-5 diberikan untuk menggantikan cairan yang merembes dari ruang intravaskular ke ekstravaskular. Kedua cairan ini mengandung elektrolit primer, yaitu K+ dan Ca++, yang penting bagi kompartemen intravaskular dan memiliki osmolaritas yang lebih tinggi, sehingga memungkinkan bertahan dalam ruang intravaskular untuk jangka waktu yang lebih lama.

Penelitian ini melakukan analisis terapi cairan pada pasien anak dengan DBD di Rumah Sakit 51¶¯Âþ periode Januari 2021 sampai Desember 2022 (n=60 pasien) untuk mengetahui jenis cairan yang paling efektif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa untuk DBD digunakan RD5 (15%), asering-5 (2%), D5½NS (43%), dan D5¼NS (3%). Sedangkan pada DBD digunakan RD5 (17%), asering-5 (8%), D5½NS (10%), dan D5¼NS (2%). Jenis cairan disesuaikan dengan kondisi pasien dengan jumlah pemberian maksimal 1500-2000 mL selama 3-7 hari.

Penulis: Prof Dr apt Yulistiani MSi

Link Artikel Jurnal: https://jppres.com/jppres/fluid-therapy-in-pediatric-hemorrhagic-dengue-fever/

AKSES CEPAT