Demam berdarah dengue (DB) merupakan salah satu isu kesehatan masyarakat yang telah menyebar secara global, dengan nyamuk Aedes aegypti sebagai vektor utama penyebar virusnya. Nyamuk ini berkembang biak dengan optimal di wilayah beriklim tropis, termasuk Indonesia. Selain itu, tingkat kepadatan penduduk yang tinggi dan kondisi infrastruktur sanitasi yang kurang memadai semakin memperburuk situasi, sehingga kasus DB di Indonesia mencapai angka yang sangat tinggi setiap tahunnya, yakni sekitar 100.000 kasus per tahun.
Untuk mengatasi permasalahan ini, diperlukan strategi penanganan yang efektif, terutama dengan pendekatan spasial. Sebagai negara kepulauan, Indonesia memiliki karakteristik lingkungan, sosial-ekonomi, dan kelembagaan yang beragam di setiap daerahnya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis determinan kasus DB di Indonesia melalui pendekatan spasial. Studi ini menggunakan metode perhitungan indeks Gini untuk memetakan distribusi kasus DB serta Geographically Weighted Panel Regression (GWPR) dengan data panel dari 34 provinsi selama periode 2017“2022. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan yang bermanfaat bagi para pemangku kebijakan dalam merancang program pengendalian DB yang sesuai dengan karakteristik wilayah masing-masing.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum, kasus DB di Indonesia terdistribusi secara nasional, meskipun ada beberapa daerah dengan tingkat kejadian yang lebih tinggi. Selama pandemi Covid-19 pada tahun 2020 dan 2021, distribusi kasus DB cenderung bersifat lokal, dipengaruhi oleh terbatasnya mobilitas masyarakat. Selain itu, Provinsi Bali tercatat sebagai wilayah dengan kasus dan intensitas kejadian DB tertinggi selama periode penelitian.
Lebih lanjut, penelitian ini juga telah menunjukkan bahwa determinan kasus DB dapat berbeda antar wilayah, baik secara signifikansi dan/atau arah hubungan variabel. Temuan ini ditunjukkan melalui variabel rasio gini ekonomi dan pengeluaran pemerintah untuk kesehatan, yang signifikan di beberapa provinsi dengan arah hubungan yang berbeda. Hal ini mengindikasikan bahwa setiap daerah memiliki perbedaan karakter yang perlu diperhatikan dalam perencanaan program mengenai kasus demam berdarah.
Hasil studi yang telah dilakukan menekankan urgensi pendekatan spasial dalam menganalisis faktor berpengaruh pada kasus DB, terutama di negara kepulauan seperti Indonesia. Dengan menerapkan metode ini, kebijakan pengendalian DB dapat dirancang secara lebih tepat sasaran sesuai kondisi wilayah. Meskipun demikian, dalam kaitannya dengan pengendalian kasus DB, pemerintah tetap perlu memastikan bahwa setiap daerah memiliki akses sanitasi yang layak, program pengelolaan sampah terpadu, peningkatan kualitas hunian, hingga peningkatan kesejahteraan masyarakat secara umum. Melalui implementasi aksi strategis dan kerjasama multipihak, maka program pengentasan kasus DB di Indonesia dapat berjalan dengan optimal.





