Menua adalah proses natural yang akan dialami oleh seluruh manusia sepanjang mereka bertumbuh. Individu yang berusia lebih dari 65 tahun dikenal dengan sebutan lansia. Proses menua pada individu umumnya dapat berbeda karena dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti pola makan, gaya hidup, genetik, dan kesehatan dari masing-masing individu.
Fungsi fisiologis terdampak seiring dengan proses penuaan. Beberapa perubahan yang terjadi dari proses penuaan yaitu meningkatnya tekanan darah, arteriosclerosis, dan penurunan volume darah yang keluar dari jantung. Ditambah lagi, paru-paru terlihat memiliki pertukaran gas yang tidak memadai, kapasitas vital yang berkurang, dan laju aliran ekspirasi yang lebih lambat. Tubuh manusia terdiri dari air, tulang, lemak, dan jaringan tanpa lemak (otot dan organ). Setelah usia 40 tahun, orang mulai kehilangan jaringan tanpa lemak. Hati, ginjal, dan organ lain mulai kehilangan sebagian selnya. Seiring bertambahnya usia, volume dan berat ginjal berangsur-angsur berkurang, dan pada dekade kesembilan, ginjal kira-kira 70% lebih kecil daripada dekade ketiga. pada usia 65 tahun, jumlah total glomeruli per ginjal turun seiring waktu. Albuminuria paling sering diamati bersamaan dengan hipertensi dan diabetes, keduanya merupakan penyakit yang berkaitan dengan usia dan faktor risiko penyakit ginjal dan kardiovaskular (CKD).
Proses penuaan memungkinkan adanya menurunnya kemandirian seseorang. Akibat dari kerentanannya dan penurunan fungsi fisiologis, lansia mulai bergantung atau membutuhkan bantuan dari orang lain untuk keperluannya seperti makan atau penggunaan kamar mandi. Keuangan mungkin akan menjadi masalah bagi lansia karena mereka tidak lagi bekerja. Beberapa keluarga yang tidak sanggup merawat orang tua lansianya, memutuskan untuk memindahkan orang tua mereka ke fasilitas atau panti lansia sebagai upaya untuk menyelamatkan hidup mereka sendiri.
Pemerintah Surabaya dalam mengatasi fenomena tersebut memberikan fasilitas Lingkungan pondok sosial (Liponsos) yang menampung para lansia dan membantu memberikan makanan dan perawatan. Salah satu Liponsos tersebut adalah Griya Werdha yang terletak di Jambangan, Surabaya. Penilitian ini dilakukan untuk menganalisis status gizi dan risiko dari CKD pada lansia yang tinggal di Griya Werdha.
Penelitian ini dilakukan dengan metode cross-sectional yang dilaksanakan di Griya Werdha, Surabaya. Sampel dari penelitian ini adalah 44 lansia dengan kriteria inklusi yaitu lansia yang tinggal di Griya Werdha dan menderita hipertensi. Selama penelitian, tekanan darah, tinggi, dan berat badan dari lansia akan diukur. Selain itu, dilakukan juga pengambilan sampel urin pada lansia sebanyak 20 ml. Urin tersebut akan dikirimkan ke Balai Besar Laboratorium Kesehatan Surabaya untuk dilakukan analisis Urin Lengkap (UL). Selanjutnya, lansia akan diwawancarai terakit dengan sisa makanan, kebiasaan olahraga, dan kebiasaan tidur.
Hasil dari penelitian ini menunjukkan mayoritas dari responden berumur 71-80 tahun, perempuan, dan ber-riwayat pendidikan Sekolah Dasar (SD). Terkait dengan status gizi responden menunjukkan mayoritas responden (19 responden) memiliki status gizi normal, walau begitu terdapat 7 responden berstatus gizi kurang, dan 18 responden memiliki status gizi lebih. Mayoritas dari responden mengalami pre-hypertension sebanyak 16 responden dan isolated systolic hypertension sebanyak 12 responden. Isolated systolic hypertension adalah bentuk hipertensi yang paling sering terjadi pada lansia. Dari hasil analisis urin lengkap, tidak ditemukan bilirubin pada urin semua responden dan hanya 1 responden yang ditemkan urobilinogen pada urinnya.
Kami mengamati 3 biomarker yaitu hematuria (darah dalam urin), glikosuria (glukosa dalam urin), dan leukosit dalam urin. Penelitian ini menunjukkan tidak ada hubungan antara 3 biomarker tersebut dengan CKD pada lansia penelitian ini. Hal ini dapat disebabkan oleh tidak adanya pemeriksaan klinis lebih lanjut yang diterapkan dalam penelitian ini dan analisis urin bukanlah gold standard untuk mengevaluasi risiko CKD. Di sisi lain, kami menemukan hubungan antara tingkat pendidikan dan kandungan darah dalam urin. Lansia dengan edukasi yang rendah memiliki risiko yang lebih besar untuk terkena beberapa penyakit.
Penulis: Trias Mahmudiono, SKM., MPH., GCAS., Ph.D
Informasi detail dari penelitian ini dapat dilihat pada:
Mahmudiono, T., Zebadia, E., Setyawati, U. G., Sahila, N., Nathania, D. A., Febrianti, K. D., Ramadhan, S. A., Yusryana, E. A., Indriani, D., Widiatmoko, D., & Chen, H. L. (2023). 淯rine analysis and nutrition status among elderly in Griya Werdha, Surabaya. Journal of Public Health in Africa, 14(s2).





