51动漫

51动漫 Official Website

Konsentrasi Unsur-Unsur Berpotensi Beracun dalam Ikan Tuna Kaleng: Tinjauan Sistematis dan Penilaian Risiko Kesehatan

Keamanan pangan dan ketahanan pangan telah menjadi sangat penting dalam beberapa tahun terakhir. Pencemaran lingkungan, termasuk pencemaran udara, pencemaran sumber daya air, dan kontaminasi makanan, semakin meningkat seiring dengan industrialisasi negara-negara. Unsur-unsur beracun potensial atau Potential toxic elements (PTEs) adalah unsur-unsur yang dapat beracun bagi manusia, hewan, tumbuhan, dan mikroba tanah dalam konsentrasi tinggi. Beberapa PTE, seperti timbal (Pb), arsenik (As), merkuri (Hg), kadmium (Cd), dan nikel (Ni), sangat berbahaya dan beracun, sementara yang lain, seperti besi (Fe) dan seng (Zn), merupakan nutrisi esensial yang aman. Perlu diingat bahwa logam berat esensial dapat menjadi beracun dalam jumlah besar atau dalam bentuk tertentu. Misalnya, As sangat beracun dalam bentuk anorganiknya (As anorganik atau iAs), sedangkan Hg lebih beracun dalam bentuk metilnya (metil Hg atau Me Hg). Logam berat kurang reaktif daripada logam-ringan, relatif padat, dan jauh lebih sulit larut dalam hidroksida. Beberapa logam-ringan memiliki karakteristik logam berat dan sebaliknya, logam berat seperti Hg sangat mudah dibedakan dari logam-ringan seperti natrium.

PTEs dapat masuk ke sumber air tanah melalui aktivitas manusia dan sumber alami (seperti limbah industri, tambang, hujan asam, aliran pertanian, pewarna, dan kebocoran logam dari kerak bumi). Selanjutnya, mereka dilepaskan ke sumber air permukaan (misalnya sungai, danau, dan sungai) dan mencemari organisme laut serta makanan lainnya. Ikan merupakan sumber penting berbagai mineral, protein, asam amino, asam lemak tak jenuh, omega-3, dan vitamin; oleh karena itu, makanan ini dapat mendukung sistem saraf dan mengurangi risiko penyakit jantung, stroke, dan Alzheimer. Telah terbukti bahwa ikan tuna kaleng adalah produk laut yang paling banyak dikonsumsi di seluruh dunia saat ini, karena tingkat produksinya yang tinggi (>1,7 juta ton per tahun).

Alasan utama kontaminasi ikan tuna kaleng dengan PTEs adalah pencemaran lingkungan, terutama akibat limbah industri, bersama dengan polusi yang terjadi selama proses pengalengan. Selain itu, ikan tuna adalah akumulator PTE yang lebih baik dibandingkan dengan spesies ikan lainnya, karena tingkat metabolisme, umur panjang, dan tingkat absorpsi yang tinggi. Oleh karena itu, manusia, terutama anak-anak dan ibu yang sedang menyusui, berisiko lebih tinggi akibat PTE, karena mereka mengonsumsi lebih banyak ikan dalam makanan mereka. Mengingat sifat-sifat PTE, seperti bioakumulasi, toksisitas, ketidakdegradabilitas, dan masuk ke dalam rantai makanan, keberadaan mereka dalam makanan dapat memiliki efek merugikan dan jangka panjang pada manusia. Oleh karena itu, penilaian potensi risiko mereka terhadap kesehatan manusia masih menjadi subjek penelitian dari berbagai studi dan telah menjadi isu global penting.

Risiko kesehatan potensial yang terkait dengan konsumsi produk-produk ini pada orang dewasa dan anak-anak diestimasi melalui perhitungan nilai THQ dan CR. Analisis penilaian risiko iAs menunjukkan THQ > 1 untuk anak-anak di Mesir. Selain itu, THQ untuk orang dewasa akibat Me Hg dalam ikan tuna kaleng di Tunisia lebih tinggi dari 1, dan untuk anak-anak di Tunisia, Malta, Portugal, Latvia, Kamboja, Peru, Korea Selatan, Rumania, Hong Kong, Uni Emirat Arab, Maroko, dan Mesir, lebih tinggi dari 1. Selain itu, nilai CR yang dihitung dari iAs mengungkapkan bahwa orang dewasa dan anak-anak di negara-negara yang diteliti berada dalam risiko ambang batas untuk mengembangkan kanker (antara 1,00E-4 dan 1,00E-6). Oleh karena itu, praktik manufaktur yang baik bersama dengan pemantauan konsentrasi unsur-unsur berpotensi beracun dalam ikan tuna kaleng melalui program komprehensif dan berkala yang diluncurkan oleh otoritas sangat disarankan untuk memastikan keselamatan konsumen.

Salah satu keterbatasan dari studi saat ini adalah jumlah studi yang rendah atau kurangnya studi yang valid di negara-negara lain, yang membatasi interpretasi hasil kami. Selain itu, beberapa studi tidak mendeteksi sebagian besar unsur-unsur berpotensi beracun; oleh karena itu, kami memiliki keterbatasan dalam membandingkan risiko kesehatan total unsur-unsur berpotensi beracun dalam berbagai studi. Disarankan untuk melakukan penelitian baru tentang radionuklida dan hidrokarbon aromatik polisiklik (PAH) dalam ikan tuna kaleng.

Penulis: Prof. Trias Mahmudiono, SKM., MPH., GCAS., Ph.D

Informasi detail dari penelitian ini dapat dilihat pada:

TriasMahmudiono,YadolahFakhri,MoayedAdiban,MansourSarafraz&SaraMohamadi(2023)Concentration of Potential Toxic Elements in Canned Tuna Fish: Systematic Review and Health Risk assessment,International Journal of Environmental Health Research,听顿翱滨:听

AKSES CEPAT