Syok septik adalah kondisi darurat medis yang menjadi salah satu penyebab utama kematian pada anak di seluruh dunia. Kondisi ini terjadi ketika infeksi berat memicu respons peradangan berlebihan, menyebabkan kegagalan organ. Di Indonesia, angka kematian akibat syok septik anak masih sangat tinggi, mencapai 88,2%. Penelitian terbaru yang dilakukan di RSUD Dr. Soetomo, Surabaya, mengungkapkan bahwa anemia dapat memperburuk peluang bertahan hidup anak yang mengalami syok septik, terutama melalui mekanisme stres oksidatif. Anemia, yang ditandai oleh rendahnya kadar hemoglobin (Hb), sering terjadi pada pasien dengan syok septik. Kekurangan Hb menurunkan kapasitas darah membawa oksigen, sehingga jaringan tubuh mengalami kekurangan suplai oksigen. Selain itu, pada anemia, pertahanan antioksidan tubuh melemah, membuat pasien lebih rentan terhadap kerusakan akibat radikal bebas. Dalam konteks medis, stres oksidatif adalah kondisi ketika jumlah radikal bebas (molekul reaktif berbahaya) melampaui kemampuan tubuh untuk menetralkannya. Penelitian ini memfokuskan pada dua penanda biologis: F2-isoprostane (F2-isoPs) sebagai indikator kerusakan akibat oksidasi lemak (lipid peroksidasi) dan Glutathione peroxidase (GPx): enzim antioksidan penting yang melindungi sel dari kerusakan radikal bebas. Untuk mengetahui efek anemia terhadap marker oksidatif stres, dan pengaruhnya terhadap kematian anak dengan syok septik, maka penelitian dilakukan di Surabata, untuk membuktikan penurunan kapasitas antioksidan akibat anemia berkontribusi pada memburuknya kondisi pasien.
Penelitian yang dilakukan melibatkan 30 anak usia 6 bulan18 tahun yang dirawat karena syok septik antara Agustus 2020揊ebruari 2022. Pasien dibagi menjadi dua kelompok: dengan anemia (Hb < 7,5 g/dL) dan tanpa anemia. Kadar Hb, GPx, dan F2-isoPs diukur setiap hari selama tiga hari. Analisis statistik dilakukan untuk mencari hubungan antara anemia dan kematian, serta antara kadar biomarker dengan outcome pasien. Pasien yang meninggal dalam 48 jam pertama dikeluarkan dari penelitian. Dari penelitian tersebutm hasil utama yang ditemukan:
Tingkat Kematian Tinggi: dari 30 pasien dengan syok septik, 21 anak (70%) meninggal.
- Perbedaan Hemoglobin: Kadar Hb pada hari ketiga secara signifikan lebih rendah pada pasien yang meninggal dibandingkan yang selamat.
- GPx sebagai Prediktor: Pada hari ketiga, kadar GPx jauh lebih rendah pada kelompok yang meninggal (19,6 ng/mL) dibandingkan yang selamat (141,1 ng/mL). GPx dengan nilai batas 23,56 ng/mL memiliki sensitivitas 59% dan spesifisitas 60% untuk memprediksi kematian.
- Hubungan GPx dan F2-isoPs: Ditemukan korelasi negatif signifikan, artinya semakin tinggi stres oksidatif (F2-isoPs), semakin rendah pertahanan antioksidan (GPx).
- Rasio GPx/F2-isoPs: Rasio ini pada hari ketiga juga berkorelasi dengan mortalitas, menunjukkan keseimbangan antara stres oksidatif dan pertahanan antioksidan memengaruhi keparahan penyakit.
Makna Temuan
Hasil ini menunjukkan bahwa anemia berkontribusi terhadap kematian pada syok septik anak melalui mekanisme penurunan pertahanan antioksidan. Saat infeksi berat terjadi, tubuh menghasilkan banyak radikal bebas untuk melawan patogen. Namun, pada pasien anemia, cadangan antioksidan攖erutama GPx攍ebih cepat habis. Tanpa pertahanan ini, radikal bebas dapat merusak sel endotel pembuluh darah, mengganggu aliran darah, dan menyebabkan kegagalan organ.
Implikasi Klinis
- Pemantauan Hb dan GPx: Kadar hemoglobin dan GPx dapat digunakan sebagai indikator risiko kematian pada pasien syok septik anak.
- Pendekatan Terapi: Intervensi yang mempertahankan kadar Hb dan meningkatkan kapasitas antioksidan mungkin dapat memperbaiki outcome pasien.
- Perlu Penelitian Lanjutan: Peneliti menyarankan studi tambahan untuk menemukan biomarker yang lebih akurat dan strategi intervensi yang efektif dalam 28 hari pertama perawatan.
Keseluruhan penelitian menyimpulkan bahwa kondisi anemia tidak hanya menurunkan kemampuan darah mengangkut oksigen, tetapi juga mengurangi pertahanan antioksidan tubuh. Pada syok septik anak, hal ini menciptakan kondisi 渂adai oksidatif yang memicu kerusakan organ dan meningkatkan risiko kematian. Pemantauan biomarker seperti GPx dan F2-isoPs dapat membantu dokter memperkirakan prognosis pasien dan merancang terapi yang lebih tepat sasaran.
Penulis: Arina Setyaningtyas, dr., M.Kes., Sp.A(K).
DOI:





