51¶¯Âþ

51¶¯Âþ Official Website

Apa yang Mempengaruhi Perilaku Kebersihan Menstruasi pada Remaja Fullday School?

Foto oleh mostresource.org

Masa remaja adalah periode kritis dimana terjadinya perubahan baik perubahan pubertas, psikologis maupun perilaku. Masalah yang berkaitan dengan kesehatan reproduksi disebabkan oleh kurangnya informasi, pemahaman remaja dan kesadaran diri. Kebersihan menstruasi merupakan salah satu komponen personal hygiene yang berperan penting dalam kesehatan remaja. Jutaan wanita di seluruh dunia mengalami saluran reproduksi infeksi, penyakit radang panggul, dan penyakit saluran kemih karena tidak menerapkan praktik kebersihan menstruasi yang baik.

Penerapan sistem full day school atau sekolah sehari penuh oleh pemerintah Indonesia menyebabkan remaja lebih banyak menghabiskan waktunya di sekolah daripada di Rumah. Remaja menghabiskan sekitar 8 sampai 9 jam perharinya di Sekolah. Jadwal sekolah yang sangat padat cenderung membuat remaja putri sekolah mengabaikan kebersihan saat mestruasi. Pendidikan tentang kesehatan reproduksi remaja masih belum sepenuhnya berjalan dalam kurikulum sekolah di Indonesia. Remaja hanya diajarkan tentang proses reproduksi, sedangkan pelajaran mengenai praktik dan teori mengenai masalah menstruasi tidak umum diberikan.

Metode dan Hasil

Penelitian ini dilakukan pada 139 remaja siswa kelas 7 dan 8 disalah satu Sekolah Menengah Pertama Negeri di Surabaya yang dipilih secara acak sesuai dengan kriteria yang sudah ditentukan. Kriteria tersebut terdiri dari remaja yang sudah mengalami menstruasi dan remaja yang bersedia menjadi responden. Remaja yang sudah terpilih selanjutnya mengisi kuesioner yang berisi pertanyaan-pertanyaan yang meliputi identitas diri (usia remaja dan usia menarche atau menstruasi pertama), Pengetahuan remaja mengenai perilaku kebersihan menstruasi yang terdiri dari sembilan pernyataan, sikap remaja dalam melakukan hygiene menstruasi yang terdiri dari lima pernyataan, keyakinan remaja dalam melakukan hygiene menstruasi yang terdiri dari lima pertanyaan, ketersediaan fasilitas dan kondisi lingkungan yang mendukung remaja dalam melakukan praktik hygiene menstruasi di sekolah yang terdiri dari empat pertanyaan, akses informasi tentang kebersihan menstruasi yang diperoleh remaja yang terdiri dari enam pertanyaan, dukungan sosial yang dirasakan remaja dari masyarakat dan lingkungan dalam melakukan hygiene menstruasi yang terdiri dari enam pertanyaan, dan yang terakhir perilaku hygiene menstruasi remaja yang terdiri dari sepuluh pernyataan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas remaja berusia 13 tahun. Lebih dari separuh remaja mengalami menarche atau menstruasi pertama pada usia antara 9 sampai 12 tahun. Mayoritas remaja berada di kelas 8. Mayoritas remaja memiliki pengetahuan yang baik tentang kebersihan menstruasi, adapun kurangnya pengetahuan remaja yaitu mengenai arah mencuci alat kelamin yang benar. Lebih dari setengah remaja memiliki sikap yang positif terhadap kebersihan menstruasi dibuktikan dengan jawaban sangat setuju dengan pernyataan tentang pentingnya mencuci tangan sebelum mencuci kemaluan. Remaja memiliki pengetahuan yang baik dan mahir dalam mempraktikkan hygiene menstruasi. Pengetahuan ditemukan memiliki hubungan positif dan lemah dengan perilaku kebersihan menstruasi pada remaja di sekolah. Sikap ditemukan memiliki hubungan positif dan lemah dengan perilaku kebersihan menstruasi pada remaja sekolah.

Sebagian besar remaja memiliki sikap positif dan melakukan kebersihan menstruasi dengan cukup baik. Keyakinan ditemukan memiliki hubungan positif dan lemah dengan perilaku kebersihan menstruasi pada remaja. Ketersediaan fasilitas berhubungan dengan perilaku hygiene menstruasi remaja di sekolah. Sebagian besar remaja merasa bahwa ketersediaan fasilitas yang memadai cukup mendukung perilaku hygiene menstruasi yang baik. Informasi kesehatan yang diterima remaja juga berhubungan dengan perilaku hygiene menstruasi di sekolah. Dukungan sosial ditemukan berhubungan dengan perilaku kebersihan menstruasi remaja.

Ada banyak faktor yang dapat mempengaruhi perilaku hygiene menstruasi remaja di sekolah. Faktor-faktor ini berasal dari orang tua, teman sebaya, dan guru. Selain itu dukungan sosial yang diperoleh juga dapat meningkatkan pengetahuan dan bentuk sikap serta keyakinan remaja untuk melakukan hygiene menstruasi. Remaja diharapkan lebih giat dalam menggali informasi mengenai hygiene menstruasi dengan orang-orang terdekatnya untuk meningkatkan pengetahuan, sikap, dan kepercayaan diri sehingga dapat menerapkan praktik hygiene menstruasi dengan baik dan terhindar dari penyakit yang menyerang alat reproduksi. Sekolah diharapkan meningkatkan sarana dan prasana yang memadai serta perlu diadakannya kegiatan atau penyuluhan tentang kesehatan reproduksi karena guru memegang peranan yang sangat penting sebagai pemberi informasi bagi siswa. Tenaga kesehatan perlu mengadakan penyuluhan kesehatan tentang kesehatan organ reproduksi yang menitikberatkan pada cara melakukan hygiene menstruasi yang baik dan benar.

Penulis: Dr. Mira Triharini, S.Kp., M.Kep

Informasi detail mengenai penelitian ini dapat dilihat pada artikel kami di

AKSES CEPAT