Diare merupakan penyebab kematian kedua setelah ISPA pada bayi BBLR dalam 6 bulan pertama kehidupan. Bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR) memiliki risiko diare yang lebih tinggi karena masalah kekebalan dan status gizi mereka yang rendah. Bayi dengan BBLR mengalami penyakit infeksi lebih sering, seperti diare dan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), yang cenderung lebih lama dan lebih serius (sehingga memerlukan rawat inap) dibandingkan dengan bayi berat lahir normal. Episode diare pada anak <6 bulan berlangsung lebih lama secara signifikan daripada episode diare pada anak yang lebih tua.
Banyak faktor predisposisi anak balita terkena diare, terutama di negara berpenghasilan rendah dan menengah. Prevalensi diare lebih tinggi pada bayi yang tinggal di pedesaan. Pendidikan ibu/pengasuh menunjukkan signifikansi yang cukup besar dalam prevalensi diare. Ibu/pengasuh yang tidak bisa membaca memiliki prevalensi diare yang lebih tinggi dibandingkan ibu/pengasuh yang berpendidikan tinggi. Faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian diare pada bayi dengan riwayat BBLR sangat penting untuk diketahui agar strategi intervensi yang lebih baik dapat dirumuskan dan pembuat kebijakan dapat mempertimbangkannya dalam menurunkan prevalensi diare di Indonesia
Metode dan Hasil
Penelitian ini menggunakan data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2017 yang dilakukan di Indonesia dan menggunakan desain cross-sectional. Wawancara selama survei dilakukan pada semua wanita usia 15-49 tahun yang memenuhi syarat. Dalam penelitian ini, dataset anak yang digunakan. Sebanyak 142 bayi di bawah 1 tahun dipilih sebagai responden. Pemilihan variabel independen untuk penelitian didasarkan pada penelitian sebelumnya yang meneliti faktor-faktor yang mempengaruhi diare pada anak. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah kejadian diare. Data didasarkan pada persepsi ibu terhadap bayinya dua minggu sebelum survei. Sedangkan variabel bebas ada beberapa yaitu: umur ibu; wilayah tempat tinggal; pendidikan ibu; pendidikan ayah; kepemilikan televisi; kepemilikan ponsel; Akses internet; status ekonomi; jumlah anak dalam keluarga; dan variabel bebas lainnya yaitu bayi yang mendapat ASI; penggunaan botol susu; jenis kelamin bayi; dan suplemen vitamin A.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Bayi BBLR dari ibu usia 20-24 tahun mempunyai resiko 0.07 kali lebih kecil dari usia yang lainnya. Usia 19“20 tahun dianggap sebagai usia dewasa yang telah memiliki kematangan dalam hal pertumbuhan fisik dan psikis, artinya mereka telah memiliki kedewasaan dan kekuatan mental, daya pikir, dan kemampuan memahami sehingga dapat memberikan pengasuhan yang memadai bagi bayinya. Temuan lain menjelaskan bahwa bayi hidup di daerah pedesaan 5,65 kali lebih mungkin terkena diare dibandingkan di daerah perkotaan. Banyak faktor yang dapat menyebabkan bayi yang tinggal di daerah pedesaan memiliki kejadian diare yang lebih tinggi-faktor lingkungan dan individu memainkan peran penting di dalamnya. kurangnya akses keamanan, konsumsi air yang tidak memadai, persediaan air rumah tangga, metode penyimpanan air, pengetahuan tentang kegiatan higienis dan praktik pencegahan dan pengendalian penyakit menular, dan penggunaan toilet yang buruk dan tidak memiliki fasilitas cuci tangan di kamar mandi mereka, yang menyebabkan diare.
Faktor lain yang berisiko terjadinya diare adalah bayi yang ibunya memiliki ponsel 0,08 kali lebih sedikit kemungkinan untuk mengembangkan diare. Namun bayi yang ibunya memiliki akses internet kurang dari 12 bulan adalah 13,03 kali lebih mungkin untuk berkembang diare. Seperti kita ketahui bersama bahwa ponsel dan akses internet merupakan kebutuhan penting bagi masyarakat. Ponsel dan akses internet memudahkan seorang ibu untuk mencari informasi secara cepat dan akurat melalui materi dan artikel berbagai topik. Faktor yang berikutnya adalah bayi dengan BBLR yang minum susu menggunakan botol susu memiliki kemungkinan 0,22 kali lebih kecil untuk mengalami diare dibandingkan bayi yang tidak menggunakan botol. Hasil ini mungkin karena ibu dengan bayi berat lahir rendah lebih terpapar pada pelayanan kesehatan sejak awal. Hal ini terjadi karena bayi BBLR biasanya akan dirawat inap di ruang perinatologi demi kestabilan kondisinya. Ibu akan mendapatkan pendidikan kesehatan tentang kondisi bayi dan perawatan bayi dengan BBLR.
Hasil penelitian ini mempunyai implikasi bahwa peningkatan kesadaran keluarga bayi BBLR melalui pendidikan dan promosi kesehatan yang memadai. Oleh karena itu, peningkatan kecukupan, aksesibilitas, dan keterjangkauan informasi dan layanan kesehatan di seluruh wilayah Indonesia sangat penting. Selain itu, petugas kesehatan juga perlu meningkatkan pemberian pendidikan kesehatan kepada ibu bayi dengan BBLR yang berisiko terkena diare melalui program Posyandu.
Penulis: Dr. Yuni Sufyanti Arief, S.Kp.,M.Kes
Informasi detail mengenai penelitian ini dapat dilihat pada artikel kami di





