Saat ini stunting masih menjadi masalah Kesehatan yang universal terutama di negara berkembang termasuk di Indonesia. Menurut laporan Global Nutrition Report tahun 2018 150,8 juta atau 22,2% anak umur 0-59 bulan di dunia mengalami Stunting, 50,5 juta atau 7,5% anak menderita kurus dan 38,3 juta atau 5,6% anak mengalami Obesitas (UNICEF, 2018). Di Asia Tenggara prevalensi anak usia 0-59 bulan yang mengalami Stunting sekitar 24,7%, kurus 8,2%, dan Obesitas 7,5% (UNICEF, 2018). Selain itu di Indonesia persentase anak yang mengalami tinggi badan sangat pendek dan pendek serta status gizi buruk dan gizi kurang masih tinggi. Menurut hasil riset Kesehatan dasar (Riskesdas) tahun 2018 proporsi tinggi badan sangat pendek dan pendek turun dari 37,2% (Riskesdas 2013) menjadi 20,8%. Demikian juga proporsi status gizi kurus dan sangat kurus dari 12,1% (Riskesdas 2013) menjadi 10,2%, meski mengalami penurunan, balita pendek dan kurus masih menjadi masalah kesehatan di Indonesia (Kemenkes, 2019).
Makanan Pendamping ASI adalah makanan dan minuman bergizi yang diberikan ke anak usia 6-24 bulan untuk memenuhi kebutuhan gizinya (Lestiarini & Sulistyorini, 2020). Ketidakoptimalan pemberian Makanan Pendamping ASI (MP ASI) menjadi salah satu faktor yang memengaruhi terjadinya malnutrisi karena pada saat masa transisi dari pemberian ASI eksklusif ke usia 2 tahun merupakan periode yang kritis untuk tumbuh kembang anak secara optimal. Oleh karena itu, pemberian makanan yang tepat, aman, bergizi dan frekuensi yang sesuai sangat penting selama periode ini (Mekonnen et al., 2017).
Organisasi Kesehatan dunia (WHO) telah menentukan indikator untuk praktik pemberian makan bayi dan anak (IYCF). Indikator tersebut terdiri atas introduction of solid,semi-solid or soft food, minimum dietary diversity, minimum meal frequency, dan minimum acceptable diet yang digunakan untuk menilai praktik pemberian makanan pada bayi dan anak (Beyene et al., 2015; Khanal et al., 2013; Nkoka et al., 2018). Menurut Global Nutrition Report tahun 2017prevalensi 3 indikator dari Pemberian Makan Bayi dan Anak (IYCF) di Indonesia adalah Minimum Dietary Diversity sebanyak 53,9%, Minimum Meal Frequency 71,7%, dan Minimum Acceptable Diet sebanyak 40,3% (UNICEF, 2019), melihat dari cakupan angka 3 indikator tersebut praktik pemberian makan bayi dan anak (IYCF) sesuai dengan rekomendasi masih tergolong cukup rendah. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan antara minimum dietary diversity, minimum meal frequency, dan minimum acceptable diet pada anak usia 6-23 bulan di Indonesia dengan karakteristik anak, karakteristik ibu, karakteristik rumah tangga, akses informasi serta penolong persalinan.
Praktik Pemberian Makanan Bayi dan Anak (PMBA) menurut Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) yaitu minimum dietary diversity, minimum meal frequency, dan minimum acceptable diet. Pada penelitian ini didapatkan prevalensi dari ketiga indikator tersebut yaitu minimum dietary diversity sebanyak60.02%, minimum meal frequency sebanyak 71.53% dan minimum acceptable diet sebanyak 39.94%. Prevalensi minimum acceptable diet lebih rendah dibandingkan dengan indikator-indikator yang lain.
Anak usia 18-23 lebih cenderung untuk memenuhi minimum dietary diversity dan minimum acceptable diet bila dibandingkan dengan anak yang berusia lebih muda. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Bodjrènou et al., (2020) di Southern Benin, Aguayo et al. (2018) di Afghanistan, dan Saaka et al. (2016) di Ghanayang menunjukkan bahwa semakin bertambahnya usia anak akan lebih cenderung memenuhi minimum dietary diversity dan minimum acceptable diet. Peneliti menduga hal tersebut terjadi karena seiring bertambahnya usia dan tumbuh kembang anak akan semakin banyak keragaman makanan yang bisa di konsumsi tidak hanya terbatas pada makanan lumat saja namun juga makanan padat, sehingga kemungkinan anak untuk memenuhi minimum dietary diversity menjadi lebih besar.
Ibu yang memiliki tingkat pendidikan yang tinggi atau setingkat akademi atau universitas lebih cenderung untuk memenuhi minimum dietary diversity dan minimum accepatble diet bila dibandingkan dengan ibu yang memiliki pendidikan lebih rendah maupun yang tidak sekolah. Sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Khanal et al. (2013) di Nepal menunjukkan bahwa ibu yang memiliki tingkat pendidikan secondary (SMP dan SMA) dan higher (Akademi atau Universitas) lebih cenderung memenuhi minimum dietary diversity dibandingkan dengan ibu yang tidak sekolah, hasil tersebut juga dapat memperkuat penelitian yang dilakukan oleh Joshi et al. (2012). Penelitian yang dilakukan oleh Kambale et al. (2021) di South Kivu menunjukkan bahwa ibu dengan pendidikan menengah dan pendidikan tinggi lebih cenderung memenuhi minimum acceptable diet. Peneliti menduga hal ini terjadi dikarenakan ibu dengan pendidikan yang lebih tinggi dapat memahami informasi tentang program kesehatan dan gizi anak dengan lebih mudah bila dibandingkan dengan ibu dengan pendidikan yang lebih rendah maupun tidak sekolah.
Anak yang tinggal di rumah tangga dengan indeks kekayaan teratas lebih cenderung untuk memenuhi minimum dietary diversity dan minimum acceptable diet bila dibandingkan dengan anak yang tinggal di rumah tangga dengan indeks kekayaan dibawahnya. Serupa dengan penelitian yang dilakukan oleh Dhami et al. (2019) di India yang menunjukkan bahwa rumah tangga dengan indeks kekayaan teratas berhubungan secara signifikan dengan pemenuhan minimum dietary diversity, hal ini juga diperkuat dengan penelitian yang dilakukan oleh Nkoka et al. (2018) di Malawi bahwa ibu dengan indeks kekayaan menengah, menengah atas, dan teratas lebih dapat memenuhi minimum dietary diversity dan minimum acceptable diet. Hasil tersebut juga memperkuat penelitian Dhami et al. (2019) di India bahwa indeks kekayaan teratas juga memungkinkan untuk memenuhi minimum acceptable diet bagi anaknya. Peneliti menduga hal ini terjadi dikarenakan ibu dengan indeks kekayaan teratas dapat menjangkau berbagai makanan yang sehat dan bergizi bagi anaknya dengan lebih mudah dibandingkan dengan ibu yang miskin, sehingga kemungkinan anak untuk memenuhi minimum acceptable diet menjadi lebih besar.
Anak dengan ibu yang sedang bekerja lebih cenderung untuk memenuhi minimum meal frequency bila dibandingkan dengan ibu yang sedang tidak bekerja. Sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Ogbo et al. (2018) di Tanzania yang menunjukkan bahwa ibu yang bekerja mempunyai kemungkinan lebih tinggi untuk memenuhi minimum meal frequency, hal ini juga diperkuat dengan penelitian yang dilakukan oleh Ahmed et al. (2020) menunjukkan bahwa ibu yang bekerja lebih cenderung untuk memenuhi minimal meal frequency dibandingkan dengan ibu yang tidak bekerja. Peneliti menduga hal ini terjadi dikarenakan ibu yang bekerja dapat meningkatkan pendapatan rumah tangga sehingga dapat menigkatkan asupan makanan untuk anak-anaknya.
Ibu yang dapat mengakses internet setidaknya sekali dalam seminggu lebih cenderung untuk memenuhi minimum dietary diversity bila dibandingkan dengan ibu yang tidak mengakses internet sama sekali. Hal ini juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Beyene et al. (2015) di Northwest Ethiopia dan Nkoka et al. (2018) di Malawi menunjukan bahwa ibu yang terpapar media masa dengan mudah lebih tinggi kemungkinannya untuk memenuhi minimum dietary diversity dibandingkan dengan ibu yang sulit mengakses media masa. Peneliti menduga hal ini dapat terjadi dikarenakan media masa seperti internet banyak menyediakan informasi tentang kesehatan gizi dari sumber yang kredibel dan terpercaya sehingga informasi tersebut dapat diterapkan dalam pemberian makanan pada anak.
Ibu yang saat persalinannya ditolong oleh tenaga profesional lebih cenderung untuk memenuhi minimum dietary diversity dan minimum acceptable diet bila dibandingkan dengan ibu yang saat persalinannya tidak ditolong oleh tenaga profesional. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Sema et al. (2021) dan Temesgen et al. (2018) yang menjelaskan bahwa ibu yang melahirkan di fasilitas kesehatan memiliki peluang lebih tinggi untuk memenuhi minimum dietary diversity dibandingkan dengan ibu yang melahirkan di rumah. Penelitian yang dilakukan oleh Dhami et al. (2019) yang menunjukkan bahwa ibu yang melahirkan di fasilitas kesehatan lebih tinggi kemungkinannya untuk memenuhi minimum acceptable diet bila dibandingkan dengan ibu yang melahirkan di rumah. Peneliti menduga hal ini terjadi dikarenakan penolong persalinan profesional akan memperbesar peluang ibu untuk mendapatkan informasi program postnatal terutama informasi tentang pedoman pemberian makan pada anak dengan gizi yang seimbang.
Ibu yang tinggal di daerah perkotaan lebih cenderung untuk memenuhi minimum meal frequency bila dibandingkan dengan ibu yang tinggal di daerah pedesaan. Sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Belew et al. (2017) di Ethiopia yang menunjukkan bahwa ibu yang tinggal di daerah perkotaan lebih cenderung untuk memenuhi minimum meal frequency dibandingkan dengan ibu yang tinggal di daerah pedesaan. Peneliti menduga hal ini terjadi dikarenakan ibu yang tinggal di perkotaan memiliki akses informasi yang baik sehingga dapat meningkatkan kesadaran untuk memberikan makanan yang sehat dan bergizi sesuai porsi yang telah direkomendasikan bagi anaknya.
Secara keseluruhan angka cakupan minimum dietary diversity dan acceptable diet di Indonesia masih tergolong cukup rendah. Usia anak, indeks kekayaan rumah tangga, tingkat pendidikan ibu, dan penolong persalinan berhubungan dengan minimum dietary diversity dan acceptable diet. Sementara itu pekerjaan ibu dan daerah tempat tinggal berhubungan dengan minimum meal frequency. Memperbaiki layanan kesehatan, meningkatkan status ekonomi dan tingkat pendidikan ibu sangat penting untuk meningkatkan praktik Infant and Young Child Feeding (IYCF) di Indonesia.
Penulis: Dr. Esti Yunitasari, S.Kp., M.Kes
Link:





