Berat badan lahir rendah (BBLR) merupakan masalah kesehatan masyarakat yang utama di Indonesia, sedangkan BBLR merupakan penyebab utama kematian neonatal. Pemanfaatan perawatan antenatal (ANC) yang memadai akan membantu mencegah kejadian bayi BBLR. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji asosiasi tersebut antara pemanfaatan ANC dan anak BBLR pada ibu dengan kriteria kelahiran risiko tinggi. Kriteria kelahiran berisiko tinggi terdiri dari 4T yaitu terlalu muda (usia ibu <20 tahun), terlalu tua (usia ibu >35 tahun). tahun), terlalu dekat (perbedaan usia anak <2 tahun), dan terlalu dekat banyak (jumlah anak >2 anak).
Penelitian ini memanfaatkan data kalender dari modul perempuan dari Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2017, dengan unit analisis hanya kelahiran terakhir wanita usia subur (15“49), yang berjumlah 16.627 wanita. Dari jumlah tersebut, analisis dilakukan dengan memisahkan kriteria ibu dengan persalinan resiko tinggi. Analisis regresi logistik multivariat digunakan untuk menilai dampak ANC dan faktor sosial-demografi pada BBLR di kalangan Wanita dengan kriteria kelahiran berisiko tinggi.
Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa hanya di kalangan wanita terlalu banyak
kriteria anak (>2 anak), pemanfaatan ANC cukup secara signifikan terkait dengan BBLR anak-anak, bahkan setelah dikontrol berbagai faktor sosio-demografis (p <0,05). Pada keempat wanita itu kriteria, kelahiran prematur lebih mungkin untuk memiliki BBLR dibandingkan bayi tersebut yang lahir normal (di atas dan sama dengan 2500 gram) (p < 0,001). Menurut WHO, standar ANC belum memenuhi syarat telah dilaksanakan sepenuhnya, termasuk dalam hal kunjungan ANC minimal sebanyak delapan kali, dan diharapkan ANC bersama tenaga kesehatan di kesehatan, fasilitas dapat ditingkatkan. Ada juga kebutuhan untuk meningkatkan pemantauan ibu hamil dengan risiko tinggi 4T selain itu kunjungan ANC juga diperlukan untuk menurunkan kelahiran BBLR.
Penulis: Muthmainnah, S.KM., M.Kes.
Link Artikel :





