51动漫

51动漫 Official Website

Apakah Dualitas dan Kepemilikan CEO Dapat Mempengaruhi Keterbacaan Catatan atas Laporan Keuangan

Ilustrasi oleh ie.edu

Skandal akuntansi pada perusahaan yang terjadi akhir-akhir ini telah menimbulkan kerugian yang cukup besar bagi investor. Kerugian dari skandal-skandal tersebut tidak hanya dari sisi material, tetapi juga kelangsungan bisnis perusahaan secara berkepanjangan. Sebagai contoh, Lehman Brothers (2008) menyebabkan kerugian sebesar 50 juta dolar sebagai aset pinjaman tersembunyi yang menurunkan saldo akun pendapatan dan beban selama beberapa periode terakhir (Sorensen & Miller, 2017). Skandal tersebut tidak terlepas dari peran para eksekutif perusahaan, khususnya CEO perusahaan. Dalam konteks Indonesia, CEO dianalogikan dengan Presiden Direktur perusahaan (Harymawan et al., 2019). Selain itu, Chief Executive Officer (CEO) memegang posisi teratas dalam manajemen perusahaan dan telah menanggapi operasi dan kinerja perusahaan (Fu et al., 2017). Perusahaan mempekerjakan CEO berdasarkan keahlian, pengalaman, dan kemampuan mereka untuk menciptakan nilai bagi pemegang saham, sehingga kinerja dan tanggung jawab CEO sangat penting bagi perusahaan. 

Di Indonesia, jabatan CEO diatur dalam peraturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) NO 33/POJK.04/2014. Dalam peraturan ini disebutkan bahwa seorang anggota direksi/direktur utama diperbolehkan maksimal 1 (satu) emiten atau perusahaan publik lainnya. Namun peraturan ini tidak secara tegas mengatur bagaimana rangkap jabatan CEO perusahaan publik dan anak perusahaan terkait, sehingga ini menjadi peluang bagi CEO perusahaan yang oportunistik untuk mendapatkan insentif lebih. Ammari (2021) berpendapat bahwa dualitas CEO dapat mengurangi independensi dan efektivitas dewan serta meningkatkan kekuasaan CEO dalam mengambil keputusan perusahaan, sehingga meningkatkan konflik keagenan di dalam perusahaan (Antounian et al., 2021; Ginesti et al., 2017). Menurut beberapa penelitian, dualitas CEO dalam pengambilan keputusan perusahaan cenderung (Pavlopoulos et al., 2019; Al-ahdal et al., 2020). Seifzadeh dkk. (2021) menyatakan bahwa laporan keuangan perusahaan selalu menjadi salah satu sumber informasi yang paling penting untuk pengambilan keputusan, seperti praktisi pasar modal (pemegang saham, kreditur, dan analis keuangan), legislator pasar modal, dan pemangku kepentingan lainnya. Bagi pembaca laporan keuangan, catatan atas laporan keuangan diperlukan karena membantu investor menilai perusahaan di pasar saham (Salehi et al., 2020). 

Banyak penelitian menyimpulkan bahwa dualitas dan kepemilikan CEO dapat mempengaruhi tingkat keterbacaan catatan atas laporan keuangan. Dualitas CEO menekankan pada kekuasaan CEO yang berada pada banyak tempat atau lingkungan bisnis. Atas hal itu, maka ada potensi menciptakan masalah keagenan yang dapat memunculkan perilaku oportunistik dewan. Selain itu, CEO dengan banyak posisi cenderung memperumit pengungkapan mereka dan tidak jujur ketika melakukan evaluasi atas kinerja yang dilakukan. Di sisi lain, Kepemilikan CEO membuat lebih banyak tanggung jawab atas keputusan mereka karena CEO akan menerima konsekuensi yang sama seperti pemegang saham lainnya atas tindakan dan keputusan mereka (Khatib et al., 2021) dan dapat menghindari kelalaian dalam diri seorang CEO (Moreno-Ureba & Bravo-Urquiza, 2019). 

Metode dan Hasil Penelitian 

Tubagus Algan Roiston dan Iman Harymawan telah melakukan pengujian pada pengaruh dualitas dan kepemilikan CEO pada keterbacaan catatan atas laporan keuangan. Penelitian ini menggunakan observasi sampel selama 2010-2018 dengan perusahaan-perusahaan Indonesia yang terdaftar di BEI. Hasil yang diperoleh menunjukkan hubungan yang negatif dan signifikan antara dualitas CEO dan catatan kaki laporan keuangan. Selain itu, hubungan antara kepemilikan CEO dan catatan kaki laporan keuangan adalah positif dan signifikan. Lebih jauh lagi, hal ini menunjukkan bahwa dualitas CEO memperluas rasa malu dan memancing perilaku oportunistik dari CEO untuk memprioritaskan kepentingan pribadi untuk melemahkan independensi CEO. Oleh karena itu, keterbacaan catatan kaki keuangan tidak dapat diuraikan. Di sisi lain, kepemilikan CEO lebih bertanggung jawab untuk meningkatkan kinerja perusahaan, sehingga catatan kaki laporan keuangan lebih mudah dibaca. Oleh karena itu, penelitian ini berkontribusi untuk memperluas literatur tentang mencari pemahaman tentang keterbacaan komunikasi tertulis perusahaan di negara-negara berkembang.  

Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan dengan dualitas CEO cenderung menghasilkan catatan kaki laporan keuangan yang sulit dipahami karena dualitas CEO dapat meningkatkan konflik kepentingan dan memancing perilaku oportunistik dari CEO untuk mengutamakan kepentingan pribadi untuk melemahkan independensi CEO. Kinerja CEO tidak maksimal karena harus memikul tanggung jawab kedua perusahaan secara bersamaan.

Penulis: Iman Harymawan, S.E., MBA., Ph.D.

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

AKSES CEPAT