51动漫

51动漫 Official Website

Fenomena Selfie Memicu Ketidakpuasan Bentuk Tubuh dan Eating Disorder

Foto oleh Magzter

Hingga saat ini, penggunaan sosial media semakin luas dan familiar digunakan. Sosial media atau Social Networking Sites (SNS) adalah media komunikasi atau model sosial media yang mengakomodisi pemakai untuk dapat membuat tampilan profil pribadi dan mengkoneksikan dengan orang lain secara online. Media sosial memiliki banyak bentuk dan spesialisasi baik untuk kebutuhan professional maupun personal seperti Facebook, Twitter, YouTube, Instagram, Snapchat, Tumblr, LinkedIn, WordPress, Pinterest, Flickr, Blogspot dan lainnya. Sosial media sangat popular digunakan oleh remaja hingga dewasa untuk menjalin komunikasi dengan orang lain atau sekedar untuk update kehidupan sehari-hari secara rutin.

Salah satu kegiatan yang dapat dilakukan dengan media sosial adalah mengunggah swafoto atau selfie. Sejumlah penelitian menunjukkan beberapa jenis unggahan foto dapat mempengaruhi cara berpikir seseorang, seperti foto tentang kebugaran fisik (physical fitness) pada Pinterest atau Instagram. Peningkatan waktu untuk melihat gambar tentang fitness diketahui berkaitan dengan kebiasaan seseorang untuk melakukan penurunan berat badan dan perhatian pada citra tubuh. Namun media sosial juga memiliki pengaruh negatif terutama dalam kaitannya dengan ketidakpuasan bentuk tubuh dan membuat pengguna memiliki kecenderungan menuju kekurusan terutama pada perempuan muda, objektifikasi diri (self-objectification), pengawasan bentuk tubuh (body surveillance), perhatian berlebih pada citra tubuh (body image concern), mood negatif, dan berbagai isu terkait kebiasaan makan.

Objektifikasi diri sendiri adalah derajat seseorang menginternalisasikan perspektif orang ketiga pada dirinya dan menjadi acuan untuk merubah dirinya menjadi bentuk tubuh yang ingin dilihat oleh orang lain. Semakin besar rasa tidak puas terhadap kondisi tubuhnya, maka seseorang dapat mengalami depresi akibat kepercayaan diri yang rendah dan buruknya kualitas hidup. Berbagai permasalahan ini dapat menyebabkan eating disorders, dimana terjadi gangguan kebiasaan makan yang berkaitan dengan pola pikir dan emosional. Adapun contoh eating disorders yang sering terjadi adalah diet ekstrim, gangguan makan berlebihan atau mengidam (binge eating), berpuasa (fasting), menghitung kalori (calorie counting), dan memicu muntah secara pribadi (self-induced vomiting).

Penggunaan sosial media yang semakin luas menciptakan sejumlah perhatian tertentu terkait dampak yang diberikan pada kondisi kesehatan fisik dan mental pengguna seperti mood negatif, ketidakpuasan terhadap bentuk tubuh, hingga pola makan yang berbahaya. Hal ini dapat diperparah karena penggunaan situs media sosial banyak yang mengarahkan pada informasi terkait kesehatan yang salah. Secara teori, terdapat hubungan yang erat antara penggunaan sosial media dan paparan konten berbasis gambar dengan citra tubuh secara sosial. Perbandingan yang dibuat oleh teman sebaya, salah satunya pada unggahan swafoto menjadi faktor prekursor atau awalan dari ketidapuasan terhadap bentuk tubuh.

Hal ini lebih berdampak pada perempuan sesuai dengan teori objektifikasi dimana gambaran seksual seorang perempuan di komunitas menciptakan budaya dan pandangan bahwa bentuk tubuh wanita menjadi objek yang harus layak untuk dipandang oleh orang lain. Hal ini mengarahkan pada pengaruh aklimatisasi perempuan pada objektifikasi diri. Objektifikasi diri sendiri mengarah pada derajat seseorang menginternalisasikan perspektif orang ketiga pada dirinya dan menjadi acuan untuk merubah dirinya menjadi bentuk tubuh yang ingin dilihat oleh orang lain. Penggunaan SNS menjadi faktor oportunitas yang memperparah kondisi objektifikasi diri dengan mengunggah swafoto dan membandingkan foto yang dimiliki dengan milik orang lain dari komentar dan reaksi yang diberikan orang lain. Berkaitan dengan objektifikasi diri, sosial media berperan sebagai mediator dalam pembentukan ketidakpuasan terhadap bentuk tubuh dan citra tubuh negatif sebagai manifestasi jangka panjang dari objektifikasi diri yang meliputi body shame, body surveillance, kecemasan pada penampilan, internalisasi dari bentuk tubuh ideal yang kurus, dan peningkatan risiko eating disorders. Jika dibiarkan dalam jangka waktu lama, maka akan terbentuk clinically significant eating disorders yang mana akan mulai timbul gejala klinis akibat gangguan pola makan.

Penulis: Dominikus Raditya Atmaka, S.Gz, M.PH.

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

Qonita Rachmah, Dominikus Raditya Atmaka, Stefania Widya Setyaningtyas, Mahmud Aditya Rifqi, Rian Diana, Nila Reswari Haryana, Aliffah Nurria Nastiti, Asri Meidyah Agustin (2022). Apakah Tubuhku Terlihat Baik? Analisis Fenomena Swafoto pada Social Networking Sites dengan Eating Disorders : Systematic Review. Amerta Nutrition, 6(3): 306-314.

AKSES CEPAT