51动漫

51动漫 Official Website

Apakah Literasi Keuangan Benar-Benar Penting dalam Penggunaan Cashless Payment?

Selama beberapa tahun terakhir, melalui revolusi digital, sistem operasi bisnis telah berubah secara signifikan, terutama di industri jasa keuangan. Meluasnya jaringan internet dan tingginya jumlah pengguna telepon seluler membuka peluang besar bagi pertumbuhan sistem pembayaran (Alam, et al., 2021; Liebana-Cabannillas, et al., 2019). Apalagi berkat berkembangnya teknologi komunikasi dan media informasi, masyarakat dapat berbagi informasi dengan mudah melalui telepon selulernya sehingga memungkinkan terjadinya penyebaran informasi dan tren baru secara cepat yang kemudian membawa perubahan pada berbagai aspek kehidupan dan perilaku manusia (Hall & Liu, 2022; Hasan, Le, & Hoque, 2021; Matemba & Li, 2018)

Seiring dengan perkembangan teknologi, kehidupan dan perilaku masyarakat dalam melakukan pembayaran pun mengalami perubahan (Swiecka et al., 2021). Kini, masyarakat mulai beralih menggunakan sistem pembayaran elektronik atau sistem cashless payment yang cenderung lebih praktis, cepat, dan efektif untuk transaksi sehari-hari. Namun, berbagai keunggulan dan kemudahan akses yang ditawarkan sistem cashless payment dapat mendorong masyarakat untuk lebih sering melakukan pembelian secara online (Kurniawan et al., 2019) dan cenderung menjadi perilaku impulsive buying, terutama bagi generasi milenial yang terbiasa menggunakan pembayaran elektronik, tetapi tidak terbiasa atau tidak memiliki pengetahuan dalam mengelola keuangan. Oleh karena itu, literasi keuangan diperlukan untuk dapat mengontrol keuangan mereka (Lusardi & Mitchell, 2014).

Literasi keuangan sendiri merupakan pengetahuan, kemampuan, dan keterampilan individu untuk memahami dan informasi keuangan dan menggunakannya untuk mengambil keputusan yang tepat dan efektif dalam aspek penganggaran, tabungan, dan pengeluaran (Hasan et al., 2021; Lusardi & Mitchell, 2014; Xue et al., 2021). Potrich et al. (2015) menjelaskan bahwa literasi keuanganmerupakan kemampuan individu untuk mengevaluasi dan membuat penilaian yang tepat mengenai pilihan dan efektivitas dari suatu instrument keuangan baru. Literasi keuangan menekankan pentingnya mempertimbangkan dampak, baik jangka pendek maupun jangka panjang, sebelum mengambil keputusan keuangan untuk mencegah konsumerisme yang berlebihan (van Rooij et al., 2011). Hal ini menunjukkan bahwa literasi keuangan dapat mempengaruhi keputusan individu dalam memilih produk dan layanan keuangan.

Berdasarkan model UTAUT yang dikembangkan oleh Venkatesh et al. (2003), perilaku konsumen dalam menerima dan menggunakan suatu teknologi baru dapat dipengaruhi oleh kemudahan penggunaan sistem teknologi yang dirasakan pengguna (effort expectancy) dan pengaruh sosial pengguna (social influence). Selain itu, model UTAUT juga mengidentifikasi bahwa variabel pengalaman (experience) memoderasi pengaruh effort expectancy dan social influence terhadap niat menggunakan suatu teknologi (behavioral intention). Pada penelitian yang dilakukan, variabel pengalaman berfokus pada literasi keuangandari mahasiswa Akuntansi karena literasi keuanganberperan penting dalam menjembatani kesenjangan antara penggunaan internet atau teknologi dan pengelolaan keuangan, serta dapat mempengaruhi penggunaan produk dan layanan keuangan digital (Hasan et al., 2021).

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan pada mahasiswa Akuntansi, sejalan dengan model UTAUT, niat penggunaan sistem cashless payment dipengaruhi oleh effort expectancy dan social influence. Hal ini dapat menjadi perhatian penting bagi perusahaan penyedia sistem cashless payment, terutama dalam mengembangkan dan memasarkan produk atau layanannya. Perusahaan dapat mengembangkan produk dan layanan yang ramah pengguna untuk memudahkan pengguna. Selain itu, perusahaan dapat memanfaatkan opini dan testimoni positif dari pengguna yang ada untuk menciptakan efek word-of-mouth atau menyewa influencer dalam memasarkan produk dan layanannya untuk menarik perhatian calon pengguna sistem cashless payment.

Di sisi lain, hasil penelitian menunjukan bahwa literasi keuangantidak memoderasi pengaruh effort expectancy terhadap niat penggunaan cashless payment. Hal ini mengindikasikan bahwa sistem cashless payment sendiri telah dirancang memiliki fitur yang sederhana dan mudah digunakan sehingga pengguna tidak perlu memiliki literasi keuanganyang tinggi untuk dapat menggunakannya. Baik pengguna yang memiliki tingkat literasi keuangan tinggi maupun pengguna dengan tingkat literasi rendah dapat memahami dan menggunakan cashless payment dengan mudah. Oleh karena itu, tingkat literasi keuangan pengguna tidak meningkatkan atau mempengaruhi kemudahan yang dirasakan pengguna dalam menggunakan sistem cashless payment. Selain itu, literasi keuangan juga tidak memoderasi pengaruh social influence terhadap niat penggunaan sistem cashless payment. Hal ini dapat terjadi karena adanya kondisi atau faktor eksternal lain yang tidak dapat dihindari atau di luar kendali pengguna, contohnya seperti kebijakan demonetisasi pemerintah atau program cashless society, kondisi pasca pandemic Covid-19 yang menyebabkan banyak toko hanya menerima transaksi cashless payment, dan sebagian besar perkantoran yang kini menggunakan sistem payroll bank. Kondisi ini dapat memaksa siapa pun, baik pengguna dengan tingkat literasi keuangan tinggi maupun pengguna dengan tingkat literasi keuangan rendah, untuk beralih menggunakan sistem cashless payment. Oleh karena itu, dalam kondisi ini, tingkat literasi keuangan tidak dapat mempengaruhi keputusan individu untuk menggunakan sistem cashless payment atau tidak.

Penulis: Alfiyatul Qomariyah, PhD

Jurnal: Does Financial Literacy Matter in Cashless Payment Usage?

AKSES CEPAT