51动漫

51动漫 Official Website

Aplikasi Limbah Pengolahan Kedelai dan Tetes Tebu sebagai Media Kultur Bakteri Probiotik

Foto oleh epices-review.fr

Industri peternakan dan perikanan memiliki potensi besar untuk dikembangkan dan diintensifkan guna memenuhi kebutuhan pangan yang berasal dari hewan secara berkelanjutan. Peningkatan kualitas ternak dilakukan dengan melakukan seleksi, mengembangbiakkan, memperbaiki nutrisi dan menghindari penggunaan antibiotik pada industri peternakan dan perikanan karena dapat menyebabkan resistensi antibiotik terhadap bakteri patogen. Penggunaan probiotik membantu meningkatkan keseimbangan mikrobioma usus, menekan patogen, meningkatkan fungsi pencernaan, meningkatkan kekebalan, efisiensi pakan, meningkatkan produktivitas (daging, telur dan susu), menurunkan angka penyakit dan kematian, serta meningkatkan kesehatan induk.

Upaya memperoleh alternatif pengganti antibiotik perlu dilakukan, yaitu  probiotik yang berasal dari mikroba strain tunggal atau campuran yang ditambahkan dalam pakan ternak. Peningkatan kecernaan bahan pakan akan meningkatkan produktivitas ternak dan memaksimalkan pertumbuhan. Efektivitas penggunaan probiotik tergantung terutama pada jenis mikroba yang digunakan (strain tunggal atau campuran), viabilitas, metode pemberian dan dosis, faktor stres lingkungan, umur serta status kesehatan hewan. Sekitar 80% pakan ternak unggas berasal dari biji-bijian seperti jagung, kedelai, gandum, dan berbagai jenis lainnya yang merupakan sumber karbohidrat, lemak dan protein. Selain itu, mengandung nutrisi yang dibutuhkan oleh tubuh hewan, biji-bijian dan makanan mengandung senyawa anti nutrisi untuk hewan monogastrik (memiliki lambung tunggal) yaitu asam fitat. Asam fitat dapat mengikat sekitar 80% fosfor dalam biji-bijian dan menghambat enzim termasuk tripsin dan amilase, sehingga mengurangi kecernaan protein dalam hewan, menghambat kecernaan pakan, dan menurunkan nilai gizi bahan pakan yang diturunkan dari tanaman. Akibatnya, mengganggu pemanfaatan pakan dan mempengaruhi kesehatan dan produksi ternak melalui mekanisme penurunan asupan nutrisi. Sehingga perlu adanya solusi untuk memutuskan ikatan asam fitat agar kecernaan bahan pakan ternak meningkat.

Bakteri pengkaya pakan yang menghasilkan enzim fitase dapat meningkatkan penyerapan kandungan fosfor pakan, mengurangi pengaruh anti nutrisi negatif asam fitat dan mengurangi biaya pakan. Bakteri fitase dapat tumbuh pada media air gula, namun belum diketahui nama spesifiknya, yang selanjutnya akan diuji pertumbuhannya pada media limbah pengolahan tempe dan molase (tetes tebu) untuk dijadikan sebagai kandidat probiotik. Pemanfaatan limbah pengolahan tempe dan molase merupakan upaya pemanfaatan bahan-bahan lokal yang melimpah, murah, dan mudah diperoleh serta belum dioptimalkan pemanfaatannya sebagai media pertumbuhan bakteri dalam proses pembuatan probiotik. Limbah tempe setiap 100 g mengandung 79 kkal, 0,04 g lemak, 0,047 g protein, 4,06 g karbohidrat, 94,55 g air dan 0,88 g abu, sedangkan molase mengandung sekitar 40-60% sukrosa, glukosa dan fruktosa dalam konsentrasi rendah. Kedua limbah tersebut bersifat biodegradable, yaitu limbah atau bahan yang dapat dimusnahkan oleh mikroorganisme.

Penulis: Muhamad Amin, Departemen Akuakultur, Fakultas Perikanan dan Kelautan, 51动漫.

Sumber: Al Gifari, Z., Agistna, I., Anwar, K., Rosyidi, A., Ali, M., & Amin, M. 2022. Cultivation of Phytase-Producing Bacteria as Probiotic Candidate on Molasses and Tempe-Processing Waste. In IOP Conference Series: Earth and Environmental Science (Vol. 1036, No. 1, p. 012048). IOP Publishing.

Link:

AKSES CEPAT