Hipertensi merupakan masalah kesehatan global utama dan faktor risiko yang sudah mapan untuk penyakit kardiovaskular, yang seringkali menyebabkan komplikasi seperti remodeling miokard dan disfungsi jantung. Salah satu mekanisme mendasar yang berkontribusi terhadap kerusakan jantung akibat hipertensi adalah apoptosis, suatu bentuk kematian sel terprogram yang diatur secara ketat. Apoptosis jantung dapat dimulai melalui dua jalur utama: jalur ekstrinsik, yang dimediasi oleh ligan Fas (FasL), dan jalur mitokondria intrinsik yang melibatkan sitokrom c. FasL memulai apoptosis dengan mengikat reseptornya (Fas), kemudian mengaktifkan domain kematian terkait Fas (FADD) dan memicu kaspase-8 hilir, yang berpuncak pada aktivasi kaspase-3. Secara paralel, stres mitokondria pada kondisi hipertensi menyebabkan pelepasan sitokrom c ke dalam sitoplasma, di mana ia berinteraksi dengan faktor pengaktif protease apoptosis-1 (Apaf-1) dan ATP, yang mengarah pada aktivasi caspase-9 dan caspase-3. Aktivasi berlebihan dari jalur-jalur ini berkontribusi pada hilangnya kardiomiosit dan remodeling ventrikel kiri, sehingga memperburuk fungsi jantung pada hipertensi yang berkelanjutan. Apoptosis adalah mekanisme utama yang terlibat dalam patofisiologi cedera jantung akibat hipertensi. Apoptosis pada jaringan jantung dapat dipicu oleh berbagai mekanisme molekuler, termasuk jalur ekstrinsik yang diatur oleh ligan Fas (FasL) dan sistem intrinsik yang bergantung pada pelepasan sitokrom c dari mitokondria. Peningkatan aktivitas kedua jalur ini dapat mempercepat kerusakan jaringan jantung; Oleh karena itu, mengurangi apoptosis yang berlebihan merupakan taktik penting dalam pengobatan hipertensi.
Hipertensi meningkatkan beban mekanis dan stres oksidatif di miokardium, khususnya di ventrikel kiri, yang menyebabkan hipertrofi dan penurunan kepatuhan ventrikel (Nadar dan Lip, 2021). Perubahan hemodinamik dan biokimia ini semakin diperparah oleh disregulasi neurohormonal, termasuk aktivasi sistem saraf simpatik dan sistem renin-angiotensin-aldosteron (RAAS), yang meningkatkan kadar angiotensin II dan stres oksidatif. Disfungsi mitokondria, cedera oksidatif, dan perubahan keseimbangan redoks dalam kondisi tersebut secara kolektif mendorong proses apoptosis pada kardiomiosit. Pada hipertensi kronis, respons baroreseptor terganggu, mengakibatkan peningkatan tonus simpatik dan sekresi hormon seperti angiotensin II, yang menyempitkan pembuluh darah dan meningkatkan retensi natrium dan cairan. Akibatnya, volume darah meningkat, upaya jantung meningkat, dan pengaturan tekanan darah menjadi lebih sulit. Pada jantung hipertensi, stres oksidatif dan peningkatan stres mekanik dapat menginduksi apoptosis melalui jalur mitokondria yang difasilitasi oleh sitokrom c (Eirin dkk., 2014). Dalam kondisi hipertensi, peningkatan stres mekanik dan oksidatif dapat mempercepat aktivasi jalur FasL/Fas, yang menyebabkan remodeling jantung dan disfungsi kardiovaskular sebagai akibat dari kehilangan kardiomiosit yang berlebihan.
Mengingat peran sentral stres oksidatif dan apoptosis dalam cedera jantung hipertensi, menargetkan jalur-jalur ini menawarkan pendekatan terapeutik yang menjanjikan. Rhodomyrtus tomentosa (Aiton) Hassk., yang biasa disebut haramonting, memiliki kemampuan untuk berfungsi sebagai antioksidan alami yang dapat menghambat apoptosis yang diinduksi oleh stres oksidatif. Konsentrasi komponen fenolik dan flavonoid dalam ekstrak R. tomentosa sangat penting untuk menetralkan radikal bebas dan mengurangi peroksidasi lipid yang dapat merusak membran sel. R. tomentosa menjaga integritas sel dan menghambat aktivasi jalur apoptosis intrinsik dengan mengurangi pembentukan spesies oksigen reaktif (ROS) dan meningkatkan aktivitas enzim antioksidan, termasuk superoksida dismutase (SOD) dan katalase. Oleh karena itu, tanaman ini memiliki potensi untuk diformulasikan sebagai obat alami untuk melindungi sel dari kerusakan yang disebabkan oleh paparan zat berbahaya atau situasi patologis yang menginduksi stres oksidatif. Antioksidan dari tanaman ini sangat penting dalam menghambat apoptosis pada situasi hipertensi dengan mengurangi stres oksidatif dan peradangan yang menyebabkan kerusakan sel (Vo dan Ngo, 2019). Senyawa antioksidan, termasuk flavonoid, polifenol, dan alkaloid yang terdapat dalam berbagai tanaman herbal, dapat menetralkan radikal bebas, meningkatkan aktivitas enzim antioksidan endogen, dan menekan produksi protein pro-apoptosis seperti Bax dan caspase-3. Studi sebelumnya telah menyoroti kemampuan R. tomentosa untuk mengurangi stres oksidatif dan menekan apoptosis dalam berbagai kondisi patologis. Namun, perannya dalam memodulasi apoptosis jantung pada hipertensi, khususnya melalui jalur sinyal FasL dan sitokrom c, masih kurang dieksplorasi. Studi ini bertujuan untuk mengevaluasi efek ekstrak etanol R. tomentosa pada apoptosis yang dimediasi FasL dan sitokrom c pada jaringan jantung tikus hipertensi. Temuan ini diharapkan dapat menjelaskan mekanisme kardioprotektif R. tomentosa dan mendukung potensi aplikasinya sebagai agen terapeutik alami pada penyakit jantung hipertensi.
R. tomentosa secara signifikan mengurangi kerusakan miokard, ekspresi penanda apoptosis, dan stres oksidatif secara bergantung pada dosis (p<0,01). Dosis 300 mg/kg BW (J3) menunjukkan efek yang sebanding dengan enalapril, termasuk pengurangan yang nyata pada kadar FasL, sitokrom c, dan caspase-3. R. tomentosa memberikan efek kardioprotektif dengan memodulasi jalur apoptosis intrinsik dan ekstrinsik serta mengurangi kerusakan oksidatif pada jaringan jantung hipertensi. Temuan ini mendukung potensinya sebagai terapi tambahan alami untuk cedera jantung akibat hipertensi.
Penulis: Putri Cahaya Situmorang, Alexander Patera Nugraha
Link lengkap:





