Ulser traumatik merupakan salah satu cedera mukosa mulut yang paling sering terjadi, dengan prevalensi dilaporkan hingga 95% di Indonesia. Secara klinis, ulser ditandai hilangnya epitel, fibrin kekuningan di pusat lesi, batas eritematous, dan penyembuhan alami yang berlangsung 10“14 hari bila faktor penyebab dihilangkan. Proses penyembuhan luka berlangsung melalui fase hemostasis, inflamasi, proliferasi, dan maturasi, yang secara keseluruhan membutuhkan koordinasi selular dan molekuler yang kompleks. Dalam konteks ini, intervensi yang dapat mempercepat proses penyembuhan menjadi penting, terutama pada luka yang terpapar lingkungan rongga mulut.
Terapi regeneratif menggunakan sel punca terus dikembangkan karena kemampuannya menghasilkan faktor-faktor bioaktif yang mendukung penyembuhan. Salah satu sumber sel punca yang potensial adalah stem cells from human exfoliated deciduous teeth (SHED), yang diketahui mampu berdiferensiasi menjadi berbagai jenis sel serta menghasilkan beragam faktor pertumbuhan, sitokin, dan molekul regulasi. Namun, penggunaan sel hidup masih memiliki keterbatasan seperti risiko mutasi, tumorigenesis, dan penolakan imun.

Untuk mengatasi hal tersebut, digunakanlah secretome atau produk sekresi sel punca, khususnya dalam bentuk spent medium (conditioned medium). Secretome mengandung molekul penting seperti growth factors, kemokin, ECM components, vesikel ekstraseluler, dan exosome yang bekerja secara parakrin untuk mendukung penyembuhan jaringan. Conditioned medium SHED (SHED-CM) menjadi alternatif terapi topikal yang aman, minim invasif, dan mudah digunakan.
Nanoemulgel dikembangkan sebagai vehikel topikal untuk meningkatkan stabilitas dan pelepasan bertahap komponen bioaktif dalam SHED-CM. Ukuran partikel nano memperbaiki penetrasi dan retensi lokal, sedangkan basis gel memberikan daya lekat baik pada mukosa. Kombinasi ini diharapkan mampu meningkatkan efikasi SHED-CM dalam mempercepat penyembuhan ulser mukosa bukal traumatik.
Metode
Penelitian ini merupakan studi eksperimental dengan uji in vitro dan in vivo. Uji viabilitas sel dilakukan pada fibroblas NIH-3T3 menggunakan metode MTT untuk menentukan konsentrasi SHED-CM yang paling optimal (H1, H3, H5). Pada uji in vivo, 30 tikus Wistar dibagi acak menjadi kelompok perlakuan SHED-CM nanoemulgel dan kontrol (Aloclair Plus). Ulser traumatik dibuat menggunakan punch biopsy 3 mm pada mukosa bukal kanan, dan gel diaplikasikan sekali sehari selama empat hari. Evaluasi klinis dilakukan pada hari 1, 3, 5, 7, dan 14. Sampel jaringan diperiksa menggunakan pewarnaan HE untuk menghitung jumlah neutrofil dan IHK untuk menilai ekspresi COX-2, Collagen-1, dan VEGF. Data dianalisis menggunakan uji ANOVA satu arah, dilanjutkan dengan post hoc LSD setelah lulus uji normalitas dan homogenitas.
Simpulan
SHED-CM nanoemulgel terbukti mampu mempercepat penyembuhan ulser mukosa bukal traumatik, ditunjukkan oleh percepatan penutupan epitel pada hari ke-5, peningkatan infiltrasi neutrofil awal, peningkatan ekspresi COX-2 pada fase inflamasi, serta peningkatan Collagen-1 dan VEGF pada fase proliferasi. Komponen bioaktif dalam SHED-CM berperan penting dalam modulasi inflamasi, stimulasi angiogenesis, proliferasi fibroblas, dan remodeling kolagen, sehingga SHED-CM nanoemulgel berpotensi menjadi terapi topikal yang efektif dan aman untuk penyembuhan ulser mukosa.
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:
Handajani J, Setia Budi H, R Amir L, Angky Soekanto S. Effect of Stem Cells from Human Exfoliated Deciduous Teeth Spent Medium (SHED-SM) on the Healing of Traumatic Buccal Mucosal Ulcers. F1000Res. 2025 Oct 21;14:510. doi: 10.12688/f1000research.164339.2. PMID: 41079306; PMCID: PMC12514440.





