UNAIR NEWS – Gelaran HITEX 2025 pada hari pertama, Selasa (20/5/25) berlangsung meriah di Airlangga Convention Center, Kampus MERR-C, 51动漫 (UNAIR). Gelaran pameran riset dan inovasi itu tidak hanya menunjukkan berbagai hasil riset dari UNAIR dan 24 PTN-BH undangan yang hadir. Namun juga materi yang dibawakan oleh pemateri yang ahli di bidangnya.
Salah satu pemateri yang mengisi gelaran HITEX 2025 dari Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat (Badan Perencanaan Pembangunan Nasional), Bahagiati Maghfiroh M Stat. Dalam gelaran HITEX itu, Bahagiati menyinggung terkait masalah kesehatan global yang mengkhawatirkan salah satunya resistensi antimikroba.
Konsep One Health
Bahagiati menyebut dalam mengatasi permasalahan dalam konsep One Health yang menyebut bahwa kesehatan manusia, hewan dan lingkungan saling berkaitan satu sama lain. Karena itu, perlu suatu langkah konkret untuk dapat mencegah adanya penyakit yang muncul dari ketiga komponen tersebut.
淭erdapat 60 persen penyakit pada manusia yang berasal dari hewan atau bersifat zoonosis. Hal ini disebabkan oleh rendahnya tingkat vaksinasi pada hewan seperti rabies yang ditemukan pada anjing. Meskipun berbahaya, namun kesadaran terhadap penyakit yang dapat menular dari hewan ke manusia masih rendah. Sehingga menimbulkan tingginya risiko penularan penyakit, ungkapnya.
Resistensi Antimikroba
Selain risiko zoonosis dari hewan ke manusia, Bahagiati menekankan bahaya resistensi antimikroba yang terjadi di masyarakat. Meskipun ancaman tersebut sangat mematikan, namun tidak banyak disadari dan terjadi di masyarakat setiap harinya. Indonesia sebagai negara berkembang seperti Indonesia memiliki resiko resistensi antimikroba yang cukup tinggi.
淪ekitar 80 persen penduduk Indonesia melakukan swamedikasi yang mana mereka membeli dan mengkonsumsi obat tanpa obat dokter. Akibatnya terjadi banyak kasus kematian akibat resistensi antimikroba yang membahayakan. Apabila tidak segera ditangani dengan serius dapat berpotensi menjadi krisis global yang lebih berbahaya dari pandemi Covid-19 lalu, ungkapnya.
Bahagiati melanjutkan bahwa kerugian akibat resistensi antimikroba dalam masyarakat juga berhubungan dengan kerugian ekonomi yang mana dapat memengaruhi kesejahteraan masyarakat. Sebagai negara berkembang, Indonesia berpotensi mengalami dampak tersebut akibat masih banyaknya kasus penyakit seperti HIV, TBC dan Malaria.
淧enyakit seperti TBC, HIV dan Malaria berkaitan erat dengan proses pengobatannya yang memerlukan waktu yang cukup lama dan harus tuntas. Sehingga apabila tidak dilakukan secara tuntas, maka akan timbul masalah resistensi antimikroba pada pasien. Terlebih meningkatnya harapan hidup di Indonesia dapat menimbulkan masalah penyakit baru yang akan muncul, imbuhnya.
Dengan urgensi yang ada, Bahagiati menyebut pembangunan berwawasan kesehatan menjadi suatu langkah penting untuk terealisasi. Dalam konteks ketahanan nasional, bencana kesehatan ini dapat mempengaruhi banyak aspek kehidupan dan memerlukan pendekatan One Health untuk dapat meminimalisir adanya dampak kesehatan yang muncul.
淧erlu sinergi dari berbagai pihak untuk dapat mewujudkan ketahanan kesehatan global dan kebijakan khusus yang dapat mengakomodir keamanan bahan pangan bebas dari bahan kimia berbahaya serta antimikroba yang dapat berpotensi menimbulkan resistensi. Oleh karena itu, pendekatan One Health penting diimplementasikan untuk mewujudkan ketahanan kesehatan global, pungkasnya.
Penulis: Rifki Sunarsis Ari Adi
Editor: Yulia Rohmawati





