UNAIR NEWS – Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) merupakan kontributor utama terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) serta penyerap tenaga kerja terbesar. Sayangnya, besarnya potensi ini sering kali tidak dibarengi dengan adaptasi teknologi guna mengakselerasi pendapatan. Tantangan ini sangat terasa di Desa Bedanten, Kecamatan Bungah, Kabupaten Gresik, khususnya pada pelaku usaha dari kalangan generasi tua yang lebih nyaman dengan cara konvensional.
Merespons kondisi tersebut, mahasiswa Belajar Bersama Komunitas (BBK) 7 51动漫 (UNAIR) berkolaborasi dengan Pengurus Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) melakukan terobosan melalui program digitalisasi UMKM. Program ini difokuskan pada dua kegiatan utama yakni Pendataan UMKM di tiga RT dan Perancangan kemasan baru untuk menciptakan branding produk yang lebih kuat.
Potensi Desa
Hamas Baja Sahik selaku Koordinator BBK Desa Bedanten menjelaskan bahwa langkah ini diambil mengingat kebutuhan desa akan basis data UMKM yang potensial menjadi pemasok Koperasi Merah Putih yang baru diresmikan pada 16 Januari 2026. Menariknya, tim BBK 7 memutuskan untuk tidak memaksakan penggunaan QRIS.
淜eputusan ini didasari hasil observasi bahwa mayoritas pelaku UMKM di lokasi target sudah berusia lanjut dan kesulitan memahami sistem pembayaran digital. Meski demikian, data yang dikumpulkan tetap menjadi aset berharga bagi pemangku kebijakan desa untuk program pemberdayaan selanjutnya, ujarnya.
Metode pelaksanaan dilakukan melalui survei daring dan luring (jemput bola). Proses penyusunan kuesioner, survei, foto produk, perancangan kemasan, hingga unggah data ke laman desa berlangsung pada 1025 Januari. Hasilnya, sebanyak 15 UMKM berhasil disurvei. Enam di antaranya sukses terdata penuh di laman desa, sementara sebagian lainnya difasilitasi melalui pembuatan desain kemasan dan banner usaha. 淧rogram ini diharapkan berkontribusi pada ketersediaan data UMKM yang transparan serta mendukung ketercapaian SDG 8, jelasnya.
Inovasi Bandeng Wonton
Selain aspek digital, Tim BBK 7 UNAIR Desa Bedanten juga mengusung pemberdayaan melalui diversifikasi pangan lokal. Mengingat, sambungnya, Desa Bedanten merupakan penghasil ikan bandeng, mahasiswa berinovasi menyulap komoditas ini menjadi jajanan kekinian, yaitu Wonton Bandeng. 淧rogram ini menyasar Ibu-ibu PKK melalui lokakarya (workshop) interaktif. Tujuannya adalah memberdayakan perempuan agar memiliki keterampilan wirausaha Mandiri, paparnya.
Melalui program ini, Tim BBK 7 UNAIR Desa Bedanten berharap inisiatif tidak berhenti di mahasiswa, melainkan bersinergi dengan BUMDes sebagai penggerak ekonomi desa yang berkelanjutan. Hal ini selaras dengan upaya perwujudan SDG 8 serta SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab).
Penulis: Tim BBK Desa Bedanten





