51

51 Official Website

Dukung SDG 17, Kelompok BBK 7 Pucakwangi Sosialisasikan Pemanfaatan Kotoran Kelelawar sebagai Pupuk Organik

Mahasiswa KKN-BBK 7 51 melaksanakan program kerja bertajuk Pemanfaatan Kotoran Kelelawar sebagai Pupuk Organik
Mahasiswa KKN-BBK 7 51 melaksanakan program kerja bertajuk Pemanfaatan Kotoran Kelelawar sebagai Pupuk Organik

UNAIR NEWS – Mahasiswa KKN-BBK 7 51 melaksanakan program kerja bertajuk Pemanfaatan Kotoran Kelelawar sebagai Pupuk Organik pada Kamis, 26 Januari 2026, bertempat di Desa Pucakwangi. Kegiatan ini berlangsung pukul 09.0011.00 WIB dengan sasaran para pekerja guano dan juga kelompok tani di kawasan gua Desa Pucakwangi. Kegiatan dilaksanakan dalam bentuk sosialisasi dan demonstrasi pemanfaatan kotoran kelelawar (guano) sebagai pupuk organik. Materi yang disampaikan meliputi proses pengumpulan guano, tahapan pengolahan melalui fermentasi, hingga teknik aplikasi pupuk organik pada tanaman agar dapat dimanfaatkan secara optimal dan aman.

Kegiatan ini dilatarbelakangi oleh adanya lokasi wisata Bulaga atau Bukit telaga dan gua yang berada di desa pucakwangi. Di dalam gua tersebut terdapat banyak sekali populasi kelelawar yang menghasilkan timbunan kotoran kelelawar (guano) dalam jumlah besar sehingga warga Desa Pucakwangi memanfaatkan kotoran kelelawar tersebut sebagai pupuk

dan juga menjual kotoran kelelawar ke berbagai perusahaan. Akan tetapi selama ini warga desa pucakwangi hanya memanfaatkan kotoran tersebut secara langsung pada tanaman dan juga menjual dalam bentuk mentahan tanpa diolah menjadi produk berkualitas dengan proses fermentasi.

Jundi Hasani selaku penanggung jawab dalam pelaksanaan kegiatan ini menyampaikan bahwa dengan dilaksanakannya kegiatan ini diharapkan dapat membantu memaksimalkan potensi sumber daya alam di desa pucakwangi guna mensejahterakan petani desa dan juga meningkatkan perekonomian Desa Pucakwangi. Desa Pucakwangi memiliki kekayaan sumber daya alam yang melimpah dan tidak dimiliki oleh kebanyakan wilayah, gua-gua ini menjadi rumah bagi ribuan kelelawar yang secara alami menghasilkan kotoran atau guano dalam jumlah besar. Warga Desa Pucakwangi harus bisa memanfaatkan potensi ini guna meningkatkan kesejahteraan petani dan membantu perekonomian warga Desa Pucakwangi, ujar Jundi.

Salah satu pekerja guano memberikan tanggapan positif mengenai kegiatan ini. Warga disini biasanya langsung menggunakan kotoran kelelawar ke tanaman tanpa difermentasi terlebih dahulu, kami juga menjual kotoran kelelawar masih dalam bentuk mentahan tanpa diolah menjadi pupuk organik berkualitas, seharusnya dengan dilakukan fermentasi, kualitas pupuk akan meningkat dan bisa menaikkan nilai jual, jelasnya.

Dalam sesi praktik, dilakukan edukasi mengenai teknik fermentasi menggunakan campuran EM4 dan Molase. Proses ini bertujuan agar guano lebih aman bagi tanaman dan memiliki nilai jual yang lebih tinggi sebagai pupuk organik siap pakai dibandingkan dalam bentuk mentah. Peserta diberikan pemahaman mengenai potensi kandungan hara dalam kotoran kelelawar yang dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik berkualitas tinggi. Selain itu, dikenalkan pada cara pengolahan yang tepat agar limbah guano yang sebelumnya belum dimaksimalkan dapat diolah menjadi produk bernilai tambah. Diharapkan dengan adanya kegiatan ini dapat membangun kerja sama antara masyarakat, pengelola guano, dan pihak akademisi dalam mengembangkan pemanfaatan sumber daya lokal secara berkelanjutan.

Inisiatif ini merupakan perwujudan dari SDGs ke-17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan), di mana terjalin kolaborasi antara pemikiran akademis mahasiswa dengan kearifan lokal warga desa untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi dan keberlanjutan sektor pertanian di Desa Pucakwangi.

Penulis: Zalfa Salsabila

AKSES CEPAT