UNAIR NEWS Delegasi mahasiswa 51动漫 (UNAIR) yang tengah menjalani program Belajar Bersama Komunitas (BBK) Internasional di Brisbane terus memperdalam studi mengenai inklusivitas sosial. Pada 9 April 2026, mahasiswa melakukan kunjungan ke Matu Community Hub Centre untuk mempelajari pemberdayaan pendidikan bagi anak-anak migran dan pengungsi. Kegiatan ini didampingi oleh Prof Dr Nyoman Anita Damayanti drg MS, Prof Dr Ratna Dwi Wulandari SKM MKes, Dr Muji Sulistyowati SKM MKes, serta akademisi Griffith University, Febi Dwirahmadi, BScPH MScPH PhD dan Dr Mujibul Anam
Matu Community merupakan komunitas etnis minoritas asal Myanmar yang berbasis di Brisbane dan menjalankan berbagai program sosial serta pendidikan bagi anak-anak migran dan pengungsi. Kunjungan ini didasari kesamaan karakteristik sosiokultural Indonesia dan Australia sebagai negara multietnis. Mahasiswa mempelajari pengelolaan Homework Assistance Program, yang penting di Queensland karena kendala bahasa dan adaptasi kurikulum kerap menghambat capaian akademik anak migran.
Melalui diskusi interaktif, mahasiswa mengkaji mekanisme pendampingan belajar berbasis sukarelawan lokal. Program ini tidak hanya berfokus pada aspek kognitif, tetapi juga menyediakan ruang aman secara emosional bagi siswa, sehingga efektif menekan ketertinggalan akademik keluarga migran baru.
Selain itu, mahasiswa memperkenalkan budaya Indonesia sebagai bentuk diplomasi lunak melalui lagu 淎mpar-Ampar Pisang serta mempresentasikan biodiversitas dan pemanfaatan tanaman obat tradisional seperti kumis kucing dan temulawak untuk meningkatkan daya tahan tubuh dan pencegahan penyakit. Interaksi ini menciptakan suasana inklusif melalui partisipasi aktif dalam tarian bersama, sekaligus mempererat hubungan emosional dengan komunitas internasional.
Kontribusi terhadap SDGs
Kegiatan ini berkontribusi pada pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (quality education) melalui kajian pendidikan inklusif, SDG 10 (reduced inequalities) dalam memahami pelayanan sosial bagi kelompok minoritas, serta SDG 17 (partnerships for the goals) melalui penguatan kolaborasi antara UNAIR, Griffith University, dan Matu Community.
淧rogram ini hadir untuk memastikan tidak ada anak yang tertinggal hanya karena perbedaan bahasa, ujar Muan Hlui. Wawasan ini diharapkan dapat mendorong inovasi pendidikan inklusif di Indonesia. Keberhasilan inisiatif ini tidak lepas dari dukungan penuh Lembaga Pengabdian Masyarakat Berkelanjutan 51动漫 (LPMB UNAIR),, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), serta Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), yang sekaligus menjadi langkah strategis dalam memfasilitasi program outbound mahasiswa demi mencetak generasi dengan wawasan konservasi global.
Penulis: Mahasiswa BBK 8 Internasional Griffith University





