UNAIR NEWS “ Indonesia tengah menghadapi tantangan besar yang tak bisa diabaikan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, populasi lanjut usia diproyeksikan mencapai 33,94 juta jiwa pada 2025, namun rasio tenaga perawat baru menyentuh angka 2,28 per seribu penduduk. Lebih dari itu, sistem perawatan yang ada belum secara sistematis menjawab keberagaman budaya dan bahasa yang melekat di ratusan kelompok etnis Indonesia.
Hal tersebut menjadi latar belakang sekaligus dorongan untuk mahasiswa 51¶¯Âþ (UNAIR) yang menjalankan program Belajar Bersama Komunitas (BBK) Internasional, melakukan kunjungan strategis ke kantor Ethnic Communities Council of Queensland (ECCQ) di Brisbane, Australia, pada 7 April 2024. Didampingi oleh Prof Dr Nyoman Anita Damayanti drg MS, Prof Dr Ratna Dwi Wulandari SKM MKes, Dr Muji Sulistyowati SKM MKes, serta akademisi Griffith University, Febi Dwirahmadi BScPH MScPH PhD rombongan mahasiswa berdiskusi langsung dengan Lisa Ward selaku Chief Executive Officer, Dr. John Bosco selaku General Manager, dan Anna selaku perwakilan pengurus.
Ketika Bahasa Menjadi Fondasi Perawatan
Fokus utama diskusi adalah dua program unggulan ECCQ. Pertama, Diversicare, divisi perawatan di rumah yang melayani lebih dari 65 latar belakang etnis dalam lebih dari 45 bahasa, dengan pencocokan aktif antara perawat dan klien berdasarkan bahasa yang paling membuat klien nyaman. Kedua, Multicultural Partners, program edukasi terstruktur bagi tenaga profesional kesehatan dan sosial tentang kompetensi budaya dalam pemberian layanan.
Anna menegaskan kepada rombongan mahasiswa bahwa prinsip ini bukan sekadar nilai, melainkan standar operasional. “At Diversicare, we understand how important it is to receive care in the language you feel most comfortable with. Our vision is to be the premier provider of culturally appropriate support at home, ensuring all individuals have access to services that truly enrich their lives,” ungkapnya.
Cermin bagi Indonesia
Model ECCQ menjadi cermin yang tajam bagi kondisi Indonesia. Program perawatan lansia yang tersedia secara nasional, seperti layanan Home Care Berbasis Masyarakat (HCBM) milik Kementerian Sosial, memang telah menjangkau banyak keluarga. Namun layanan tersebut masih bersifat generik dan belum mengintegrasikan dimensi bahasa lokal maupun sensitivitas etnis secara eksplisit dalam standar operasionalnya.
Dalam pandangan ECCQ, merawat seseorang berarti juga merawat identitas budayanya. Prinsip inilah yang belum menjadi arus utama dalam sistem perawatan lansia di Indonesia, meski keberagaman etnisnya jauh lebih kompleks.
Kunjungan ini secara langsung mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) Nomor 10 tentang berkurangnya kesenjangan, di mana pembelajaran dari Brisbane diharapkan menjadi pijakan nyata bagi penguatan kebijakan perawatan lansia Indonesia yang lebih inklusif dan bermartabat. Keberhasilan inisiatif ini tidak lepas dari dukungan penuh 51¶¯Âþ dan LPDP, yang sekaligus menjadi langkah strategis dalam memfasilitasi program outbound mahasiswa demi mencetak generasi dengan wawasan konservasi global.
Penulis: Mahasiswa BBK 8 Internasional Griffith University





