Penelitian ini membahas bagaimana kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) mengubah praktik kreatif dalam industri periklanan, khususnya dalam hubungan antara kreativitas manusia dan teknologi algoritmik. Selama ini, sebagian besar penelitian tentang AI dalam industri kreatif cenderung menekankan aspek efisiensi teknologi atau risiko etis yang ditimbulkannya. Namun, penelitian ini berupaya melihat AI dari sudut pandang yang lebih kultural, yaitu sebagai faktor yang memediasi praktik kreatif sehari-hari dan mengubah cara otoritas kreatif serta tanggung jawab profesional dipahami dalam organisasi.
Penelitian dilakukan melalui pendekatan fenomenologis dengan wawancara mendalam terhadap 15 profesional periklanan di Jakarta, termasuk creative director, art director, desainer visual, copywriter, dan account planner. Pendekatan ini dipilih untuk memahami pengalaman langsung para praktisi yang bekerja di tengah transformasi teknologi tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa AI tidak sekadar berfungsi sebagai alat bantu teknis, tetapi juga sebagai mediator yang mengubah alur kerja kreatif, cara pengambilan keputusan, serta hubungan antara pengalaman manusia dan sistem algoritmik dalam proses penciptaan
Temuan penelitian mengidentifikasi beberapa dinamika utama. Pertama, AI terbukti meningkatkan efisiensi kerja dengan mengotomatisasi tugas-tugas rutin seperti pembuatan variasi desain, pengujian konsep, dan pengolahan visual. Hal ini memungkinkan desainer lebih fokus pada aspek konseptual dan strategi kreatif. Kedua, meskipun efisiensi meningkat, banyak praktisi mengkhawatirkan potensi hilangnya 渟entuhan manusia, terutama dalam hal intuisi, emosi, dan pemahaman konteks budaya yang sering kali sulit direplikasi oleh algoritma. Ketiga, penelitian ini menegaskan pentingnya peran manusia dalam mengawasi dan menafsirkan hasil kerja AI. Desainer tidak lagi hanya berperan sebagai pencipta visual, tetapi juga sebagai kurator, editor, dan penjaga tanggung jawab etis dalam proses kreatif berbasis teknologi. Keempat, muncul fenomena yang disebut sebagai bidirectional learning, yaitu proses belajar dua arah antara generasi profesional yang berbeda. Desainer muda biasanya lebih fasih dalam penggunaan teknologi AI, sementara desainer senior memiliki pengalaman strategis dan pemahaman klien yang lebih mendalam. Kolaborasi ini menghasilkan bentuk kerja baru yang lebih saling melengkapi.
Selain itu, penelitian ini menunjukkan bahwa keberhasilan integrasi AI tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga pada dukungan organisasi. Dalam konteks ini, Strategic Human Resource Management (SHRM) memainkan peran penting dalam mengatur pelatihan, sistem evaluasi kerja, serta norma etika yang memungkinkan kolaborasi manusia dan AI berjalan secara seimbang.
Secara keseluruhan, penelitian ini menyimpulkan bahwa AI tidak menggantikan kreativitas manusia, melainkan mengubah cara kreativitas itu diproduksi, didistribusikan, dan dipahami dalam sistem kerja modern. Kreativitas di era AI menjadi hasil interaksi antara kemampuan manusia, teknologi algoritmik, dan struktur organisasi yang mengatur keduanya.
Penulis: Prof. Dr. Fendy Suhariadi, Drs., M.T.
Link:





