Sektor pertanian seringkali dianggap sebagai sektor yang kurang strategis padahal sebenarnya sektor ini merupakan sektor krusial terutama saat terjadinya krisis. Misalnya saja, ketika sektor perekonomian seperti industri manufaktur dan pariwisata melemah di tengah pandemi COVID-19 melanda hampir semua negara, sektor pertanian justru tumbuh sekitar 2,2% di Indonesia dan 3,5% di India. Selain itu, seiring bertambahnya populasi dunia, risiko kekurangan pangan dan kelaparan juga meningkat. Sektor pertanian merupakan sektor yang krusial dalam menjaga ketersediaan pangan, sehingga produktivitas dan kinerjanya perlu ditingkatkan dan mendapatkan perhatian khusus.
Pertanian juga menjadi sektor strategis di negara-negara berkembang termasuk Indonesia. Di Indonesia, sektor pertanian memberikan kontribusi sebesar 9,85% dari total Produk Domestik Bruto (PDB) pada tahun 2021 dan menyerap sekitar 29,96% tenaga kerja. Meskipun demikian, kinerja sektor pertanian di Indonesia belum mencapai tingkat yang optimal. Contohnya, pada subsektor pangan jagung, produksi jagung Indonesia termasuk sepuluh terbesar di dunia, namun dibandingkan dengan negara produsen jagung lainnya, produktivitasnya relatif rendah. Data statistik menunjukkan bahwa rata-rata produktivitas jagung Indonesia pada tahun 2008 hingga 2018 adalah 2,81 ton per hektar, lebih rendah dibandingkan Thailand (4,28 ton/ha), Brazil (4,85 ton/ha), dan China (5,76 ton/ha). Rendahnya produktivitas pertanian ini perlu ditingkatkan agar Indonesia bisa lebih kompetitif di pasar global.
Pemerintah Indonesia telah melakukan upaya untuk meningkatkan produktivitas di sektor pertanian melalui program kredit bersubsidi yang disebut Kredit Usaha Rakyat (KUR). Kebijakan ini adalah langkah yang tepat, karena program serupa telah terbukti efektif secara empiris membantu petani meningkatkan produktivitas pertaniannya di beberapa negara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan memperoleh kredit akan meningkatkan produktivitas pertanian dan efisiensi teknis karena membantu rumah tangga petani memperoleh teknologi yang lebih canggih termasuk memperoleh input produksi seperti benih unggul. Kredit ini juga memungkinkan petani untuk berinvestasi dalam peningkatan produktivitas jangka Panjang seperti irigasi yang lebih baik, perawatan lahan, dan perlindungan tanaman.
Nilai realisasi KUR untuk sektor pertanian terus meningkat setiap tahunnya. Misalnya saja dari 24% pada tahun 2016 menjadi 28% pada tahun 2020. Namun, jangkauan program ini sangat rendah sehingga hanya sedikit petani yang dapat menikmatinya. Sebaliknya, akses KUR justru dinikmati secara signifikan oleh sektor perdagangan dan ritel. Bank Dunia menemukan bahwa hanya 1.3 juta dari 33 juta petani di Indonesia menerima KUR. Hal ini menunjukkan sulitnya memperoleh pinjaman dari lembaga Keuangan formal. Akses yang terbatas ini memaksa petani untuk memperoleh pinjaman dari sumber informal, seperti teman, saudara, penyedia input produksi, dan pengepul.
Akses kredit informal memang memiliki beberapa keunggulan dibandingkan akses kredit formal. Misalnya, ia memiliki suku bunga rendah atau bahkan tanpa suku bunga, syarat dan ketentuan pinjaman yang sederhana dan fleksible, dan tidak memerlukan agunan. Namun demikian, akses kredit informal ini juga memiliki kelemahan bagi peminjam, seperti kurangnya perlindungan hukum, rentan terhadap praktik kredit eksploitatif, dan terbatasnya jumlah pinjaman.
Penelitian ini dilakukan untuk melihat bagaimana dampak dari akses kredit terhadap produktifitas dan efisiensi teknis produksi komoditas jagung dengan mempertimbangkan sumber kredit berasal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa akses terhadap kredit secara umum dapat meningkatkan produktifitas dan efisiensi teknis produksi Jagung di Indonesia. Namun demikian, pemberian akses kredit melalui skema formal dapat meningkatkan produktifitas dan efisiensi teknis produksi jagung yang lebih tinggi dibandingkan dengan kredit informal. Konsekuensinya, perluasan akses kredit menjadi pilihan kebijakan yang masih tetap relevan untuk sektor pertanian. Secara lebih spesifik, pemerintah perlu mendorong perluasan akses kredit formal kepada para petani guna meningkatkan target peningkatan produktiftas pertanian.
Penulis: Tri Haryanto, Drs.Ec., M.P., Ph.D
Jurnal: Impact of credit access on farm performance: Does source of credit matter?





