51动漫

51动漫 Official Website

Dampak Literasi Media terhadap Perilaku Penyebaran Fake News di Instagram

Penyebaran berita palsu (fake news) di instagram masih menjadi permasalahan yang perlu ditemukan solusinya.             Kasus mengenai fake news di Indonesia terjadi cukup banyak, bahkan pada tahun 2021 Kementerian Kominfo telah memutus akses terhadap 565.449 konten negatif.  Berdasarkan survei yang dilakukan oleh populix (2022), mayoritas pengguna media sosial saat ini adalah remaja, dimana sebanyak 62% dari pengguna merupakan remaja dengan rentang usia 18 – 25 tahun yaitu pada jenjang pendidikan SMA dan  perguruan tinggi. Remaja termasuk generasi yang rentan terpapar fake news karena remaja tidak terlepas dari interaksi mereka dengan media sosial, sehingga dibutuhkan literasi media untuk melindungi  mereka. Kemampuan literasi media yang dimiliki oleh remaja tentu berdampak pada perilaku mereka dalam menyebaran fake news. Seperti yang disampaikan oleh Wisnuhardana sebagai Head of Social Media Management Center dari kantor staf presiden RI, bahwa remaja rentan menjadi korban dan pelaku penyebaran fake news di media sosial karena mereka  masih emosional dan mudah percaya dengan berita yang ada di media sosial. Wisnu berpendapat bahwa sebaiknya remaja apabila menemukan berita di media, cek dahulu kebenarannya dengan membaca sumbernya (Kompas.com, 2017).

Media sosial merupakan salah satu media yang banyak beredar fake news didalamnya. Hal ini tidak terlepas dari fitur-fitur yang ada di media sosial yang memudahkan pengguna untuk menghasilkan konten. Kemudahan ini memungkinkan semua pengguna untuk menjadi pencipta konten, bahkan yang tidak memenuhi  kualifikasi sekalipun. Akibatnya, konten yang beredar juga tidak semuanya memenuhi standar penulisan. Hal ini juga berdampak pada jumlah konten yang beredar, menjadi sangat banyak dan sulit dideteksi kebenarannya. Hal ini membuat banyak orang merasa kewalahan dengan informasi dan berita yang mereka temukan di media (Allcott & Gentzkow, 2017).

Kasus yang terjadi di bulan Maret tahun 2018 menjadi  peringatan bagi masyarakat jika fake news adalah salah satu kasus yang bisa ditindaklanjuti secara hukum. Sebagai contoh, seorang pelajar berusia 18 tahun ditangkap oleh Satuan Reskrim Polres Sukabumi Kota karena menyebarkan fake news dan ujaran kebencian mengenai penyerangan terhadap seorang ulama. pelajar tersebut dijerat Pasal 28 ayat 2, Pasal 45a Ayat 2 UU RI nomor 19 tentang informasi dan transaksi elektronik dengan ancaman hukuman 6 tahun penjara dan denda maksimal satu miliar rupiah. Pada tahun yang sama, November 2018 seorang siswa SMA kelas 12 di Gorontalo dijemput oleh Tim Cyber Ditreskrimsus Polda Gorontalo karena dilaporkan telah menyebarkan fake news mengenai jatuhnya pesawat Lion Air Jt 610 melalui akun Facebook miliknya. Siswa kelas 12 SMA tersebut mengaku jika dia menyebarkan informasi tersebut tanpa mengecek kebenarannya terlebih dahulu. (DetikNews, 2018).

Berdasarkan hasil penyelidikan yang dilakukan oleh jajaran Ditreskrimsus Polda Metro Jaya pada Mei 2020, menyebutkan media Instagram menempati urutan pertama media sosial yang sering digunakan untuk menyebarkan fake news dan hate speech. Komisaris Besar Yusri Yunus, Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya menyatakan jika sebagian besar orang yang menyebarkan fake news dan hate speech menggunakan akun palsu ataupun menggunakan nama orang lain. Hingga tahun 2020, terdapat 179 akun instagram yang telah dilaporkan dan diblokir (Tribun News, 2020).

Perilaku penyebaran fake news di instagram berkaitan dengan tanggapan individu ketika berhadapan dengan fake news, dimana tanggapan ini beragam karena dipengaruhi oleh personal factors dan lingkungan. Teori yang digunakan untuk mengkaji perilaku penyebaran fake news di instagram dalam penelitian ini adalah teori pembelajaran sosial (Social Learning Theory) milik Albert Bandura (1977). Teori tersebut menekankan pada interaksi timbal balik antara faktor pribadi, perilaku dan lingkungan. Perilaku merupakan gabungan dari faktor internal (personal factors) dan faktor eksternal (lingkungan). Tanggapan seseorang terhadap fake news tentu beragam, ada yang mengabaikan,  memilih mencari tahu terlebih dahulu, ada yang langsung percaya dan asal menyebarkannya, namun ada pula yang mendiskusikannya dengan orang lain. Hal ini dipengaruhi oleh faktor-faktor yang telah disebutkan diatas. 

 Salah satu upaya untuk melindungi diri dari paparan negatif media, khususnya fake news adalah dengan literasi media. Literasi Media membantu individu untuk membedakan berita yang benar dan fake news. Literasi Media dipergunakan sebagai perspektif untuk memproses dan mengartikan sebuah pesan dari media. semakin banyak perspektif yang dimiliki oleh seseorang mengenai literasi media, semakin baik pula pemahamannya mengenai literasi media. Literasi media yang terdiri atas Skill (Keterampilan),  Knowledge Structure (Struktur Pengetahuan) dan juga Personal Locus  dapat meningkatkan kemampuan seseorang dalam mengontrol pesan media yang diterimanya (Potter, 2018). Ketiga hal tersebut akan berkombinasi dan membangun perspektif individu mengenai media. Skill (Keterampilan) yang dimiliki individu merupakan alat yang digunakan untuk membangun struktur pengetahuan. Struktur pengetahuan merupakan kumpulan informasi yang telah terorganisir dalam memori individu, sedangkan personal lokus merupakan elemen  yang diperlukan untuk membangun struktur pengetahuan selain skill.

Penelitian ini menggunakan pendekatan Kuantitatif Eksplanatif dengan total populasi sebesar 100 siswa. Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah Multistage Random Sampling. Penelitian ini dilakukan di 5 SMA Negeri yang ada di Surabaya, dimana 5 SMA yang terpilih merupakan perwakilan setiap wilayah yang ada di Surabaya. Lima SMA yang terpilih secara random adalah SMAN 3 Surabaya, SMAN 5 Surabaya, SMAN 11 Surabaya, SMAN 15 Surabaya dan SMAN 16 Surabaya. Sedangkan untuk jumlah sampel setiap SMAN, diperoleh menggunakan teknik systematic random sampling. Berdasarkan hasil perhitungan, diperoleh hasil yaitu 21 responden untuk SMAN 3 Surabaya, 18 responden untuk SMAN 5 Surabaya, 19 responden untuk SMAN 11 Surabaya, 22 responden untuk SMAN 15 Surabaya dan 20 responden untuk SMAN 16 Surabaya. Teknik pengumpulan data yang digunakan peneliti dalam penelitian ini adalah Kuesioner dan Studi Pustaka. Sedangkan untuk pengukuran variabel dilakukan dengan penghitungan menggunakan skala likert.

Penelitian ini berfokus pada kemampuan Literasi Media  yang dimiliki siswa untuk membuat, mengakses dan menganalisa informasi yang ada dalam media instagram.  Semakin  tinggi literasi media yang dimiliki oleh siswa maka semakin kritis sikap dan tanggapannya saat berhadapan dengan media tertentu. Menurut Potter (2018) terdapat 7 kemampuan yang termasuk dalam Literasi Media yaitu Analysis (Analisis), Evaluation (Evaluasi), Grouping (Pengelompokan), Induction (Induksi), Deduction (Deduksi), Synthesis (Sintesis) dan Abstraction (Abstraksi). Berdasarkan pengolahan data yang telah dilakukan dalam penelitian ini  dapat diketahui bahwa kemampuan remaja yang memiliki rata-rata sangat tinggi adalah Induction (induksi) yaitu kemampuan seseorang untuk membuat kesimpulan berdasarkan informasi yang spesifik. Kemampuan induksi siswa SMAN di Surabaya ada pada kategori sangat tinggi yaitu 4,36. Hal ini berarti siswa mampu menggeneralisasikan informasi dari berita yang mereka terima di Instagram. Kemampuan literasi media yang lainnya ada pada kategori sedang dan tinggi. Kemampuan literasi media yang ada pada kategori tinggi adalah kemampuan Grouping (pengelompokan), Deduction (Deduksi), Synthesis (Sintesis) dan Abstraction (Abstraksi). Sedangkan kemampuan yang termasuk dalam kategori sedang adalah kemampuan Analysis (Analisis) dan Evaluation (Evaluasi). Sementara secara umum hasil penelitian mengenai literasi media pada siswa SMA Negeri di Surabaya ini, diperoleh nilai rata-rata sebesar 3,50. Hal ini berarti kemampuan literasi media yang dimiliki oleh siswa SMA Negeri di Surabaya berada pada kategori tinggi.

Penulis: Adellia Agissa, Fitri Mutia

Jurnal: Media literacy: students’ ability to respond to fake news on Instagram

AKSES CEPAT