Penggunaan energi terbarukan semakin menjadi perhatian bagi banyak negara akibat masalah lingkungan. Salah satu sumber energi terbarukan yang banyak digunakan saat ini adalah energi surya yang dianggap sebagai alternatif untuk meminimalkan emisi gas rumah kaca. Konversi energi surya ke energi listrik terjadi melalui tiga jenis teknologi utama, yaitu photovoltaic (PV), solar thermal, dan concentrating solar power (CSP). Di antara ketiga teknologi tersebut, PV merupakan teknologi yang paling berkembang pesat dan banyak digunakan.
Di Indonesia, pemanfaatan teknologi PV terus meningkat, khususnya pada penggunaan PV rooftop. Indonesia saat ini mengimpor komponen PV seperti sel surya dari luar negeri. Sebagian besar sel PV diimpor dari negara-negara berpenghasilan tinggi. Negara- negara tersebut mempunyai perbedaan pendapatan per kapita yang cukup besar dengan Indonesia. Menurut beberapa penelitian, perbedaan pendapatan per kapita antar negara dapat menjadi salah satu faktor yang dapat mempengaruhi pola perdagangan. Faktor lain yang dapat mempengaruhi perdagangan adalah nilai tukar.
Berdasarkan latar belakang tersebut, Nasiha Sajida, Shochrul Rohmatul Ajija, Fajar Nurrohman Haryadi, dan Dzikri Firmansyah Hakam melakukan sebuah penelitian mengenai pengaruh perbedaan PDB per kapita Indonesia dengan negara mitra dagang serta nilai tukar riil terhadap impor photovoltaic cells Indonesia dari 13 negara utama. Hasil penelitian ini dipublikasikan pada Jurnal Iranian Economic Review yang terindeks Scopus pada Volume 27 No. 4. Penelitian ini menggunakan metode Panel Vector Error Correction Model (PVECM) Hasil estimasi PVECM digunakan untuk melihat dampak perbedaan PDB per kapita serta nilai tukar riil terhadap impor photovoltaic cells dalam jangka pendek dan jangka panjang. Sementara itu, analisis impulse response function dan panel variance decomposition yang dihasilkan dari metode PVECM digunakan untuk melihat respon impor terhadap shock variabel independent tersebut.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam jangka pendek, hanya variabel impor (lag 1) dan nilai tukar riil (lag 3) yang mempengaruhi impor photovoltaic cells Indonesia secara signifikan. Variabel impor pada lag 1 berpengaruh negative terhadap impor. Sedangkan, nilai tukar riil pada lag 3 berpengaruh positif terhadap impor. Koefisien ECT yang bernilai negatif dan signifikan sudah sesuai dengan teori. Hal tersebut mengindikasikan bahwa terdapat proses penyesuaian dari jangka pendek menuju jangka panjang. Koefisien ECT bernilai negatif memiliki arti bahwa saat terjadi ketidakseimbangan dalam jangka pendek, impor akan cenderung turun untuk merespon ketidakseimbangan tersebut.
Sementara itu, hasil estimasi PVECM jangka panjang menunjukkan bahwa variable perbedaan PDB per kapita serta nilai tukar riil secara signifikan mempengaruhi impor photovoltaic cells Indonesia. Variabel perbedaan PDB per kapita memiliki pengaruh negatif terhadap impor photovoltaic cells Indonesia, sedangkan variabel nilai tukar riil berpengaruh positif terhadap impor photovoltaic cells Indonesia.
Analisis IRF bertujuan untuk melihat dampak shock sebesar satu standard deviasi dari sebuah variabel terhadap variabel lain. Variabel impor selalu memberikan respon positif terhadap shock dirinya sendiri serta perbedaan PDB per kapita. Impor mulai merespon shock perbedaan PDB per kapita dengan tren positif pada periode 2. Pada periode 4, respon impor terhadap perbedaan PDB per kapita menurun, namun tetap dalam tren positif. Respon impor terhadap shock perbedan per kapita meningkat kembali dan mulai bergerak stabil pada periode 5. Sementara itu, impor memberikan respon negative terhadap shock nilai tukar riil pada periode 2 hingga periode 3. Pada periode 4 hingga 6, impor memberi respon positif terhadap shock nilai tukar riil. Respon impor terhadap shock nilai tukar riil mulai menurun dan bergerak stabil pada periode 7.
Hasil variance decomposition menunjukkan bahwa variabel yang memberikan kontribusi terbesar dalam mempengaruhi variabel impor adalah variabel impor sendiri, yaitu sebesar 100% pada periode 1. Kontribusi variabel impor terus menurun hingga periode-periode selanjutnya, namun tetap mendominasi. Variabel selanjutnya yang berkontribusi dalam mempengaruhi impor adalah perbedaan PDB per kapita. Sementara itu, nilai tukar riil memberikan kontribusi terkecil terhadap impor photovoltaic cells.
Penulis: Nasiha Sajida, Shochrul Rohmatul Ajija, Fajar Nurrohman Haryadi, dan Dzikri Firmansyah Hakam
Link Jurnal:





